Liputan08.com — Sidang lanjutan perkara dugaan tindak pidana korupsi pengadaan satelit slot orbit 123° BT di Kementerian Pertahanan (Kemhan) yang melibatkan PT Navayo International AG kembali mengungkap sejumlah fakta krusial. Dalam persidangan yang digelar di Pengadilan Militer Tinggi II Jakarta, Selasa (5/5/2026), terungkap bahwa proyek tetap berjalan meski anggaran belum tersedia dan dokumen pendukung tidak lengkap.
Hingga saat ini, persidangan telah berlangsung tujuh kali dengan menghadirkan delapan saksi dari unsur pejabat tinggi militer hingga pegawai negeri sipil di lingkungan Kemhan.
Salah satu fakta penting yang mencuat adalah penandatanganan kontrak pengadaan satelit pada 2015, padahal saat itu belum tersedia anggaran dalam DIPA. Bahkan ketika anggaran sempat dialokasikan pada 2016, dana tersebut diblokir karena tidak dilengkapi kajian, proses bisnis, serta review dari BPKP.
Meski mengetahui anggaran diblokir, kontrak lanjutan tetap dilakukan dengan pihak Navayo senilai puluhan juta dolar AS. “Penandatanganan kontrak dilakukan tanpa mengacu pada ketentuan pengadaan barang dan jasa yang berlaku,” demikian terungkap dalam fakta persidangan.
Dalam sidang, mantan Dirjen Perencanaan Pertahanan Kemhan, Marsdya TNI (Purn) M. Syaugi, menegaskan bahwa pemblokiran anggaran bukan karena proyek tidak prioritas, melainkan akibat minimnya data dukung. “Anggaran sebenarnya bisa digunakan jika data pendukung dilengkapi, namun hal itu tidak dipenuhi hingga berujung masalah hukum,” ujarnya.
Sementara itu, saksi lain, Mayjen TNI (Purn) Bambang Hartawan, mengungkap proyek tersebut tidak lazim karena tidak disertai studi kelayakan. “Proyek ini tidak seperti pengadaan pada umumnya, karena tidak didahului feasibility study,” katanya.
Fakta lain yang mengemuka, pihak Navayo tetap mengirimkan 54 item barang meski anggaran belum jelas. Namun, barang-barang tersebut tidak dapat dipastikan fungsi maupun kelayakannya karena tidak dilakukan uji teknis. Bahkan tim penerima barang mengaku tidak memiliki dokumen lengkap dan tidak didampingi tenaga ahli saat pemeriksaan.
“Pemeriksaan hanya mencocokkan data pengiriman, kami tidak tahu apakah itu benar peralatan satelit atau tidak,” ungkap Pranyoto, anggota tim penerima barang.
Akibat permasalahan tersebut, pihak Navayo menggugat pemerintah Indonesia melalui arbitrase internasional di Singapura. Putusan arbitrase mewajibkan Indonesia membayar sekitar USD 21,38 juta atau setara lebih dari Rp306 miliar.
Perkara ini ditangani oleh tim gabungan Jaksa Penuntut Umum dari Jaksa Agung Muda Bidang Pidana Militer dan Oditur Militer, yang terus mendalami peran para pihak dalam proyek pengadaan satelit tersebut.
Sidang lanjutan diharapkan dapat mengungkap lebih dalam alur kebijakan dan tanggung jawab dalam proyek yang dinilai sarat kejanggalan ini.,
Tags: Barang Tak Jelas Fungsi, Fakta Sidang Terkuak: Proyek Satelit Kemhan Tanpa Kajian
Baca Juga
-
13 Feb 2025
KH Achmad Yaudin Sogir: Malam Nisfu Syaban, Momentum Muhasabah dan Perbaikan Diri
-
29 Des 2024
Pemkab Bogor Raih Dua Penghargaan Bergengsi di Anugerah Philothra Jawa Barat 2024
-
03 Nov 2025
Dedie Rachim Terima Penghargaan Inovasi dan Kepedulian Lingkungan dari Radar Bogor
-
17 Apr 2025
Dalam Dua Jam Dua Pengedar Sabu Tumbang di Tangan Polisi Sragen! Kapolres Laporkan Kami Sikat!
-
18 Nov 2025
Pembangunan Jalan Mangunharjo Sepanjang 3 Km Siap Direalisasikan, Berkat Perjuangan DPRD Kota Semarang dan RW 1
-
26 Jun 2026
Rudy Susmanto Tegaskan Persikabo Milik Warga Bogor, Siap Dikembalikan ke Pemilik Sejatinya
Rekomendasi lainnya
-
20 Agu 2025
Kisruh Jelang Musda Golkar Lampung: Legalitas 7 Ketua DPD II Dipertanyakan, DPP Dituding Intervensi
-
03 Okt 2025
Bupati Rudy Susmanto dan Kwarcab Kabupaten Bogor Sabet Penghargaan Pramuka Jawa Barat 2025
-
14 Sep 2026
Kejagung Periksa 4 Saksi Terkait Perkebunan PT PSMI di Kawasan Hutan Lampung
-
23 Mar 2025
KLB Angkat Zulmansyah Sekedang Tidak Sah Bareskrim Terbitkan Sprindik
-
02 Jan 2025
Tim 8 Relawan Prabowo Dukung Program Makan Siang Bergizi untuk Siswa Seluruh Indonesia
-
15 Feb 2026
Rudy Susmanto Resmikan Jembatan Kali Jantung, Ratusan KK di Pabuaran Mekar Kini Lebih Aman dari Banjir





