liputan08.com Jakarta – Jaksa Penuntut Umum (JPU) Andi Setyawan mengungkap sejumlah fakta penting usai sidang pemeriksaan saksi dalam perkara dugaan tindak pidana korupsi tata kelola minyak PT Pertamina, yang digelar di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Senin (6/4/2026).
Dalam persidangan tersebut, JPU menghadirkan saksi kunci, yakni mantan Direktur Utama PT Pertamina periode 2018–2023, Nicke Widyawati, untuk memberikan keterangan terhadap delapan terdakwa, di antaranya Dwi Sudarsono, Hasto Wibowo, Martin Haendra Nata, Arief Sukmara, Indra Putra, Hanung Budya Yuktyanta, Alfian Nasution, dan Toto Nugroho.
Dalam keterangannya, Nicke Widyawati menjelaskan secara umum terkait tata kelola minyak di lingkungan Pertamina, termasuk pemahamannya terhadap Peraturan Menteri ESDM Nomor 42 Tahun 2018 yang mengatur kewajiban prioritas penggunaan minyak mentah domestik sebelum melakukan impor.
JPU Andi Setyawan menyampaikan bahwa fakta persidangan mengungkap adanya usulan dari internal Pertamina pada tahun 2021 terkait dugaan kelebihan (ekses) minyak mentah bagian negara atau bagian BUKO. Namun, berdasarkan hasil rapat optimasi terakhir pada Desember 2021, justru tidak ditemukan adanya kelebihan tersebut.
“Berdasarkan hasil rapat optimasi terakhir, tidak terdapat ekses minyak mentah sebagaimana yang diusulkan sebelumnya, sehingga pada akhirnya minyak tersebut tetap diekspor ke luar negeri,” ujar Andi Setyawan kepada awak media.
Selain itu, persidangan juga menyoroti persoalan kompensasi bahan bakar minyak (BBM) jenis RON 90. Dalam fakta yang terungkap di persidangan, terdapat usulan dari salah satu terdakwa untuk menggunakan formula Pertalite dalam perhitungan kompensasi BBM umum.
“Dalam persidangan terungkap adanya penggunaan formula Pertalite untuk perhitungan kompensasi RON 90 tanpa evaluasi yang mendalam, sehingga berpotensi menimbulkan kemahalan dalam pembayaran kompensasi,” jelasnya.
Lebih lanjut, terkait persoalan sewa OTM (Oil Tanker Management), Nicke Widyawati memberikan klarifikasi bahwa dirinya hanya melanjutkan kontrak-kontrak yang telah berjalan sebelumnya saat menjabat sebagai Direktur Utama.
JPU menilai, keterangan yang disampaikan oleh Nicke Widyawati memiliki peran penting dalam memperkuat konstruksi dakwaan terhadap para terdakwa.
“Keterangan saksi Nicke Widyawati sangat relevan dan memperkuat pembuktian, serta selaras dengan konstruksi dakwaan yang telah disusun oleh tim penuntut umum,” tegas Andi Setyawan.
Sidang perkara ini masih akan berlanjut dengan agenda pemeriksaan saksi-saksi lainnya guna mengungkap secara menyeluruh dugaan praktik korupsi dalam tata kelola minyak di PT Pertamina.
Sementara itu, Kepala Pusat Penerangan Hukum Kejaksaan Agung, Anang Supriatna, melalui keterangan resminya menyatakan bahwa pihaknya akan terus mengawal proses persidangan secara transparan dan profesional.
“Kami memastikan setiap proses penegakan hukum berjalan secara transparan, akuntabel, dan sesuai dengan ketentuan perundang-undangan yang berlaku,” ujarnya.
Tags: Eks Dirut Pertamina, Nicke Widyawati
Baca Juga
-
04 Feb 2026
Dugaan Kongkalikong Mitra MBG: Harga Bahan Pangan Dimark Up, Peralatan Dapur Tak Layak
-
03 Mei 2026
Diduga Alihkan Sertifikat Tanpa Izin, Pelaku Terancam Pidana dan Rumah Korban Nyaris Dilelang
-
22 Okt 2025
Dr. Dian Assafri Nasa’i Apresiasi Keberanian Presiden Prabowo Turunkan Harga Pupuk: Bukti Pemerintah Hadir untuk Kesejahteraan Petani
-
21 Apr 2026
Jaksa Agung Tegas: Dana Desa Tak Boleh Disalahgunakan, Jaga Desa Jadi Benteng Utama!
-
08 Sep 2025
Karyawan Anak Perusahaan Astra Diperiksa Kejaksaan Terkait Dugaan Korupsi Proyek Digitalisasi Pendidikan Kemendikbudristek
-
19 Agu 2025
Kriminalisasi Ibu Menyusui? Wilson Lalengke Soroti Kejanggalan Penahanan Rina Rismala oleh Polres Jakpus
Rekomendasi lainnya
-
05 Jun 2026
KPK Bongkar Skema Pemerasan WNA di Imigrasi, Diduga Mengalir dari Daerah hingga Pusat
-
10 Jul 2026
Atensi Presiden, Polri Perluas Penyidikan Dugaan Korupsi PLN, ASABRI, dan Krakatau Steel
-
25 Jul 2025
Ketua Umum PWI Pusat Murka: Surat Pemberitahuan Kongres PWI Disebut Ilegal dan Memicu Kegaduhan
-
21 Okt 2025
Kasus Digitalisasi Pendidikan: Suasana Panas-Dingin di Kejagung, 10 Saksi Diperiksa — Skandal yang Makin Ngeri Terkuak!
-
29 Apr 2026
Tikus Koruptor Sumsel Berguguran! 5 Tersangka Dibekuk, Uang Negara Rp3,9 Miliar Disikat
-
06 Sep 2025
AKP Syamsul Bahri, S.H.: Figur Heroik dalam Misi Pengamanan Strategis Gedung DPR/MPR RI di Tengah Krisis Sosial



