liputan08.com – Di balik megahnya aula Markas Besar Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York, bendera berbagai negara berkibar berdampingan. Di sana, suara Indonesia kembali bergema. Seorang alumni Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Riau, Wilson Lalengke, S.Pd., M.Sc., MA., tampil menyampaikan pidato penting tentang isu yang menyentuh nurani universal: Hak Asasi Manusia (HAM).
Wilson, seorang jurnalis senior sekaligus lulusan Program Studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn) Universitas Riau, membahas persoalan Sahara Maroko. Dengan suara tegas namun penuh ketenangan, ia mengangkat isu eksekusi di luar hukum terhadap masyarakat Sahrawi di Kamp Tinduf oleh kelompok separatis Front Polisario, sebuah konflik panjang yang telah lama memicu keprihatinan dunia.
Pidatonya tidak sekadar memaparkan fakta pelanggaran HAM, tetapi juga menghadirkan gagasan khas Indonesia: bagaimana pendidikan, nilai Pancasila, dan semangat gotong royong dapat menjadi solusi untuk merawat perdamaian dunia. Tokoh pers nasional yang sempat mengenyam pendidikan di tiga univertas ternama di Eropa itu juga menyerukan solidaritas internasional untuk menghentikan pembunuhan dan penyiksaan yang dilakukan terhadap manusia di Kamp Tinduf.
Dari Ruang Kelas ke Panggung Internasional
Siapa sangka, langkah yang dimulai dari ruang kuliah di Universitas Riau bisa membawanya ke forum internasional? Semasa kuliah, Wilson aktif dalam organisasi dan diskusi mahasiswa, sekaligus rajin mendampingi kelompok rentan serta menulis opini tentang demokrasi dan keadilan sosial. Semua itu menjadi fondasi yang mengantarkannya ke panggung PBB.
Kebanggaan untuk Indonesia
Kehadirannya di forum dunia bukan sekadar pencapaian pribadi, melainkan juga kebanggaan bagi Universitas Riau dan bangsa Indonesia. Ini bukti bahwa mahasiswa Universitas Riau, dengan tekad dan pengetahuan, bisa hadir di panggung global untuk menyuarakan nilai kemanusiaan yang juga menjadi inti Pancasila.
Inspirasi Generasi Muda
Pidato di PBB ini menjadi pengingat: mimpi besar tak mengenal batas geografis. Dari kampus di Riau hingga panggung dunia, semuanya berawal dari kepedulian dan keberanian memperjuangkan kemanusiaan. (*)
(Tulisan dari alumni PPKn dan Pengurus BEM Universitas Riau, Julian Caisar)
Tags: Perserikatan Bangsa-Bangsa, Universitas Riau
Baca Juga
-
01 Nov 2025
Skandal Makanan Kadaluarsa di Manado: Fresh Mart Bahu Mall Diduga Menjual Daging Ayam Busuk, Anak Konsumen Jadi Korban
-
19 Agu 2025
Kriminalisasi Ibu Menyusui? Wilson Lalengke Soroti Kejanggalan Penahanan Rina Rismala oleh Polres Jakpus
-
16 Agu 2025
Prabowo Tegaskan Negara Hadir: 3,1 Juta Hektare Lahan Hutan Direbut Kembali dari Cengkeraman Penguasa Ilegal
-
01 Sep 2025
Wilson Lalengke Desak Reformasi Total Rekrutmen Pemimpin: “Stop Kirim Figur Tanpa Kapasitas ke Senayan!”
-
28 Agu 2025
LBH Street Lawyer Desak KPK Usut Dugaan Keterlibatan Budi Arie dalam Kasus Judi Online
-
30 Jan 2026
Ancaman Kejahatan Siber Berkedok Tilang Elektronik: Kejaksaan Agung Tegaskan Dua Tautan Resmi dan Dorong Kewaspadaan Publik
Rekomendasi lainnya
-
01 Nov 2025
Coretan Kecil tentang Wilson Lalengke, Suara Rakyat di Perserikatan Bangsa-Bangsa
-
02 Des 2025
Pemkab Bogor Raih Apresiasi Nasional atas Kinerja Pengurangan Ketimpangan 2025
-
05 Des 2025
Wabup Ade Ruhandi Hadiri Rapat Paripurna TMMD: Perkuat Sinergi Pemkab Bogor–TNI untuk Pembangunan 2026
-
18 Sep 2025
Korupsi Mengerikan di Dunia Pendidikan: Kejaksaan Agung Periksa 6 Saksi Terkait Digitalisasi Kemendikbudristek
-
04 Des 2025
Ketika Rumah Saya Diteror: Harapan untuk Polri yang Lebih Transparan dan Melindungi Jurnalis
-
28 Okt 2025
Sepuluh Saksi Diperiksa, Keringat Dingin Mengiringi Bayang Jeruji Kasus Korupsi Minyak Mentah Pertamina




