liputan08.com Jakarta – Kemanusiaan di Tanah Papua kembali dicabik-cabik oleh kejahatan tak berperikemanusiaan. Aksi keji kelompok yang mengatasnamakan Organisasi Papua Merdeka (OPM) yang membantai tiga orang warga sipil tak berdosa di kawasan Yahukimo, Papua Pegunungan, bukan lagi sekadar resistensi politik, melainkan aksi terorisme barbar yang murni didorong oleh kebencian ekstrem dan kebiadaban.
Ketiga korban, yang terdiri dari sepasang suami istri dan seorang wanita warga asli Papua, dieksekusi secara kejam di jalanan. Tanpa belas kasihan, para pelaku menuduh mereka sebagai spionase atau agen intelijen, sebuah alibi usang-murahan yang selalu digunakan kelompok bersenjata untuk menghalalkan pembantaian terhadap rakyat sipil.
Pemandangan memilukan ini menelanjangi wajah asli OPM. Mereka bukanlah pejuang kebebasan, melainkan pembunuh berdarah dingin yang tidak ragu menumpahkan darah saudara sebangsanya sendiri.
*Wilson Lalengke: Perilaku OPM Identik dengan ISIS!*
Kejadian biadab ini memantik amarah mendalam dari tokoh aktivis kemanusiaan sekaligus Alumnus PPRA-48 Lemhannas RI tahun 2012, Wilson Lalengke. Tokoh yang memiliki hubungan emosional dan kekeluargaan yang sangat dekat dengan Papua – melalui dua orang keponakannya yang bersuku asli Papua dengan marga Gombo, yakni Salam Gombo Lalengke dan Christian Gombo Lalengke, melontarkan kecaman amat keras terhadap aksi pembantaian tersebut.
“Aksi brutal dan kekejaman kelompok pembuat rusuh yang mengatasnamakan OPM ini sama sekali tidak mencerminkan nilai-nilai luhur adat Papua. Perilaku mereka membantai warga sipil yang tidak bersalah, bahkan yang merupakan sesama warga asli Papua (OAP), sama sekali tidak ada bedanya dengan kelompok teroris radikal ISIS di Timur Tengah! ISIS membantai sesama Muslim di Irak dan Suriah dengan tuduhan murtad, sementara OPM membantai sesama warga Papua dengan tuduhan intelijen. Ini adalah puncak kebiadaban!” tegas Wilson Lalengke geram (Kamis, 23-07-2026).
Pria yang menjabat sebagai Ketua Umum PPWI itu mengaku bahwa dirinya sangat bersimpati terhadap idealisme kemerdekaan Papua yang didengungkan selama ini. Namun demikian, dia menekankan bahwa pembenaran atas pembunuhan sesama etnis hanya karena perbedaaan pandangan atau klaim sepihak adalah tanda-tanda kehancuran moral ekstrem.
Untuk itu, sebagai alumnus Lemhannas RI, Wilson Wilson mendesak pemerintah pusat, TNI, dan Polri untuk tidak lagi bersikap kompromistis atau sekadar menggunakan pendekatan persuasif setengah hati. Negara, katanya, tidak boleh kalah oleh kelompok teroris!
“Saya mendesak pemerintah dan aparat penegak hukum untuk mengusut tuntas hingga ke akar-akarnya, menangkap seluruh komplotan pembunuh tersebut, dan menyeret mereka ke muka peradilan. Jerat mereka dengan hukuman maksimal berdasarkan pasal-pasal tindak pidana terorisme dan pembunuhan berencana. Jangan biarkan rakyat Papua terus-menerus menjadi korban penyanderaan ketakutan oleh kelompok barbar ini!” ujar Wilson Lalengke.
*Degradasi Moral dan Pandangan Filosofis Dunia*
Secara filosofis, aksi keji yang dilakukan oleh OPM ini merupakan bentuk nyata dari apa yang disebut oleh filsuf Inggris, Thomas Hobbes (1588-1679), sebagai kondisi Homo Homini Lupus, di mana manusia menjadi serigala bagi manusia lainnya. Ketika hukum moral dan rasa persaudaraan dilenyapkan oleh doktrin sektarian, manusia kehilangan akal budi dan bertindak melebihi binatang jalang.
