liputan08.com JAKARTA — Politisi DPP Partai Golkar, Dr. Dian Assafri Nasa’i, SH, MH, menyambut dengan penuh rasa syukur dan kebanggaan atas keputusan pemerintah yang menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada Presiden ke-2 Republik Indonesia, HM Soeharto.
Menurutnya, keputusan ini bukan hanya bentuk penghormatan negara terhadap sosok pemimpin besar, tetapi juga menjadi titik balik dalam pelurusan sejarah bangsa.
Dalam pernyataannya di Gedung DPP Partai Golkar, Jakarta, Senin (10/11/2025), Dr. Dian menegaskan bahwa pengakuan terhadap jasa HM Soeharto merupakan langkah penting untuk menempatkan sejarah secara objektif, adil, dan proporsional.
“Dengan diberikan gelar Pahlawan Nasional kepada Bapak HM Soeharto dan tokoh-tokoh lainnya, ini menjadi titik balik sejarah bangsa. Apa yang selama ini distigma sebagai produk Orde Baru yang dianggap jelek dan salah, kini harus dilihat kembali secara jernih dan adil. Mulai tanggal 10 November ini, sejarah itu harus diluruskan,” ujar Dr. Dian Assafri Nasa’i, di hadapan sejumlah awak media.
Lebih lanjut, Dian menjelaskan bahwa HM Soeharto telah memberikan warisan besar bagi pembangunan bangsa, baik dalam bidang ekonomi, sosial, maupun spiritual. Salah satu kebijakan yang sangat monumental, kata Dian, adalah pemotongan gaji Aparatur Sipil Negara (ASN) untuk pembangunan rumah ibadah melalui Yayasan Amal Bhakti Muslim Pancasila (YABMP).
“Kebijakan tersebut bukan semata kebijakan administratif, melainkan wujud nyata dari nilai-nilai keislaman dan gotong royong yang menjadi karakter bangsa Indonesia. Melalui Yayasan Amal Bhakti Muslim Pancasila, Pak Harto berhasil mensinergikan umaro (pemerintah), ulama, dan umat sebagai tiga pilar utama pembangunan nasional,” ungkapnya.
Dian juga menegaskan bahwa kepemimpinan HM Soeharto telah menghadirkan keseimbangan antara iman dan pembangunan, antara stabilitas politik dan pertumbuhan ekonomi, yang hingga kini masih menjadi fondasi utama dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
“Pak Harto bukan hanya seorang pemimpin yang membangun infrastruktur dan ekonomi, tetapi juga seorang negarawan yang memahami pentingnya pembangunan moral dan spiritual bangsa. Sinergi antara kekuatan spiritual dan pembangunan inilah yang menjadi warisan paling berharga dari beliau,” tegas Dian.
Menurutnya, langkah pemerintah menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada HM Soeharto menandakan bahwa bangsa Indonesia semakin dewasa dalam memandang sejarah, tidak lagi terjebak dalam dikotomi politik masa lalu.
“Ini adalah bentuk rekonsiliasi sejarah nasional, di mana bangsa ini berani mengakui jasa-jasa pemimpinnya tanpa menutup mata terhadap kekurangannya. Sebab sejarah bukan untuk dihakimi, tapi untuk dipelajari dan dijadikan pelajaran,” tutup Dr. Dian Assafri Nasa’i, yang juga dikenal sebagai akademisi dan pengamat politik nasional.
Tags: Dr. Dian Assafri Nasa'i
Baca Juga
-
04 Des 2025
Ketika Rumah Saya Diteror: Harapan untuk Polri yang Lebih Transparan dan Melindungi Jurnalis
-
30 Jan 2026
Eksepsi Jekson Sihombing Ditolak, Wilson Lalengke: Hakimnya Masuk Angin
-
16 Des 2025
Kejaksaan dan Polri Perkuat Sinergitas Sambut KUHP dan KUHAP Baru 2026
-
29 Apr 2026
Eks Gubernur Lampung Arinal Djunaidi Jadi Tersangka! Skandal Dana Rp271 Miliar Terkuak dari Sidang
-
25 Jul 2025
Tegas Berantas Kejahatan, Kejari Jakpus Musnahkan 696 Butir Ekstasi dan Senjata Ilegal
-
22 Agu 2025
Duet Akhmad Munir & Atal Depari Resmi Daftar Caketum dan Calon Ketua DK PWI Pusat 2025-2030, Siap Satukan PWI yang Terpecah
Rekomendasi lainnya
-
27 Jan 2026
Tikus Koruptor Chromebook Menggerogoti Pendidikan Nasional, Sistem Sekolah Dibuat Runtuh dari Dalam
-
13 Nov 2025
Tim Tabur Kejati Kepri Berhasil Tangkap Buronan Kasus Korupsi Proyek Jembatan di Kabupaten Bintan
-
21 Jul 2025
Decan Bebaskan Lahan Pemakaman Umum di Rumpin
-
02 Feb 2026
Dewan Pers Sosialisasikan Pendataan Media Massa pada HPN 2026 di Banten
-
11 Sep 2026
Heboh Skandal Penipuan Emas Ilegal Rp58,5 Miliar, Perwira Menengah Bareskrim Polri Dilaporkan ke SPKT
-
03 Feb 2026
Bongkar Praktik Pengadaan dan Blending BBM, Tikus Koruptor di Tubuh Pertamina Mulai Terkuak di Sidang Tipikor






