Liputan08.com – Di banyak wilayah Indonesia terutama di pedesaan, keluhan seperti “tanah kami hilang, tapi kami tidak tahu kapan” semakin sering terdengar. Kalimat sederhana itu mencerminkan tragedi sosial yang kompleks: hilangnya ruang hidup masyarakat akibat praktik mafia tanah yang merajalela, serta lemahnya peran negara dalam melindungi hak konstitusional warga.
Fenomena mafia tanah bukan sekadar praktik penipuan individual. Ia adalah bentuk kejahatan terorganisasi yang melibatkan jejaring oknum dari berbagai institusi — mulai dari Badan Pertanahan Nasional (BPN), notaris, hingga perangkat pemerintahan di tingkat desa. Dalam banyak kasus, sertifikat ganda atau surat kuasa palsu digunakan untuk mengalihkan kepemilikan tanah tanpa sepengetahuan pemilik sah. Ironisnya, praktik ini kerap dilakukan dengan dukungan dokumen resmi dan tanda tangan pejabat berwenang.
Penelitian Iwan Permadi dari Universitas Brawijaya (2024) menegaskan bahwa lemahnya integritas aparat menjadi faktor utama sulitnya pemberantasan mafia tanah. Ketika pejabat publik yang seharusnya menjadi penjaga keadilan justru terlibat dalam praktik manipulatif, maka hukum berubah menjadi instrumen kekuasaan, bukan alat keadilan.
Data Kementerian Agraria dan Tata Ruang/BPN menunjukkan, antara 2018 hingga 2020 terdapat lebih dari 180 kasus konflik tanah yang terkait langsung dengan praktik mafia tanah. Angka ini meningkat signifikan setelah 2021, terutama di wilayah pinggiran kota dan pedesaan yang menjadi target ekspansi industri dan investasi. Pola yang muncul berulang: tanah petani beralih fungsi tanpa persetujuan, sementara pemilik sah diintimidasi atau dikriminalisasi saat mempertahankan haknya.
Negara yang Absen dari Tanahnya Sendiri
Pasal 33 ayat (3) UUD 1945 menegaskan bahwa bumi, air, dan kekayaan alam dikuasai oleh negara untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Namun dalam praktik, penguasaan itu sering kali berubah menjadi pembiaran. Negara seakan kehilangan makna dari kalimat konstitusional tersebut.
Kasus-kasus sertifikat ganda dan manipulasi data pertanahan menunjukkan lemahnya pengawasan internal di tubuh BPN. Dalam sejumlah penelitian hukum, ditemukan bahwa satu bidang tanah dapat memiliki dua sertifikat yang sah secara administratif — satu milik pemilik asli, dan satu lagi milik pihak yang memperoleh sertifikat melalui jalur ilegal. Dalam kondisi seperti ini, hukum justru memberi legitimasi pada ketidakadilan.
Petani yang kehilangan tanah bukan hanya kehilangan aset ekonomi, tetapi juga identitas sosial dan kulturalnya. Mereka kehilangan ruang untuk bertani, tempat tinggal, bahkan hubungan dengan warisan leluhur. Upaya hukum kerap menemui jalan buntu karena mafia tanah memiliki sumber daya, jaringan, dan akses ke kekuasaan yang jauh lebih besar.
Dalam banyak kasus, proses hukum berakhir dengan vonis “tidak cukup bukti”, sebab surat-surat palsu telah dilegalisasi oleh pejabat resmi. Keadaan ini menunjukkan betapa rumitnya membuktikan kebenaran dalam sistem hukum yang korup secara struktural.
Ada dua faktor utama yang dimanfaatkan mafia tanah: birokrasi yang korup dan rendahnya literasi hukum masyarakat. Banyak warga desa tidak memahami pentingnya pendaftaran tanah secara resmi, sehingga menjadi sasaran empuk bagi pihak yang memanfaatkan celah administrasi.
