Liputan08.com – Jaksa Penuntut Umum (JPU) memaparkan secara rinci modus tindak pidana pencucian uang (TPPU) dalam sidang perintangan perkara dengan terdakwa Marcella Santoso, Ariyanto Bakri, dan kawan-kawan, yang digelar di Pengadilan Negeri Tindak Pidana Korupsi pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Jumat (23/1/2026).
Usai persidangan, JPU Asef Priyanto bersama Syamsul Bahri menjelaskan bahwa dalam agenda pemeriksaan saksi dan ahli, tim jaksa menghadirkan empat saksi fakta dan satu saksi ahli untuk memperkuat pembuktian dakwaan terhadap para terdakwa.

“Berdasarkan keterangan saksi dari pihak Money Changer Dolarindo dan Showroom Zaida, terungkap adanya perputaran uang yang berasal dari Ariyanto Bakri untuk pembelian tiga unit mobil mewah jenis Lexus dan Land Cruiser,” ujar JPU Asef Priyanto kepada wartawan.
Ia mengungkapkan, modus pencucian uang dilakukan dengan cara menitipkan uang kepada pihak showroom. Dalam praktiknya, seorang pihak bernama Vesti menukarkan dolar di Dolarindo, kemudian hasil penukaran tersebut ditransfer ke rekening Showroom Zaida untuk pembayaran kendaraan.
“Dalam proses tersebut, ditemukan indikasi penggunaan identitas pemilik showroom oleh Ariyanto Bakri untuk menyamarkan transaksi,” jelas Asef.
Tak hanya itu, fakta persidangan juga mengungkap penggunaan perusahaan fiktif bernama PT MAC yang digunakan untuk memfasilitasi administrasi kendaraan. Meski STNK dan BPKB kendaraan diatasnamakan PT MAC, perusahaan tersebut diketahui tidak memiliki aktivitas operasional maupun karyawan.
“Saksi dari pihak leasing menerangkan bahwa perusahaan tersebut tidak pernah disurvei. Sementara saksi dari bagian umum leasing mengonfirmasi bahwa aset-aset mobil yang disita memang milik Ariyanto Bakri,” imbuhnya.
Sementara itu, saksi dari Bank BCA menjelaskan adanya aktivitas transaksi mencurigakan pada empat rekening rupiah milik Ariyanto Bakri. Rekening-rekening tersebut menunjukkan aliran dana masuk dan keluar yang berasal dari hasil penukaran dolar, yang digunakan untuk pembayaran kendaraan mewah serta tagihan kartu kredit.
Seluruh rangkaian keterangan saksi tersebut kemudian dikuatkan oleh ahli TPPU, Yunus Husein. Dalam keterangannya, Yunus menegaskan bahwa pola transaksi yang dilakukan para terdakwa merupakan modus klasik namun nyata dalam tindak pidana pencucian uang.
“Menukar, mentransfer, serta mengubah bentuk mata uang dengan menggunakan identitas orang lain atau perusahaan cangkang merupakan ciri kuat dari tindak pidana pencucian uang,” tegas Yunus Husein di hadapan majelis hakim.
Jaksa menilai, seluruh keterangan saksi dan ahli dalam persidangan tersebut semakin menguatkan pembuktian atas dakwaan tindak pidana pencucian uang yang dilakukan para terdakwa dalam perkara perintangan penegakan hukum ini.
Baca Juga
-
31 Jul 2025
Banjir Bandang dan Longsor Terjang Cukuh Balak, Warga Tanggamus Terisolasi dan Butuh Bantuan Mendesak
-
07 Okt 2026
PPWI Hadirkan Tokoh Internasional di Bandar Lampung, Bahas Masa Depan Citizen Journalism
-
01 Jun 2025
Ketua Plt PWI Kabupaten Bogor, Nurofik Pancasila Adalah Kompas Etik dan Jati Diri Bangsa dalam Era Disrupsi
-
30 Mar 2025
Ketua DPRD Bogor Sastra Winara Apresiasi Penyerahan Zakat Bupati dan Wakil Bupati Bogor
-
22 Mei 2025
Ketum PMPH Hadiri Penyuluhan Hukum Kolaborasi Polri dan Akademisi Ubhara Jaya
-
03 Nov 2025
Bupati Bogor Raih Penghargaan Akselerasi Infrastruktur dari Radar Bogor
Rekomendasi lainnya
-
10 Jul 2025
Bupati Bogor Hadiri Rakor Bersama KPK: Tegaskan Komitmen Wujudkan Pemerintahan Bebas Korupsi
-
27 Jun 2026
Awas! Skor SPMB Diduga Diutak-atik, Pelaku Terancam Pidana
-
25 Mei 2026
Meluruskan Logika Geopolitik dan Etika Kemanusiaan: Jawaban atas Paradoks Pembelaan Aktivisme Tanpa Prosedur
-
14 Okt 2024
Polsek Kembangan Gelar Pembinaan Terhadap Pelajar Pelaku Tawuran, Ancam Cabut KJP dan Tindak Tegas Pelaku
-
13 Jun 2025
Harapan Wargi Bogor untuk Kursi Sekretaris Daerah Walikota Wajib Tahu
-
28 Mei 2025
Mabes TNI Gelar Upacara Kenaikan Pangkat 76 Perwira Tinggi dari Tiga Matra


