liputan08.com JAKARTA — Jaksa Penuntut Umum (JPU) Roy Riady menyampaikan keberatan keras terhadap prosedur pemeriksaan saksi virtual dari pihak Google dalam sidang perkara dugaan korupsi digitalisasi pendidikan pengadaan Chromebook di Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek).
Sidang yang digelar di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Senin (20/4/2026), menghadirkan saksi a de charge dari pihak Google secara virtual dari Singapura atas permintaan penasihat hukum terdakwa, Nadiem Makarim.
Usai persidangan, JPU Roy Riady menegaskan bahwa keberatan yang disampaikan bukan terhadap substansi kesaksian, melainkan terkait prosedur hukum yang dinilai tidak dijalankan sesuai ketentuan.
“Kami tidak menolak materi kesaksian, namun prosedur hukum acara harus dipatuhi. Berdasarkan Pasal 65 KUHAP, penetapan majelis hakim seharusnya disampaikan kepada penuntut umum untuk dilaksanakan, tetapi kami tidak menerima pemberitahuan resmi tersebut,” ujar Roy Riady.
Menurutnya, ketidaksesuaian prosedur ini berpotensi menimbulkan persoalan hukum di kemudian hari, terutama karena saksi dihadirkan dari luar negeri tanpa pengawasan resmi aparat penegak hukum setempat.
JPU bahkan sempat mengajukan permohonan penundaan sidang agar proses pemeriksaan saksi di Singapura dapat dilakukan dengan pengawasan Aparat Penegak Hukum (APH) setempat, guna menjaga kedaulatan hukum serta hubungan antarnegara.
“Kami meminta penundaan agar pemeriksaan saksi dapat diawasi oleh otoritas setempat. Ini penting untuk menjaga kedaulatan hukum dan hubungan baik antarnegara, apalagi sudah ada keberatan yang disampaikan melalui KBRI di Singapura,” jelasnya.
Namun demikian, penasihat hukum terdakwa tetap mendesak agar pemeriksaan saksi dilanjutkan dengan alasan keterbatasan waktu dan kesibukan saksi.
Dalam perkembangan persidangan, JPU mengungkapkan bahwa keterangan dua saksi dari Google, yakni Scott Beaumont dan Caesar Sengupta, justru memperkuat dakwaan terhadap terdakwa.
Dari fakta persidangan terungkap adanya pertemuan yang berlangsung pada Februari dan April melalui Zoom, yang membahas kerja sama bisnis Google dengan PT Aplikasi Karya Anak Bangsa (AKAB), serta posisi Nadiem Makarim saat menjabat sebagai Menteri Pendidikan terkait penggunaan teknologi Chromebook.
“Fakta persidangan menunjukkan adanya pembahasan bisnis antara Google dan PT AKAB yang berkaitan dengan kebijakan di kementerian. Hal ini semakin menguatkan dugaan bahwa pengadaan tersebut tidak murni berdasarkan kebutuhan negara,” tegas Roy.
JPU menilai, pengadaan Chromebook di Kemendikbudristek lebih condong pada kepentingan bisnis pribadi terdakwa dibandingkan kebutuhan riil dalam sistem pendidikan nasional.
Sementara itu, Kepala Pusat Penerangan Hukum Kejaksaan Agung, Anang Supriatna, dalam siaran pers resminya menegaskan bahwa pihaknya akan terus mengawal jalannya persidangan agar tetap sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku.
Kasus ini menjadi sorotan publik karena menyangkut program digitalisasi pendidikan nasional dengan nilai anggaran besar serta melibatkan perusahaan teknologi global.
Persidangan akan terus berlanjut dengan agenda pemeriksaan saksi dan pembuktian lanjutan guna mengungkap secara terang dugaan tindak pidana korupsi tersebut.
Tags: Kemendikbudristek
Baca Juga
-
24 Jul 2026
Menakar Semiotika Istana: Ketika Mengundurkan Diri Menjadi Langkah Politik Terhormat bagi Gibran
-
30 Jul 2025
Kasus Korupsi Tol Japek II Elevated: Empat Saksi Diperiksa, Bayang-Bayang Jeruji Besi Menghantui Jika Terbukti Terlibat
-
11 Sep 2025
Kejaksaan RI Tegaskan Komitmen Terima Semua Laporan Masyarakat, Termasuk Dugaan Korupsi
-
13 Nov 2025
Wabup Bogor Hadiri Rakornas Penurunan Stunting Bersama Wapres Gibran
-
20 Okt 2025
Permohonan Penerbitan Sertifikat Hak Atas Tanah Diabaikan, Wilson Lalengke Desak Kepala BPN Depok Dicopot
-
06 Nov 2025
Megawati vs Soeharto: Dendam Sejarah yang Tak Kunjung Pensiun
Rekomendasi lainnya
-
01 Agu 2025
Buruan Koruptor Berakhir di Kampar: Nursahir Digelandang Tim Intelijen Kejagung
-
10 Nov 2025
Dr. Dian Assafri Nasa’i: Gelar Pahlawan Nasional untuk HM Soeharto, Momentum Meluruskan Sejarah dan Menghargai Jasa Orde Baru
-
10 Agu 2026
Babak Baru Hubungan Bilateral, Kolombia Tegaskan Pengakuan Atas Kedaulatan Maroko di Wilayah Sahara
-
30 Okt 2025
JAM-Intel Kawal Proyek Kampung Nelayan Merah Putih Senilai Rp2,2 Triliun di 29 Provinsi
-
27 Agu 2025
Verifikasi Rampung, Hendry Ch Bangun Yakin Unggul Jelang Kongres Persatuan PWI 2025
-
02 Sep 2026
Dihad4ng Ketid4kpastian Hukum: Ketum PPWI Siaran Langsung B0ngkar Temuan di Polda Sumsel





