liputan08.com JAKARTA – Ketua Umum Perkumpulan Mahasiswa Peduli Hukum, Ali Wardana, melontarkan kritik keras terhadap Ketua BEM UGM 2025/2026, Tiyo Ardianto, terkait sejumlah pernyataannya yang dinilai menghina Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.
“Tiyo Ardianto sebaiknya diperiksa kesehatan jiwanya ke psikiater. Publik perlu tahu apakah dia masih waras atau tidak dalam menyampaikan pendapat di ruang publik. Kritik itu boleh, tetapi kalau isinya penghinaan, provokasi, dan kebencian terus menerus terhadap Presiden dan pemerintah, itu sudah kelewatan,” tegas Ali Wardana kepada awak media, Senin (25/5/2026).
Ali Wardana menilai pernyataan Tiyo di berbagai forum sudah tidak mencerminkan kapasitas intelektual seorang mahasiswa dan justru mempermalukan dunia akademik.
“Mahasiswa seharusnya bicara dengan data, riset, dan solusi. Bukan sibuk membuat sensasi murahan dengan kalimat-kalimat yang menghina kepala negara. Cara bicara Tiyo emosional, provokatif, dan cenderung kehilangan nalar akademik,” ujarnya.
Sorotan terhadap Tiyo Ardianto muncul setelah dirinya tampil dalam forum diskusi “Terus Terang” di Yogyakarta yang disiarkan kanal YouTube Mahfud MD Official pada 21 Mei 2026. Dalam forum tersebut, Tiyo menyebut SPPG sebagai:
“Satuan Penjilat Prabowo-Gibran.”
Selain itu, Tiyo juga sempat menyindir program MBG (Makan Bergizi Gratis) dengan pernyataan
“Publik menjadi sulit membedakan peran Presiden sebagai kepala negara dan kepala pemerintahan dengan peran layaknya ‘CEO MBG’.”
Menurut Ali Wardana, pernyataan tersebut bukan lagi kritik akademik, melainkan serangan personal yang berpotensi memecah ruang publik dan menyesatkan opini masyarakat.
“Kalau terus menerus menyerang Presiden dan Wakil Presiden dengan nada kebencian tanpa argumentasi ilmiah yang jelas, saya rasa wajar kalau publik mempertanyakan kondisi kejiwaannya. Jangan membawa nama mahasiswa kalau cara berpikirnya seperti itu,” katanya.
Ali juga meminta mahasiswa tetap menjaga etika dalam menyampaikan pendapat dan tidak menjadikan kampus sebagai panggung penghinaan politik.
“Demokrasi itu ada adabnya. Kebebasan berbicara jangan dipakai untuk menghina dan mempermalukan diri sendiri,” tutup Ali Wardana.
Tags: Ali Wardana
Baca Juga
-
09 Sep 2025
PB, Eks Dirjen Perkeretaapian Dipindahkan ke Rutan Palembang Terkait Dugaan Korupsi LRT Sumsel
-
05 Des 2025
Ketua DPRD Kabupaten Bogor Sastra Winara Apresiasi Sinergi Pemkab–TNI dalam TMMD 2025–2026
-
07 Jun 2026
Intimidasi dan Ancaman Deportasi: Mengurai Gurita Pemerasan WNA dan Urgensi Penegakan Hukum Radikal
-
01 Okt 2025
Dari Kampus ke PBB: Alumni PPKn Universitas Riau Suarakan HAM di Panggung Dunia
-
03 Des 2025
Kontroversi Putusan Prapid Kasus Tongkang di PN Sorong, Polres Sorong Selatan Diduga Produksi Hoaks
-
06 Des 2025
Pengalaman Buruk dengan Polisi Indonesia: Motor Tua dan Luka yang Tak Pernah Hilang
Rekomendasi lainnya
-
10 Mar 2026
Pengkhianatan di Kemuning: Saat Moncong Senjata Preman dan Oknum Aparat Membungkam Program Nasional Presiden
-
01 Nov 2025
Skandal Makanan Kadaluarsa di Manado: Fresh Mart Bahu Mall Diduga Menjual Daging Ayam Busuk, Anak Konsumen Jadi Korban
-
01 Sep 2025
10 Saksi Diperiksa, Korupsi Digitalisasi Pendidikan Kemendikbudristek Kian Terkuak
-
06 Okt 2025
Letjen TNI Bambang Trisnohadi, Peraih Adhi Makayasa yang Pimpin Upacara HUT Ke-80 TNI di Monas
-
24 Nov 2025
DIDUGA Langgar Prosedur, Alih Kelola PKBM Insan Kamila Dipersoalkan: DPRD Minta Disdik Bogor Bertindak Transparan
-
11 Sep 2026
Dinilai Lecehkan Tatanan Hukum Indonesia, Wilson Lalengke: Segera Tangkap Mr. Ching, Mafia Tanah Asal Malaysia!






