Liputan08.com – Jaksa Penuntut Umum (JPU) Roy Riadi mengungkap sejumlah fakta hukum dalam persidangan perkara dugaan tindak pidana korupsi program digitalisasi pendidikan berupa pengadaan Chromebook di Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek).
Sidang yang menghadirkan terdakwa Mulyatsyah, Ibrahim Arief, dan Sri Wahyuningsih tersebut digelar di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Selasa (10/2/2026).
Dalam persidangan, JPU memaparkan fakta yang terungkap melalui keterangan saksi dari Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah (LKPP) serta para prinsipal penyedia barang. Menurut JPU, narasi yang selama ini berkembang mengenai kewajaran harga pengadaan Chromebook bertolak belakang dengan realitas yang terungkap di persidangan.
“Fakta persidangan menunjukkan adanya kemahalan harga yang tidak terkendali pada periode 2020 hingga 2022. Proses pembentukan harga didominasi penyedia dan prinsipal tanpa kontrol yang memadai,” ujar JPU Roy Riadi di hadapan majelis hakim.
JPU menjelaskan, pada tahun 2020 metode pengadaan menggunakan e-katalog onlineshop (marketplace), di mana harga ditentukan sepenuhnya oleh penyedia. Dalam praktiknya, Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) tidak menjalankan kewenangan negosiasi harga secara substansial.
Padahal, menurut JPU, PPK memiliki kewajiban melakukan negosiasi untuk memastikan harga wajar dan sesuai ketentuan.
“PPK sebenarnya memiliki kewenangan dan kewajiban melakukan negosiasi harga. Namun pengawasan ini tidak berjalan sebagaimana mestinya sehingga harga melambung tinggi,” tegasnya.
Pada 2021, metode pengadaan diubah menjadi Pengadaan Elektronik Perkantoran (PEP). Namun, menurut JPU, perubahan metode tersebut tidak serta-merta memperbaiki tata kelola harga.
“Ketidakteraturan harga ini bahkan tetap berlanjut pada 2021 karena proses pembentukan harga masih didominasi pihak penyedia dan prinsipal tanpa melibatkan LKPP secara memadai,” ungkap Roy.
JPU juga menyoroti persoalan transparansi harga pada 2022. Dalam persidangan terungkap adanya hambatan keterbukaan data dengan alasan “rahasia perusahaan”.
Padahal, menurut JPU, terdapat dokumen perjanjian kerja sama, salah satunya pada prinsipal ZyrexIndo, yang menyebutkan bahwa klausul kerahasiaan tidak berlaku apabila informasi tersebut harus diungkapkan kepada otoritas pemerintah atau publik sesuai peraturan perundang-undangan.
“Dalih rahasia perusahaan tidak dapat dijadikan alasan untuk menutup data pembentukan harga dari otoritas. Apalagi ini menyangkut penggunaan anggaran negara,” tegas Roy.
Ia menambahkan, ketiadaan data pembentukan harga serta tidak adanya negosiasi dari pihak kementerian sebagai pemilik proyek mengakibatkan harga Chromebook melonjak hingga di atas Rp6.000.000 per unit.
Dalam persidangan juga terungkap indikasi kemahalan harga hingga dua kali lipat. Negara disebut membayar Rp6.800.000 per unit, sementara harga yang ditentukan LKPP sebesar Rp3.000.000.
JPU menegaskan bahwa klaim harga e-katalog telah berada di bawah harga pasar tidak sepenuhnya benar, karena harga tersebut hanya didasarkan pada survei marketplace dan bukan hasil pembentukan harga yang transparan dan terverifikasi.
“Harga e-katalog tidak serta-merta mencerminkan harga pasar yang wajar, karena hanya didasarkan pada survei marketplace tanpa transparansi struktur pembentukan harga,” jelasnya.
Atas fakta-fakta tersebut, JPU menyimpulkan bahwa kerugian negara dalam perkara ini merupakan tanggung jawab bersama antara pihak prinsipal dan kementerian yang dinilai lalai dalam melakukan pengendalian dan pengawasan pengadaan.
Sidang perkara ini akan dilanjutkan dengan agenda pemeriksaan lanjutan guna mengungkap secara menyeluruh konstruksi hukum serta peran masing-masing terdakwa dalam dugaan korupsi program digitalisasi pendidikan tersebut.
Tags: Harga Melambung Dua Kali Lipat, Jaksa Ungkap Permainan Tikus Koruptor di Proyek Digitalisasi Pendidikan
Baca Juga
-
15 Jun 2026
Dugaan Permainan Nilai dan Data SPMB SMA Negeri 3 Cibinong Mengemuka, Oknum Terancam Penjara hingga 6 Tahun
-
11 Apr 2026
Bupati Bogor Rudy Susmanto Perkuat Pelestarian Sejarah demi Identitas Daerah
-
24 Feb 2025
Kejagung Periksa Dua Saksi Kunci dalam Kasus Korupsi Jiwasraya, Fokus Ungkap Alur Dana Investasi
-
04 Jun 2026
Pergantian Tampuk Kepemimpinan BGN: Antara Badai Kepercayaan Publik, Kompetensi Akademis, dan Degradasi Moral Birokrasi
-
21 Jan 2025
Pemkab Bogor Perkuat Pencegahan Wabah PMK dengan Vaksinasi Massal 2.800 Dosis
-
13 Okt 2026
Geger! KPK Gelar OTT di BNPB, Identitas Pihak yang Diamankan Masih Dirahasiakan
Rekomendasi lainnya
-
08 Jul 2025
Rudy Susmanto Instruksikan Pemutaran Indonesia Raya dan Pancasila Tiap Pagi di Kabupaten Bogor, Dorong Semangat Nasionalisme
-
25 Mar 2025
Heru Serap Aspirasi Warga di Dua Kecamatan, Fokus pada Infrastruktur dan BPJS Bersubsidi
-
12 Nov 2025
DLH Bogor Verifikasi 424 Kampung Ramah Lingkungan di 40 Kecamatan
-
08 Des 2025
KH. Ahmad Yaudin Shogir Resmi Jadi Anggota KDMP Cilebut Barat, Siap Dorong Penguatan Ekonomi Desa
-
19 Okt 2025
Dua Siswi MAN 1 Bogor Raih Medali di Kejuaraan Nasional Pencak Silat BNN Cup 6
-
28 Mei 2025
Mabes TNI Gelar Upacara Kenaikan Pangkat 76 Perwira Tinggi dari Tiga Matra






