Breaking News

Rudy Susmanto Dorong Kolaborasi Lintas Sektor, Stunting Kabupaten Bogor Turun Jadi 2,37 Persen

Liputan08.com – Pemerintah Kabupaten Bogor terus memperkuat upaya pencegahan stunting melalui kolaborasi lintas sektor. Berdasarkan data Agustus 2026, angka stunting di Kabupaten Bogor tercatat 2,37 persen atau sebanyak 8.374 kasus, menurun signifikan dibandingkan periode sebelumnya yang pernah mencapai 18,9 persen.

Upaya tersebut menjadi bagian dari komitmen Pemerintah Kabupaten Bogor di bawah kepemimpinan Bupati Bogor Rudy Susmanto dalam meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat dan membangun sumber daya manusia yang sehat dan berkualitas.

Hal itu disampaikan Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor, dr. Fusia Meidiawaty, dalam kegiatan Gerakan Cegah Stunting (DAK NF) Kabupaten Bogor yang digelar di Ruang Serbaguna I, Sekretariat Daerah Kabupaten Bogor, Cibinong, Rabu (7/10/2026). Kegiatan tersebut turut dihadiri Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Bogor, Ny. Eva Rudy Susmanto.

Fusia mengatakan, penurunan angka stunting merupakan hasil dari berbagai program serta kolaborasi pemerintah dengan seluruh elemen masyarakat. Meski capaian tersebut patut diapresiasi, upaya pencegahan tetap harus diperkuat.

“Masalah kesehatan di Kabupaten Bogor tidak dapat diselesaikan hanya oleh Dinas Kesehatan saja. Oleh karena itu, kita tetap harus berkolaborasi, bersinergi, dan berkoordinasi, terutama dalam mencegah stunting di Kabupaten Bogor,” ujar Fusia.

Menurutnya, kesehatan menjadi salah satu komponen penting dalam keberhasilan pembangunan karena turut berpengaruh terhadap kualitas sumber daya manusia dan Indeks Pembangunan Manusia (IPM).

Pemenuhan gizi yang optimal, kata Fusia, menjadi bagian penting dalam membangun generasi yang sehat dan berkualitas. Kekurangan gizi dalam jangka panjang tidak hanya menghambat pertumbuhan fisik dan meningkatkan kerentanan terhadap penyakit, tetapi juga dapat memengaruhi perkembangan kognitif, kecerdasan, serta produktivitas anak pada masa mendatang.

Stunting merupakan kondisi gagal tumbuh pada anak akibat kekurangan gizi kronis, terutama pada periode 1.000 hari pertama kehidupan. Kondisi tersebut dapat dipengaruhi oleh asupan gizi yang tidak memadai, infeksi berulang, pola asuh, serta kondisi lingkungan.

Karena itu, Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor terus memperkuat langkah promotif dan preventif melalui promosi kesehatan serta pemberdayaan masyarakat. Pendekatan tersebut diarahkan untuk membangun kesadaran bersama bahwa pencegahan stunting harus dimulai dari keluarga.

Sementara itu, Ketua TP PKK Kabupaten Bogor, Ny. Eva Rudy Susmanto, mengapresiasi penurunan angka stunting yang dinilai merupakan hasil kerja bersama pemerintah daerah, TP PKK, Dinas Kesehatan, kader Posyandu, keluarga, dan masyarakat.

Namun, Eva mengingatkan agar capaian tersebut tidak membuat seluruh pihak mengurangi kewaspadaan. Masih terdapat anak-anak yang membutuhkan perhatian dan intervensi agar dapat tumbuh serta berkembang secara optimal.

“Pencegahan stunting bukan sekadar persoalan kesehatan, melainkan investasi jangka panjang bagi masa depan Kabupaten Bogor,” kata Eva.

Eva menegaskan, pencegahan stunting harus dilakukan secara menyeluruh, mulai dari pemenuhan gizi seimbang, pola asuh yang tepat, perhatian terhadap kesehatan ibu dan anak sejak masa kehamilan, hingga pemenuhan imunisasi sesuai usia.

Ia juga mengajak seluruh jajaran PKK mulai tingkat kabupaten, kecamatan, desa dan kelurahan, hingga kader Posyandu dan Dasawisma untuk aktif menjangkau anak-anak yang belum mendapatkan imunisasi lengkap, termasuk anak yang belum pernah menerima imunisasi atau zero dose.

Langkah tersebut sejalan dengan pelaksanaan Bulan Imunisasi Kejar Nasional yang berlangsung 1–31 Oktober 2026 dengan tema “Imunisasi Tepat Usia: Kejar Sebelum 1 Tahun, Tuntas Sebelum 2 Tahun.”

Menurut Eva, PKK memiliki peran strategis sebagai penggerak perubahan di tingkat keluarga dan masyarakat melalui 10 Program Pokok PKK, khususnya Pokja 4 yang membidangi kesehatan dan kelestarian lingkungan.

“PKK memiliki jaringan dan potensi besar untuk memperluas edukasi kesehatan, meningkatkan kesadaran gizi keluarga, serta mendorong pemanfaatan Posyandu sebagai pusat pelayanan dan pemberdayaan masyarakat,” ujarnya.

Selain itu, edukasi kepada remaja dan keluarga mengenai kesiapan fisik, mental, serta kesehatan reproduksi sebelum memasuki kehidupan pernikahan juga dinilai penting. Pencegahan stunting perlu dibangun sejak dini melalui keluarga yang memiliki pengetahuan memadai mengenai kesehatan dan gizi.

Pemerintah Kabupaten Bogor bersama TP PKK, DWP, IKAT, kader Posyandu, keluarga, dan masyarakat terus memperkuat gerakan bersama dalam pencegahan stunting.

Melalui sinergi lintas sektor tersebut, Pemkab Bogor di bawah kepemimpinan Bupati Rudy Susmanto diharapkan mampu mempertahankan tren penurunan stunting sekaligus meningkatkan kualitas kesehatan dan sumber daya manusia di Kabupaten Bogor.

“Dengan sinergi semua pihak, kita dapat membangun gerakan yang lebih kuat dan memberikan dampak nyata bagi kualitas kesehatan masyarakat Kabupaten Bogor,” kata Eva.

Tags: , ,

Baca Juga

Rekomendasi lainnya