Oleh Yogi Syahputra Alidrus (Koordinator Presidium Nasional BEM PTMA Indonesia)
liputan08.com – Jakarta ,3 maret 2026– Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menjadi perbincangan di ruang publik, dapat dipandang sebagai instrumen penting dalam upaya membangun pondasi dasar bangsa dan generasi. Hal ini sesuai dengan pandangan bahwa generasi yang sehat dan tercukupi gizinya adalah kunci untuk menghadapi tantangan masa depan, termasuk mewujudkan visi Indonesia Emas dan menjadi kekuatan ekonomi dunia.
Data tahun 2024 menunjukkan angka stunting di Indonesia mencapai 19,8%, dengan beberapa wilayah seperti NTT (35–37%), Papua Barat (30–34%), dan Sulawesi Barat (28–30%) menghadapi situasi yang lebih berat. Selain itu, angka wasting sebesar 7,4% dan underweight 16,8% menjadi bukti bahwa persoalan gizi anak bukan sekadar statistik, melainkan realitas sosial yang perlu diperhatikan secara serius.
Dalam konteks politik hukum dan kebijakan publik, MBG merupakan implementasi dari konsep Negara Kesejahteraan, yang menjamin hak anak bangsa untuk tumbuh dengan gizi yang layak sesuai dengan Pasal 28H dan Pasal 34 UUD 1945. Program ini juga berperan sebagai infrastruktur pembangunan manusia, karena pemenuhan gizi yang merata menjadi investasi jangka panjang untuk meningkatkan kapasitas kognitif, daya belajar, dan produktivitas generasi muda.
Pengalaman negara lain seperti Jepang, Finlandia, dan Brazil menunjukkan bahwa program serupa dapat memberikan manfaat signifikan, mulai dari penurunan masalah gizi buruk hingga peningkatan kualitas pendidikan dan pemberdayaan ekonomi lokal. Di Indonesia sendiri, MBG berpotensi mengurangi ketimpangan pembangunan yang cenderung Jawa-sentris, terutama di wilayah Timur seperti NTT, Maluku, dan Papua, dengan memanfaatkan potensi pangan lokal seperti ikan, sagu, dan kelor yang tidak hanya memenuhi kebutuhan gizi tetapi juga menghargai identitas budaya dan mendorong ekonomi kerakyatan.
Dilansir dari laporan World Food Programme (WFP) tahun 2020, setiap investasi US$1 dalam program makan sekolah menghasilkan pengembalian sebesar US$9. Dengan target 82,9 juta penerima manfaat, MBG diperkirakan dapat menciptakan sekitar 1,2 hingga 1,5 juta lapangan pekerjaan baru, terutama bagi kaum perempuan di desa, serta mendorong pertumbuhan sektor pertanian, logistik, manajemen, dan kesehatan.
Secara keseluruhan, MBG dapat dimaknai sebagai bentuk tanggungjawab negara terhadap pemenuhan hak warga negara, sekaligus katalisator untuk membangun kemandirian bangsa melalui peningkatan kualitas sumber daya manusia dan pemberdayaan ekonomi lokal.
Tags: MBG
Baca Juga
-
27 Mei 2025
Plt Ketua PWI Jawa Barat, Danang Donoroso Jurnalis Harus Terus Berkarya, Bukan Sekadar Memegang Sertifikat UKW
-
20 Des 2025
Krisis Air Bersih Mangunharjo, PDAM Semarang Akui Terkendala Pipa Induk dan Sumber Air Baku
-
28 Nov 2024
Proses Pemungutan Suara Pilkada Serentak 2024 di Jawa Tengah Berjalan Lancar, Kapolri Ajak Jaga Persatuan
-
25 Feb 2025
Kejagung Sita Rp565 Miliar dalam Kasus Korupsi Importasi Gula di Kemendag Tahun 2015-2016
-
13 Agu 2025
Ketua DPRD Kabupaten Bogor, Sastra Winara, Apresiasi Gebyar Pelayanan Publik Terpadu dalam Rangka HUT RI ke-80
-
06 Nov 2024
Cabup Nomor Urut 1 Rudy Susmanto Penuhi Panggilan Bawaslu Bogor, Tunjukkan Kepatuhan pada Proses Hukum
Rekomendasi lainnya
-
19 Des 2024
Diduga Mobil Digadai Secara Ilegal di Sukamakmur, Pemilik Desak Pengembalian
-
27 Okt 2025
Dedie Rachim Serahkan Piala Wali Kota Cup 2025, 28 Sanggar Ramaikan Lomba Tari Jaipong
-
08 Okt 2026
333 Siswa MAN 1 Bogor Antusias Ikuti BRUS Kemenag Bogor, Dibekali Kesiapan Berkeluarga
-
01 Nov 2024
Polresta Bogor Kota dan Dandim 0606 Berikan Makan Bergizi dan Susu Gratis di MI Al Muawanah, Dukung Pencegahan Stunting dan Ketahanan Pangan
-
28 Okt 2024
Dies Natalis ke100 FHUI JAM-Pidum Penegakan Hukum yang Humanis Menuju Indonesia Emas 2045
-
11 Mar 2025
KH Achmad Yaudin Sogir Apresiasi Polisi Berantas Oknum Pengurangi Takaran Minyakita Ini Jelas Pidana dan Haram Secara Syariat