Program Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) yang dicanangkan pemerintah sebenarnya merupakan langkah positif, tetapi implementasinya belum sepenuhnya bebas dari penyimpangan. Dalam beberapa daerah, program ini justru disusupi praktik ilegal yang berujung pada penerbitan sertifikat palsu.
Mengakhiri praktik mafia tanah tidak cukup dengan menegakkan hukum secara formalistik. Diperlukan langkah moral dan politik yang konkret. Pemerintah harus berani menindak tegas pejabat publik yang terlibat, bukan sekadar memberi sanksi administratif, melainkan menjerat mereka dengan pidana sesuai prinsip equality before the law.
Selain itu, pemberdayaan masyarakat desa menjadi kunci. Edukasi hukum harus diintensifkan agar warga memahami hak kepemilikan dan prosedur administrasi pertanahan. Penggunaan aplikasi seperti Sentuh Tanahku dari BPN dapat menjadi sarana edukatif untuk memeriksa status tanah secara mandiri.
Transparansi juga harus dijadikan prinsip dasar pemerintahan desa dan BPN. Setiap transaksi, peralihan, atau pendaftaran tanah perlu diumumkan secara terbuka untuk publik guna mencegah manipulasi.
Kasus mafia tanah merupakan cermin dari rapuhnya sistem hukum dan lemahnya integritas birokrasi kita. Negara tidak boleh lagi bersikap pasif. Tanah bukan sekadar aset ekonomi, melainkan bagian dari hak asasi dan simbol kedaulatan rakyat.
Selama praktik mafia tanah masih dibiarkan, maka setiap hektare lahan rakyat berpotensi menjadi ajang perampasan legal. Sudah saatnya pemerintah menegakkan kembali makna sejati Pasal 33 UUD 1945 — bahwa bumi dan tanah Indonesia harus dikuasai oleh negara, bukan oleh jaringan mafia yang mengatasnamakan negara.
Oleh: Nafisha Tu Najla
Tags: Mafia Tanah dan Krisis Keadilan Agraria: Saat Negara Kehilangan Makna dari Pasal 33 UUD 1945
Baca Juga
-
05 Des 2025
Bogor Mantapkan Diri Jadi Pusat LASQI Nasional, Bupati Rudy: “Kami Siap Sambut Nusantara”
-
12 Mei 2026
Penumpukan Sampah Hampir Sebulan di Kelurahan Cengkareng Barat Dikeluhkan Warga, Koordinasi Pengurus Lingkungan Dipertanyakan
-
06 Sep 2025
Pemkab Bogor Gelar Festival dan Kejuaraan Silat Cimande: Perebutkan Piala Bupati dan Kukuhkan Warisan Budaya Dunia
-
29 Okt 2024
Pj. Bupati Bogor Dorong PWI Jadi Jembatan Informasi Antara Pemkab dan Masyarakat
-
25 Feb 2025
Bupati Bogor Perintahkan Pembinaan untuk Kades Gunung Menyan Usai Kontroversi Video Viral
-
15 Sep 2026
Rudy Susmanto Pastikan Galuga Hampir Padam, Titik Panas di Bawah Tumpukan Sampah Masih Diburu
Rekomendasi lainnya
-
01 Sep 2026
Rudy Susmanto Targetkan Jalan dan Sekolah Rusak di Kabupaten Bogor Tuntas 2027–2028
-
27 Feb 2025
Kejagung Tetapkan Dua Tersangka Baru dalam Kasus Korupsi Minyak Mentah Pertamina, Kerugian Capai Rp193,7 Triliun
-
11 Des 2025
Pemkab Bogor Tegaskan Komitmen Perkuat Sinergi dengan IPB University
-
09 Des 2025
JPU Limpahkan Berkas Perkara Penghasutan Aksi Anarkis Demonstrasi Agustus 2025
-
25 Okt 2024
Kecamatan Jasinga Raih Juara Umum di MQK Pertama Kabupaten Bogor 2024
-
09 Okt 2026
Rudy Susmanto Dorong Inovasi Pelayanan Publik, Pemkab Bogor Jadi Lokus Studi Lapangan PNS TNI AU


