liputan08.com – Setiap tanggal 22 Oktober, bangsa Indonesia memperingati Hari Santri Nasional. Di berbagai penjuru nusantara, gema perayaan ini menggema melalui upacara, doa bersama, dan simbol-simbol kebanggaan terhadap peran santri dalam sejarah perjuangan bangsa.
Namun, di balik gemerlap seremoni itu, terselip pertanyaan yang menggugah nurani: Apakah santri hari ini benar-benar dimuliakan, atau sekadar diperingati?
Di pelosok negeri, masih banyak pesantren yang berdiri dengan segala keterbatasan. Bangunan sederhana, kitab usang, dan ruang belajar sempit menjadi saksi perjuangan santri sejati yang menyalakan cahaya ilmu tanpa bergantung pada fasilitas. Mereka hidup dalam kesunyian dan kesederhanaan, namun tetap menjaga api keilmuan dan akhlak yang menerangi bangsa.
Sayangnya, perhatian terhadap pesantren dan santri kerap muncul hanya ketika kamera menyorot. Setelah upacara usai, perhatian itu pun memudar. Padahal, santri bukan sekadar ornamen upacara. Mereka adalah denyut nadi moral bangsa—penjaga keseimbangan antara akal dan nurani, antara ilmu dan iman.
“Santri adalah simbol ketulusan dalam pengabdian dan kemandirian dalam berpikir. Dari pesantrenlah kita belajar makna keikhlasan yang sesungguhnya—mengabdi tanpa pamrih, berjuang tanpa sorotan,” ujar Dr. Dian Assafri Nasa’i, SH., MH., seorang akademisi dan pemerhati kebijakan publik serta Pimpinan Pondok Pesantren Al Qur’an Center Az Zahra.
Beliau menegaskan, penghormatan kepada santri tidak cukup diwujudkan dengan slogan, spanduk, atau pidato seremonial semata. Diperlukan langkah konkret dalam memperhatikan kesejahteraan guru pesantren, menyediakan fasilitas pendidikan yang layak, dan memberi ruang keadilan bagi pesantren untuk tumbuh dalam kemandirian.
“Sudah saatnya pemerintah dan masyarakat memperlakukan pesantren sebagai pusat peradaban, bukan sekadar simbol religius. Komersialisasi pendidikan atas nama pesantren harus dihentikan. Santri bukan objek politik, tetapi subjek moral yang membangun bangsa,” tambah Dr. Dian dengan nada tegas namun teduh.
Dalam pandangan beliau, Hari Santri seharusnya menjadi momentum untuk meneguhkan kembali semangat ukhuwah ilmiah dan ukhuwah insaniyah—persaudaraan dalam ilmu dan kemanusiaan. Santri dan pesantren tidak boleh dibiarkan berjalan sendiri di tengah arus zaman yang materialistik.
Santri tidak butuh tepuk tangan, mereka butuh keadilan. Pesantren bukan hanya warisan sejarah, melainkan benteng moral bangsa yang harus dijaga dengan kebijakan yang berpihak.
Selamat Hari Santri.
Semoga peringatan ini tidak berhenti pada seremoni megah, tetapi menjadi cermin bagi bangsa: bahwa memuliakan santri bukan dengan merayakannya setahun sekali, melainkan dengan memastikan mereka hidup dan belajar dalam kemuliaan yang sejati.
Tags: Dr. Dian Assafri Nasa'i, Hari Santri
Baca Juga
-
20 Okt 2025
Permohonan Penerbitan Sertifikat Hak Atas Tanah Diabaikan, Wilson Lalengke Desak Kepala BPN Depok Dicopot
-
03 Des 2025
Demi Integritas Demokrasi terkait Kontroversi Ijazah Jokowi, Wilson Lalengke Kirim Surat Terbuka ke UNESCO dan ASEAN
-
20 Okt 2025
Ayo Ikuti Lomba Menulis Tingkat Nasional Bertema: “Pengalaman Buruk dengan Polisi Indonesia”
-
02 Okt 2024
PUPR : Bendungan Temef Sediakan Air Baku Kapasitas 131 Liter/Detik
-
10 Nov 2025
Empat Koruptor Digitalisasi Pendidikan Siap Masuk Bui, Kejagung Resmi Serahkan ke Jaksa Penuntut Umum
-
19 Nov 2025
Pemkot Bogor Raih Peringkat Kedua Nasional Pengelolaan ASN di BKN Award 2025
Rekomendasi lainnya
-
07 Nov 2025
JAM-Intel Reda Manthovani Tegaskan Komitmen Kejaksaan Berantas Perdagangan Orang
-
08 Jan 2026
PPWI dan Dubes Aljazair Gelar Pertemuan Silaturahmi Bahas Kerja Sama Sosial Budaya
-
06 Okt 2025
Jaksa Agung Laporkan ke Presiden Prabowo: Satgas PKH Kuasai Kembali 3,4 Juta Hektare Kawasan Hutan
-
25 Feb 2026
Wilson Lalengke Diundang Duta Besar Rusia untuk Buka Puasa Bersama di Kediaman Dubes
-
26 Agu 2025
Ngumpetnya Sampai ke Ujung Papua, Tapi Nggak Bisa Kalahkan Satgas SIRI — Buronan Proyek Jalan Malah Ketemu Jalan Buntu!
-
15 Okt 2025
Dugaan Kriminalisasi di Polres Jakarta Pusat: Pencarian Keadilan untuk Ibu dan Bayinya Terus Berlanjut