Lebih lanjut, dalam perspektif etika imperatif kategoris Immanuel Kant (1724-1804), seorang manusia harus selalu diperlakukan sebagai tujuan pada dirinya sendiri (end in itself), bukan sekadar alat (means to an end). OPM telah menjadikan nyawa manusia yang tidak bersalah sebagai komoditas politik dan alat propaganda ketakutan. Mereka mengorbankan nyawa warga sipil asli Papua demi menuntaskan dahaga kekuasaan dan provokasi kelompok.
Filsuf Hannah Arendt (1906-1975) juga pernah memperkenalkan konsep “Banality of Evil” (Kebanalan Kejahatan), di mana kejahatan luar biasa dianggap sebagai hal biasa karena pelakunya telah kehilangan kemampuan untuk berpikir kritis dan berempati. Ketika anggota OPM dengan santai mengokang senjata dan mengeksekusi pasangan suami istri serta seorang wanita sipil, mereka telah berada pada fase kebanalan moral yang akut.
*Hentikan Kebiadaban, Tegakkan Hukum Maksimal*
Tidak ada alasan ideologis, politik, maupun adat yang dapat membenarkan pembunuhan terhadap warga sipil yang tidak berdaya. Mengklaim diri sebagai pejuang harkat dan martabat rakyat Papua, bahkan pejuang kemerdekaan dan atas nama Tuhan sekalipun, sambil di saat yang sama memberondongkan peluru ke dada orang asli Papua adalah sebuah hipokrisi tertinggi yang memuakkan.
Aparat keamanan bersama masyarakat Papua harus bersatu padu menolak kehadiran kelompok teroris ini. Hukum harus ditegakkan dengan cermat, tegas, dan tanpa ragu. Duka keluarga para korban di Yahukimo adalah duka seluruh bangsa Indonesia. Keadilan hukum dengan ancaman hukuman mati atau penjara seumur hidup bagi para pelaku adalah syarat mutlak yang tidak bisa ditawar agar tidak ada lagi darah rakyat sipil yang terbuang sia-sia di Tanah Cenderawasih. (TIM/Red)
Tags: Terorisme
Baca Juga
-
25 Jul 2025
Resmi Dibuka! Ini Rincian Gaji dan Pangkat Komcad SPPI 2025, ASN PPPK Plus Tunjangan
-
20 Sep 2025
Ditangkap DPO Penggelapan Jabatan, Elisabeth Riski Dwi Pantiani Jalani Eksekusi Hukuman
-
03 Jun 2026
Skandal MBG Triliunan Rupiah Terkuak, Tiga Eks Bos BGN Resmi Menjadi Tersangka
-
08 Jan 2026
Tikus Koruptor Peradilan Terbongkar di Tipikor Jakarta: Suap Miliaran Demi Putusan Onslag
-
29 Jan 2026
Tikus-Tikus Koruptor Garong Rp285 Triliun! Jaksa Bongkar Skandal Tata Kelola Minyak Pertamina di Sidang Tipikor
-
14 Agu 2025
Bos PT Sritex Jadi Tersangka! Diduga Rugikan Negara Rp1 Triliun Lebih dalam Kasus Kredit Fiktif
Rekomendasi lainnya
-
05 Des 2025
Ketua DPRD Kabupaten Bogor Sastra Winara Apresiasi Sinergi Pemkab–TNI dalam TMMD 2025–2026
-
02 Okt 2024
4 Fakta Terkait Kabinet Prabowo-Gibran yang Belum Rampung
-
12 Sep 2025
Satgas PKH Berhasil Kuasai Kembali 674 Ribu Hektare Lahan Hutan dari 245 Perusahaan, Target Tercapai Lebih dari 300%
-
10 Nov 2025
Empat Koruptor Digitalisasi Pendidikan Siap Masuk Bui, Kejagung Resmi Serahkan ke Jaksa Penuntut Umum
-
22 Apr 2026
Skandal Chromebook Meledak! Dipakai Setahun Sekali, Negara Jebol Rp2,1 Triliun
-
10 Nov 2025
Dr. Dian Assafri Nasa’i: Gelar Pahlawan Nasional untuk HM Soeharto, Momentum Meluruskan Sejarah dan Menghargai Jasa Orde Baru



