Liputan08.com – 2 Juni 2026. Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang saat ini dijalankan pemerintah mendapat dukungan luas dari masyarakat karena dinilai membantu pemenuhan gizi peserta didik sekaligus meringankan beban ekonomi keluarga. Namun, hasil investigasi yang dilakukan Redaksi Siber24jam.com dan Liputan08.com di sejumlah sekolah di Jawa Barat dan Sumatera Selatan menemukan fakta bahwa masih terdapat cukup banyak makanan yang tidak dikonsumsi oleh siswa penerima manfaat.
Berdasarkan penelusuran lapangan yang dilakukan redaksi, dalam satu kelas rata-rata terdapat sekitar lima hingga lima belas siswa yang tidak menyantap makanan yang telah dibagikan. Temuan ini muncul dari hasil wawancara langsung dengan sejumlah siswa di berbagai sekolah yang menjadi lokasi investigasi.
Seorang siswa di Jawa Barat yang meminta identitasnya tidak dipublikasikan mengungkapkan bahwa kondisi tersebut hampir terjadi setiap hari.
“Kalau di kelas saya biasanya ada sekitar 10 sampai 15 orang yang tidak makan. Alasannya berbeda-beda, ada yang sudah kenyang karena sarapan dari rumah, ada yang kurang nafsu makan, ada juga yang merasa bosan dengan menu yang tersedia,” ujarnya kepada Redaksi Siber24jam.com dan Liputan08.com, Senin (2/6/2026).
Temuan serupa juga ditemukan di beberapa sekolah lain. Sebagian siswa mengaku telah membawa bekal sendiri dari rumah, sementara sebagian lainnya mengaku tidak terbiasa makan pada jam pembagian MBG. Ada pula siswa yang memilih memberikan makanan tersebut kepada teman yang masih merasa lapar.
Meski demikian, mayoritas siswa yang ditemui redaksi tetap memberikan apresiasi terhadap Program MBG. Mereka menilai program tersebut sangat membantu, terutama bagi siswa yang berasal dari keluarga dengan keterbatasan ekonomi. Karena itu, temuan mengenai makanan yang tidak dikonsumsi ini tidak dapat diartikan sebagai penolakan terhadap program, melainkan sebagai bahan evaluasi untuk meningkatkan efektivitas pelaksanaannya.
Berdasarkan hasil investigasi di lapangan, Redaksi Siber24jam.com dan Liputan08.com memandang bahwa perlu adanya penyempurnaan sistem distribusi agar makanan yang diproduksi benar-benar sesuai dengan kebutuhan riil siswa setiap hari. Hal ini penting mengingat program MBG menggunakan anggaran yang cukup besar sehingga setiap porsi makanan yang disiapkan diharapkan dapat dimanfaatkan secara optimal.
Redaksi mengusulkan agar pihak sekolah dan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) membangun mekanisme pendataan yang lebih fleksibel dan akurat. Misalnya, wali kelas atau petugas sekolah dapat melakukan pendataan sederhana mengenai jumlah siswa yang bersedia menerima makanan pada hari berikutnya.
Sebagai ilustrasi, apabila sebuah sekolah memiliki 1.000 siswa tetapi berdasarkan pendataan hanya sekitar 500 siswa yang akan mengonsumsi MBG pada hari berikutnya, maka informasi tersebut dapat disampaikan kepada dapur penyedia makanan sehingga jumlah porsi yang diproduksi disesuaikan dengan kebutuhan nyata di lapangan. Dengan cara ini, potensi makanan terbuang dapat ditekan dan penggunaan anggaran menjadi lebih efisien.
Selain itu, redaksi juga mengusulkan adanya evaluasi rutin terhadap tingkat konsumsi makanan di setiap sekolah. Data tersebut dapat menjadi dasar untuk mengetahui sekolah mana yang tingkat penyerapannya tinggi dan sekolah mana yang masih memerlukan penyesuaian mekanisme distribusi.
Variasi menu yang lebih beragam, penyesuaian jadwal pembagian makanan, serta pelibatan siswa dalam memberikan masukan terkait menu juga dapat menjadi bahan pertimbangan untuk meningkatkan minat konsumsi. Dengan demikian, tujuan utama program untuk meningkatkan kualitas gizi peserta didik dapat tercapai secara maksimal.
Hasil investigasi Redaksi Siber24jam.com dan Liputan08.com menunjukkan bahwa Program Makan Bergizi Gratis merupakan program yang mendapat dukungan luas dari masyarakat dan dunia pendidikan. Namun, fakta adanya makanan yang tidak dikonsumsi di sejumlah sekolah menjadi catatan penting yang perlu mendapat perhatian seluruh pihak terkait.
Redaksi menilai keberhasilan Program MBG tidak hanya diukur dari jumlah porsi yang dibagikan, tetapi juga dari tingkat konsumsi dan manfaat yang benar-benar dirasakan oleh siswa. Oleh karena itu, evaluasi berbasis data lapangan, keterbukaan terhadap masukan, serta inovasi dalam sistem distribusi menjadi langkah penting agar setiap rupiah anggaran yang dialokasikan negara dapat memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi generasi penerus bangsa.
Tags: Namun Banyak Porsi Tidak Dimakan Siswa, Temuan di Lapangan: Program MBG Disambut Baik
Baca Juga
-
15 Mar 2025
PWI Apresiasi Tim Sparta Polresta Surakarta atas Aksi Sosial Pembagian Sembako
-
22 Nov 2024
Ribuan ASN Pemkab Bogor Kenakan Sarung Tenun Majalaya, Pecahkan Rekor MURI
-
25 Mar 2025
JAM PIDUM Kembalikan Berkas Tersangka ARS dkk ke Bareskrim Polri Kasus Dugaan Pemalsuan Dokumen Sertifikat di Wilayah Perairan Tangerang
-
05 Des 2024
Mochamad Djanu Anshar Dinobatkan Sebagai Duta Stunting Kabupaten Bogor
-
23 Feb 2026
Bupati Bogor Rudy Susmanto Tekankan Penguatan Sinergi TNI–Pemkab pada Lepas Sambut Dandim 0621
-
02 Jan 2025
Korupsi Perkebunan PT Duta Palma Group Kejaksaan Agung Tetapkan Satu Tersangka Perorangan dan Dua Korporasi
Rekomendasi lainnya
-
28 Mei 2025
Keadilan Memburu Koruptor 6 Saksi Diperiksa Terkait Suap Pengadilan
-
24 Apr 2025
Gratifikasi Bernyanyi, Penjara Menanti
-
30 Jun 2025
Bupati Bogor Tinjau Progres Masjid Raya: Target Rampung Desember 2025, Jadi Pusat Layanan Haji dan Umrah
-
24 Mar 2025
Bupati Bogor Pimpin Apel Siaga Angkutan Lebaran 2025 Pastikan Kelancaran Mudik
-
19 Feb 2025
Komisi 1 DPRD Kabupaten Bogor Apresiasi Polsek Cileungsi atas Pengungkapan Kasus Penyalahgunaan Gas Bersubsidi
-
08 Des 2025
Festival Catur Kabupaten Bogor 2025 Resmi Dibuka, Dorong Lahirnya Atlet Catur Sehat, Cerdas, dan Berprestasi


