Liputan08.com, JAKARTA – Hubungan politik Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi atau Kang Dedi Mulyadi (KDM) dengan Presiden Prabowo Subianto kembali menjadi sorotan.
Ketidakhadiran KDM dalam Rapat Koordinasi Nasional Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah (Rakornas TPAKD) pada 22 Oktober 2026 memunculkan pertanyaan. Apakah ini sekadar persoalan agenda pemerintahan atau ada dinamika politik yang lebih besar menjelang Pilpres 2029?
Sejumlah peristiwa dan pernyataan pengamat politik kini menjadi bahan pembicaraan. Namun, sampai saat ini belum ada bukti yang memastikan KDM berniat meninggalkan Prabowo ataupun Partai Gerindra.
Berikut lima fakta yang layak di cermati.
1. Prabowo mencari KDM di forum nasional
Presiden Prabowo Subianto sempat menanyakan keberadaan KDM ketika menyapa para kepala daerah dalam Rakornas TPAKD di JIExpo, Jakarta, Kamis (22/10/2026).
“Kemana KDM? yang paling dekat enggak hadir malah. Pasti sibuk,” ujar Prabowo.
Ucapan tersebut langsung menjadi perhatian karena Jawa Barat merupakan wilayah yang relatif dekat dengan lokasi acara. Momen itu kemudian memunculkan spekulasi mengenai komunikasi dan kedekatan politik antara keduanya.
Namun, pernyataan Prabowo tersebut tidak dengan sendirinya menunjukkan adanya konflik.
2. KDM mengaku sedang menangani kebakaran Gunung Ciremai
Dedi Mulyadi memberikan penjelasan atas ketidakhadirannya. Ia menyatakan sedang memimpin penanganan kebakaran hutan. Dan lahan di kawasan Taman Nasional Gunung Ciremai, Kabupaten Kuningan.
KDM mengatakan keputusan untuk memprioritaskan penanganan kebakaran tersebut mengikuti arahan Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi. Ia juga menyebut telah melaporkan situasi itu kepada Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya.
“Saya sampaikan bahwa penanganan kebakaran Ciremai itu merupakan fokus prioritas yang di sarankan oleh Pak Mensesneg. Saya juga sudah lapor ke Pak Seskab,” kata Dedi, seperti di beritakan ANTARA pada Jumat (23/10/2026).
Penjelasan ini penting karena menunjukkan bahwa ketidakhadiran KDM memiliki alasan kedinasan yang di sampaikannya secara terbuka. Karena itu, absennya belum dapat di jadikan bukti bahwa dirinya sengaja menjauh dari Prabowo.
3. Popularitas KDM memunculkan pembicaraan tentang Pilpres 2029
Nama KDM mulai sering di perbincangkan dalam wacana politik nasional. Termasuk mengenai kemungkinan kontestasi Pilpres 2029.
Peningkatan perhatian publik terhadap seorang kepala daerah dapat memperluas pengaruh politiknya. Akan tetapi, popularitas tidak otomatis berarti seseorang ingin menantang presiden atau membangun kekuatan tandingan.
Pertanyaan yang lebih relevan adalah apakah KDM akan tetap berfokus pada kepemimpinannya di Jawa Barat atau kelak mengambil langkah politik nasional.
Hingga kini, kemungkinan tersebut masih perlu di bedakan dari keputusan politik resmi yang benar-benar di umumkan oleh KDM.
4. Isu pindah partai pernah muncul, tetapi KDM membantahnya
Pada Agustus 2026, beredar kabar bahwa Dedi Mulyadi akan meninggalkan Gerindra dan bergabung dengan Partai Solidaritas Indonesia (PSI).
KDM membantah kabar tersebut. Dalam pemberitaan Media Indonesia pada 25 Agustus 2026. Ia menegaskan masih menjadi kader Gerindra dan menyatakan isu kepindahannya tidak benar.
Wakil Ketua DPD Gerindra Jawa Barat, Buky Wibawa, juga menyatakan KDM masih menjadi bagian dari struktur partai.
Fakta ini menjadi penyeimbang penting dalam membaca dugaan keretakan hubungan politik. Sampai informasi tersebut di beritakan, tidak ada konfirmasi resmi bahwa KDM telah keluar dari Gerindra.
