liputan08.com Jakarta – Sejumlah dapur Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di berbagai wilayah Indonesia dilaporkan telah menyelesaikan sebagian besar tahapan persiapan. Bahkan di sejumlah daerah, dapur sudah mulai beroperasi dan mendapat apresiasi dari masyarakat serta para aktivis yang menilai program ini sangat strategis dalam memperkuat ketahanan gizi siswa.
Namun demikian, beberapa dapur lain yang sudah siap penuh—baik dari sisi tenaga ahli, relawan, peralatan, maupun sistem distribusi—belum dapat menjalankan operasional karena anggaran dari pemerintah pusat melalui Badan Gizi Nasional (BGN) belum masuk.
Kondisi ini memunculkan situasi dilematis di lapangan. Para siswa yang menjadi penerima manfaat langsung terlihat menunggu dengan penuh antusias, tetapi hingga kini belum ada kepastian kapan program mulai berjalan. Dalam sejumlah kunjungan, para siswa bahkan menghampiri jurnalis dan menanyakan jadwal pelaksanaan, karena mengira pewarta adalah petugas MBG. Hal ini menunjukkan besarnya ekspektasi publik terhadap program gizi tersebut.
Di sisi lain, kebijakan internal BGN turut menimbulkan pertanyaan. Sebelumnya, BGN menegaskan bahwa tenaga ahli MBG harus berasal dari lulusan sarjana gizi. Namun beberapa hari kemudian, Kepala BGN, Dadan Hindayana, menyampaikan bahwa lulusan Sarjana Kesehatan Masyarakat dan Sarjana Teknologi Pangan juga dapat mengisi posisi tenaga ahli setelah kebutuhan ahli gizi terpenuhi. Perubahan regulasi ini menimbulkan kebingungan di lapangan, terutama soal keseragaman standar pelaksanaan.
Meski demikian, ketika dikonfirmasi mengenai penyebab anggaran belum masuk ke dapur MBG yang telah siap, BGN pusat tidak memberikan jawaban. Minimnya respons lembaga tersebut memicu kritik terkait transparansi, komunikasi publik, dan manajemen program.
Aktivis dari Perkumpulan Mahasiswa Peduli Hukum, Ali Wardana, menilai respons BGN terkesan lambat dan tidak selaras dengan prinsip tata kelola pemerintahan yang menuntut kerja cepat, tepat, jujur, dan akuntabel.
“BGN harus segera mengirim anggaran ke dapur MBG yang sudah siap. Ini menyangkut hak dasar anak untuk mendapatkan gizi layak. Jangan lambat, apalagi bungkam ketika dimintai konfirmasi oleh media,” tegas Ali Wardana.Jakarta Rabu (19/11/2025)
Ia menambahkan bahwa keterlambatan anggaran bukan hanya persoalan administratif, melainkan masalah sosial yang berdampak langsung pada kesejahteraan siswa.
“Kami turun ke sekolah-sekolah. Banyak siswa bertanya, ‘Mana MBG? Kapan datang makanannya?’ Mereka mengira kami ini petugas MBG. Ini menyentuh hati. Program gizi tidak boleh tertunda hanya karena koordinasi pusat yang tidak berjalan,” tutupnya.
(Zakar)
Tags: Dapur MBG
Baca Juga
-
24 Jul 2025
Tema HUT ke-80 RI: “Bersatu Berdaulat, Rakyat Sejahtera, Indonesia Maju” Jadi Simbol Semangat Baru Bangsa
-
30 Des 2025
Logika Sesat Konsep Pencemaran Nama Baik: Sebuah Kajian Kritis dalam Kasus Ijazah Jokowi
-
07 Agu 2026
Kejagung Limpahkan Enam Tersangka Korupsi PETRAL-ISC, Skandal Minyak Masuk Pengadilan
-
30 Sep 2025
Program Jaksa Garda Desa di Banten, Wujud Transformasi Kejaksaan Humanis dan Preventif
-
10 Nov 2025
Empat Koruptor Digitalisasi Pendidikan Siap Masuk Bui, Kejagung Resmi Serahkan ke Jaksa Penuntut Umum
-
11 Jul 2026
Menghidupkan Kembali Roh Kebangsaan Melalui “Holopis Kuntul Baris
Rekomendasi lainnya
-
19 Nov 2025
Pemkot Bogor Raih Peringkat Kedua Nasional Pengelolaan ASN di BKN Award 2025
-
25 Nov 2025
Kejaksaan RI Tawarkan 8 Fokus Kerja Sama Donor, Dorong Penguatan Institusi dan Penegakan Hukum
-
10 Nov 2025
Dr. Dian Assafri Nasa’i: Gelar Pahlawan Nasional untuk HM Soeharto, Momentum Meluruskan Sejarah dan Menghargai Jasa Orde Baru
-
05 Nov 2025
Bayang-Bayang Hukuman Berat Mengintai Delapan Tersangka Korupsi Migas Pertamina
-
30 Jan 2026
Gunung Es Keadilan: Membedah Kriminalisasi Hogi di Sleman dan Busuknya Akar Penegakan Hukum
-
03 Des 2025
Kontroversi Putusan Prapid Kasus Tongkang di PN Sorong, Polres Sorong Selatan Diduga Produksi Hoaks






