liputan08.com JAKARTA – Pejabat publik di semua tingkatan diminta memiliki budaya malu dan kesadaran moral yang tinggi dalam menjalankan amanah rakyat. Pesan keras ini disampaikan KH DR Dian Assafri Nasai, SH, dalam tausiyahnya usai melaksanakan Salat Dhuha di Masjid Ainul Hikmah, DPP Partai Golkar, Jakarta, Rabu (17/12/2025).
Dalam keterangannya kepada pers, KH Dian menegaskan bahwa jabatan bukanlah simbol kekuasaan absolut, melainkan amanah yang kelak dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT dan rakyat.
“Pejabat itu harus punya budaya malu, terutama kepada rakyat. Jangan merasa menjadi raja kecil. Lurah, camat, kepala dinas, anggota DPRD, sampai pejabat di atasnya, semuanya digaji oleh rakyat. Maka tidak pantas meminta dihormati berlebihan, apalagi ingin diperlakukan seperti penguasa,” tegas KH Dian.
KH Dian mengingatkan, sikap arogan, feodal, dan haus penghormatan merupakan tanda krisis etika birokrasi yang berbahaya bagi demokrasi dan keadilan sosial.
“Kalau pejabat ingin dihormati, hormatilah dulu rakyatnya. Kalau ingin dimuliakan, muliakan dulu masyarakat. Jangan minta dipuja, jangan ingin ‘didewakan’, padahal hakikatnya mereka hidup dari uang rakyat,” ujarnya.
Menurutnya, hilangnya budaya malu menjadi pintu masuk lahirnya penyimpangan kekuasaan, mulai dari pelayanan buruk, arogansi, hingga korupsi struktural.
Dalam pesannya, KH Dian mengutip sabda Rasulullah SAW:
“Al-ḥayā’u min al-īmān”
“Malu itu bagian dari iman.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Ia menegaskan, ketika rasa malu hilang dari diri seorang pejabat, maka yang tersisa hanyalah kekuasaan tanpa moral.
“Rasulullah sudah mengingatkan, kalau rasa malu dicabut, maka manusia akan berbuat semaunya. Inilah yang kita lihat hari ini, banyak pejabat tidak lagi malu menyakiti rakyatnya sendiri,” kata KH Dian.
KH Dian juga merujuk pandangan Imam Al-Ghazali, yang menyebutkan bahwa kekuasaan tanpa akhlak akan melahirkan kezaliman, sedangkan kekuasaan yang disertai akhlak akan menjadi rahmat.
Dalam Ihya Ulumuddin, Imam Al-Ghazali menegaskan bahwa penguasa wajib memiliki:
1. Tawadhu (rendah hati)
2. Adil
3. Takut kepada Allah
4. Malu berbuat zalim
“Kalau pejabat tidak takut kepada Allah dan tidak malu kepada rakyat, maka kehancuran hanya tinggal menunggu waktu,” ujar KH Dian.
KH Dian menyoroti masih kuatnya budaya feodal di birokrasi, di mana pejabat ingin dilayani, bukan melayani.
“Negara ini bukan kerajaan. Indonesia adalah republik. Tidak ada raja kecil di kelurahan, kecamatan, atau dinas. Semua setara di hadapan hukum dan rakyat,” tegasnya.
Ia menambahkan, reformasi birokrasi sejati bukan hanya soal sistem, tetapi revolusi mental dan akhlak para pejabat.
Di akhir pernyataannya, KH Dian menyerukan agar para pejabat kembali kepada nilai dasar pengabdian.
“Jabatan itu sementara. Yang abadi adalah pertanggungjawaban di hadapan Allah. Kalau tidak bisa melayani rakyat dengan baik, lebih baik mundur dengan terhormat daripada mempertahankan jabatan tanpa rasa malu,” pungkasnya.
Tags: Dian Assafri Nasai
Baca Juga
-
28 Nov 2025
Jamintel Tegaskan Peran Intelijen Kejaksaan dalam Bela Negara di Era Digital pada Dies Natalis ke-48 UPN Veteran Jakarta
-
07 Jun 2026
Intimidasi dan Ancaman Deportasi: Mengurai Gurita Pemerasan WNA dan Urgensi Penegakan Hukum Radikal
-
21 Okt 2025
Kejagung Kepung Mafia Minyak: Tiga Pejabat Pertamina Diperiksa dalam Kasus Dugaan Korupsi Tata Kelola Kilang
-
03 Des 2025
Kontroversi Putusan Prapid Kasus Tongkang di PN Sorong, Polres Sorong Selatan Diduga Produksi Hoaks
-
21 Agu 2025
Bui Menunggu! Kejagung Sikat Dugaan Korupsi Tata Kelola Minyak Mentah dan Kilang di Pertamina dan KKKS 2018–2023
-
08 Agu 2025
Pendukung Loyal Siap Menangkan Hendry Ch Bangun
Rekomendasi lainnya
-
07 Jun 2026
HUT ke-13 ASPRUMNAS, PERCASI Gelar Turnamen Catur Pelajar dengan Semangat ‘Gens Una Sumus’
-
07 Okt 2025
Wilson Lalengke Tiba di New York: Siap Sampaikan Pidato Bersejarah di Sidang PBB Soal Kemanusiaan Global
-
26 Feb 2026
Astaghfirullah! Skandal Rp60 Miliar Terkuak, Jaksa Bongkar Dugaan Aliran Dana ke Tiga Terdakwa
-
09 Des 2025
Pengalaman Buruk dengan Polisi: Jalankan Tugas Jurnalistik Berujung Penahanan, Kisah Kelam 90 Hari di Balik Jeruji
-
15 Jun 2026
ARUKKI Gugat Presiden ke PTUN Jakarta, Soroti Dugaan Cacat Prosedur Pengangkatan Dirjen Imigrasi
-
16 Agu 2025
Prabowo Tegaskan Negara Hadir: 3,1 Juta Hektare Lahan Hutan Direbut Kembali dari Cengkeraman Penguasa Ilegal