5. Akankah KDM mengikuti jejak Anies Baswedan?
Pertanyaan mengenai kemungkinan KDM berhadapan dengan Prabowo pada Pilpres 2029 mulai muncul dalam analisis politik. Pengamat politik Adi Prayitno, sebagaimana di beritakan menilai pembicaraan mengenai KDM sebagai calon presiden harus pertimbangkan posisi politiknya di Gerindra.
Selama KDM masih menjadi kader partai yang di pimpin Prabowo, kemungkinan keduanya berhadapan sebagai pesaing perlu di lihat secara hati-hati. Situasinya akan berbeda apabila dirinya benar-benar keluar dari Gerindra dan memperoleh dukungan partai lain.
Nama Anies Baswedan menjadi pembanding karena pada Pilpres 2024 ia berhadapan dengan Prabowo sebagai calon presiden dari kubu berbeda.
Namun, perjalanan politik Anies tidak dapat serta-merta di samakan dengan KDM. Keduanya memiliki latar belakang, dukungan politik dan keputusan masing-masing.
Sampai saat ini, belum ada pernyataan resmi KDM bahwa dirinya akan maju melawan Prabowo pada 2029.
Lima fakta tersebut memperlihatkan bahwa hubungan politik KDM dan Prabowo menjadi bahan perhatian publik.
Ketidakhadiran KDM dalam Rakornas, penjelasan mengenai penanganan kebakaran, popularitasnya, isu perpindahan partai. Serta pembicaraan tentang Pilpres 2029 membentuk rangkaian isu yang menarik untuk terus dipantau.
Namun, menyebut KDM telah mengkhianati atau meninggalkan Prabowo masih terlalu jauh dari bukti yang tersedia.
Indikator yang lebih kuat baru dapat di nilai apabila muncul keputusan resmi seperti pengunduran diri dari Gerindra. Pembentukan koalisi politik yang berbeda, pernyataan pencalonan presiden, atau pertentangan terbuka mengenai kebijakan strategis.
Menjelang 2029, dinamika politik masih dapat berubah. Publik perlu mengawasi perkembangan berikutnya dengan kritis. Memisahkan fakta dari opini dan menilai setiap tokoh berdasarkan tindakan serta pernyataan yang dapat di verifikasi.
Tags: Anies Baswedan, Dedi Mulyadi, hubungan KDM dan Prabowo, KDM, Partai Gerindra, Pilpres 2029, Politik Indonesia., Prabowo Subianto, Teddy Indra Wijaya
Baca Juga
-
29 Okt 2024
Dedy Firdaus Terpilih Sebagai Ketua PWI Kabupaten Bogor Periode 2024-2027
-
15 Apr 2026
Di Bawah Kepemimpinan Rudy Susmanto, Pemkab Bogor Resmikan SPPG Cijujung dan Koperasi Kadin
-
23 Mei 2026
DPW AMPETRA Jateng Dampingi Direktur Bahas Struktur Saham dan Ekuitas, Tekankan Prinsip Ramah Lingkungan
-
10 Mar 2025
Komisi III DPR RI Apresiasi Satgas Ops Damai Cartenz Gagalkan Penyelundupan Senjata ke KKB di Papua
-
26 Jun 2026
Diskominfo Sosialisasikan PSE Demi Tata Kelola Sistem Elektronik yang Tertib dan Terintegrasi
-
12 Jan 2026
Perlukah Polisi Dunia? Analisis Konseptual atas Intervensi Amerika Serikat dan Kedaulatan Negara
Rekomendasi lainnya
-
22 Mar 2025
Pemkab Bogor dan Kadin Gelar Bazar Pangan Murah, Upaya Kendalikan Inflasi Jelang Lebaran
-
13 Jul 2025
Puskesmas Pasar Rebo Tenjo Hadirkan Inovasi Digital “SIASAT”, Tangkal Hoaks Kesehatan
-
07 Jan 2026
Pimpinan DPRD Kota Bogor Terima Silaturahmi Kapolresta Bogor Kota dalam Rangka Akhir Masa Tugas
-
09 Jun 2025
Pemkab Bogor Gerak Cepat Tangani Longsor Sampah Galuga, Realokasikan Rp25 Miliar untuk Sanitary Landfill
-
28 Okt 2025
Korupsi Kredit PT Sritex: Kejagung Periksa Dua Saksi, Hukum Tak Boleh Tunduk pada Pelaku
-
18 Des 2025
Pemkab Bogor Perkuat Sinergi Lintas Sektor untuk Percepatan Penurunan Stunting









