liputan08.com Jakarta, 2 Juni 2026 – Ketua Umum Perkumpulan Mahasiswa Peduli Hukum, Ali Wardana, menilai kritik sebagian pihak terhadap kunjungan kerja Presiden Prabowo Subianto ke berbagai negara sahabat menunjukkan cara pandang yang terlalu sempit dalam memahami tugas dan fungsi kepala negara di era diplomasi global.
Menurut Ali Wardana, kunjungan luar negeri yang dilakukan Presiden bukan sekadar perjalanan seremonial, melainkan bagian dari strategi negara dalam memperkuat hubungan diplomatik, memperluas kerja sama ekonomi, menarik investasi, meningkatkan perdagangan, serta memperkuat posisi Indonesia dalam percaturan internasional.
“Hidup sederhana boleh, tetapi berpikir sederhana terhadap persoalan bangsa dan hubungan antarnegara justru berbahaya. Negara tidak bisa dikelola dengan cara pandang yang sempit. Diplomasi adalah instrumen penting untuk menjaga kepentingan nasional,” tegas Ali Wardana kepada wartawan di Jakarta, Selasa (2/6/2026).
Ia menyayangkan munculnya berbagai kritik yang hanya berfokus pada frekuensi perjalanan Presiden ke luar negeri tanpa melihat substansi dan manfaat strategis yang dihasilkan bagi Indonesia. Menurutnya, sebagian pengamat dan kritikus sering kali terjebak pada narasi populis tanpa melakukan kajian mendalam mengenai dampak diplomasi internasional terhadap pembangunan nasional.
“Jangan sampai kritik yang disampaikan hanya didasarkan pada asumsi dan sentimen politik sesaat. Dalam dunia modern, seorang presiden tidak cukup hanya bekerja dari dalam negeri. Ia harus hadir di forum internasional, membangun kepercayaan dunia, membuka akses pasar, memperkuat investasi, dan memperjuangkan kepentingan rakyat Indonesia di tingkat global,” ujarnya.
Ali menegaskan bahwa hampir seluruh kepala negara di dunia melakukan diplomasi luar negeri sebagai bagian dari tugas konstitusionalnya. Oleh karena itu, menilai perjalanan Presiden semata-mata sebagai pemborosan anggaran merupakan pandangan yang tidak mencerminkan pemahaman utuh mengenai tata kelola pemerintahan modern.
Menurutnya, keberhasilan diplomasi sering kali tidak dapat diukur secara instan karena manfaatnya baru terlihat dalam jangka menengah dan panjang, seperti masuknya investasi, terbukanya lapangan kerja, meningkatnya ekspor, hingga menguatnya posisi tawar Indonesia dalam berbagai isu strategis internasional.
“Kita membutuhkan kritik yang konstruktif, berbasis data, dan berorientasi pada kepentingan bangsa. Kritik tentu penting dalam demokrasi, tetapi kritik yang mengabaikan fakta dan konteks justru berpotensi menyesatkan opini publik,” katanya.
Ali Wardana juga mengingatkan bahwa di tengah persaingan global yang semakin ketat, Indonesia membutuhkan kepemimpinan yang aktif membangun jejaring internasional. Menurutnya, hubungan bilateral maupun multilateral yang dibangun Presiden dapat menjadi modal penting dalam mendorong pertumbuhan ekonomi nasional dan menjaga stabilitas kawasan.
“Presiden sedang menjalankan tugas negara, bukan sekadar melakukan perjalanan. Masyarakat harus mampu membedakan antara agenda diplomasi kenegaraan dengan kepentingan politik praktis. Jika kita ingin Indonesia maju, maka cara berpikir kita juga harus maju dan berwawasan global,” pungkasnya.
Ia menutup pernyataannya dengan mengajak seluruh elemen masyarakat untuk melihat setiap kebijakan negara secara objektif dan proporsional.
“Hidup sederhana adalah sebuah kebajikan. Namun berpikir terlalu sederhana terhadap persoalan geopolitik, diplomasi, dan kepentingan nasional adalah kemewahan yang tidak boleh dimiliki bangsa yang ingin maju,” tandas Ali Wardana.
Tags: Ali Wardana
Baca Juga
-
17 Sep 2025
Bupati Bogor Rudy Susmanto Hadiri Indonesia International Geothermal Convention and Exhibition 2025 untuk Dukung Pengembangan Energi Panas Bumi Berkelanjutan
-
19 Nov 2025
Pemkot Bogor Raih Peringkat Kedua Nasional Pengelolaan ASN di BKN Award 2025
-
02 Feb 2026
Dewan Pers Sosialisasikan Pendataan Media Massa pada HPN 2026 di Banten
-
20 Okt 2025
Pangdam XXIII/Palaka Wira Mayjen TNI Jonathan Binsar Teguhkan Sinergi Ulama dan TNI Lewat Haul dan Maulid Akbar di Sulteng
-
12 Des 2025
Jaksa Agung ST Burhanuddin Raih Penghargaan “Excellence in Upholding Justice & Public Trust” di CNBC Indonesia CGC Awards 2025
-
24 Nov 2025
PPI Kukuhkan Pengurus dan Luncurkan LBH-PPI: Perluas Akses Keadilan bagi Pensiunan dan Masyarakat
Rekomendasi lainnya
-
11 Okt 2025
Misi di PBB Tuntas, Wilson Lalengke Bertolak dari New York Kembali ke Jakarta Hari Ini
-
05 Des 2025
Mangkir terhadap Panggilan Pengadilan, Paspampres Harus Ditarik dari Kesatuan Pengawal Jokowi
-
16 Sep 2025
Tiga Tersangka Kasus Korupsi Kredit PT Sritex Diserahkan ke Kejari Surakarta
-
31 Okt 2025
Admin e-Katalog Pendidikan Diperiksa Kejagung, Terkuak Peran Swasta dalam Dugaan Korupsi Digitalisasi Sekolah
-
02 Nov 2025
Pidato Wilson Lalengke, Momentum Meningkatkan Peran PBB Atas Krisis Kemanusiaan Global
-
09 Feb 2026
Nazirwan Yahu: Dari Sungai Penuh ke Pusat Industri Konstruksi Nasional, Konsistensi yang Menyalakan Perusahaan


