Breaking News

KH Ahmad Yaudin Sogir: Jangan Hanya Mengajak Kebaikan, Seorang Dai Harus Lebih Dulu Mencontohkannya

Liputan08.com, BOGOR — Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Perumahan Bumi Cibinong Endah, Kabupaten Bogor Rabu 25 Agustus 2026, berlangsung dengan suasana penuh khidmat.

Dalam tausiyahnya, anggota DPRD Kabupaten Bogor dari Fraksi PKB sekaligus Wakil Ketua Komisi I, KH Ahmad Yaudin Sogir, mengajak jamaah menjadikan Maulid Nabi sebagai momentum memperbaiki akhlak dan perilaku dalam kehidupan sehari-hari.

KH Ahmad Yaudin Sogir menegaskan, seorang penceramah atau dai tidak cukup hanya pandai menyampaikan nasihat. Menurutnya, orang yang berdakwah harus menjadi pihak yang paling dahulu memberikan contoh dalam menjalankan nilai-nilai yang disampaikan kepada umat.

“Penceramah harus terdepan memberi contoh akhlak yang baik. Bukan sekadar mengajak umat, tetapi harus dimulai dari seorang dai,” ujar KH Ahmad Yaudin Sogir dalam tausiyahnya.

Ia bahkan menyampaikan kerendahan hati dengan mengaku dirinya masih terus belajar menjadi pribadi yang lebih baik.

“Saya belum menjadi orang baik, belum saleh seperti jamaah yang hadir. Malu rasanya jika saya mengajak kepada kebaikan, namun yang berbicara tidak berperilaku baik,” katanya.

Menurutnya, menjadi seorang dai memiliki tanggung jawab moral yang sangat besar. Setiap ucapan seorang alim akan menjadi perhatian masyarakat sehingga antara perkataan dan perbuatan harus berjalan beriringan.

Ia mengingatkan bahwa Al-Qur’an memberikan peringatan keras kepada orang yang menyuruh orang lain berbuat baik tetapi melupakan dirinya sendiri. Pesan tersebut antara lain terdapat dalam QS Ash-Shaff ayat 2–3 dan QS Al-Baqarah ayat 44.

“Risiko seorang pendai itu sangat tinggi. Banyak sindiran dalam Al-Qur’an agar jangan memerintah orang berbuat baik tetapi lupa kepada dirinya sendiri,” tuturnya.

Dalam kesempatan itu, KH Ahmad Yaudin Sogir juga menjelaskan bahwa ukuran seorang alim bukan hanya keluasan ilmu yang dimiliki, tetapi juga tercermin dari akhlak dan sikapnya.

Ia menyebut seorang alim yang benar semestinya memiliki sifat wara’, rendah hati, tidak sombong, serta mampu bergaul dan merangkul siapa pun.

“Seorang alim yang benar adalah orang yang wara’, rendah hati, tidak sombong, bergaul dan merangkul dengan siapa pun, serta menghormati tanpa melihat jabatan, suku maupun agama,” katanya.

Menurutnya, sikap tersebut merupakan bagian dari keteladanan Rasulullah Muhammad SAW dalam membangun kehidupan masyarakat.

Dalam kitab-kitab akhlak dan tradisi keilmuan Islam, sifat tawadhu’ dan wara’ memang ditempatkan sebagai bagian penting dari kemuliaan seorang yang berilmu. Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin banyak mengingatkan bahwa ilmu harus melahirkan perubahan akhlak, bukan sekadar menambah pengetahuan.

Sementara itu, Rasulullah SAW bersabda:

“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak.”

(HR. Ahmad)

Hadis tersebut, kata KH Ahmad Yaudin Sogir, menjadi salah satu pesan penting yang harus direnungkan dalam setiap peringatan Maulid Nabi.

KH Ahmad Yaudin Sogir menegaskan, peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW jangan berhenti pada acara seremonial, pembacaan selawat, atau mendengarkan ceramah.

Lebih dari itu, Maulid harus melahirkan perubahan nyata dalam kehidupan jamaah setelah acara selesai.

“Maulid bukan sekadar seremoni. Esensi Maulid itu sendiri harus membawa perubahan sifat dan perilaku kita sehari-hari di lingkungan masyarakat,” ujarnya.

Ia mengajak jamaah untuk menjadikan Rasulullah SAW sebagai teladan dalam kehidupan keluarga, bermasyarakat, maupun dalam menjalankan amanah pekerjaan.

“Kita harus mampu memberikan contoh akhlak yang baik, baik dalam kehidupan sehari-hari maupun ketika menjalankan amanah dan tanggung jawab,” katanya.

Pesan tersebut juga ia kaitkan dengan tugasnya sebagai wakil rakyat. Menurutnya, nilai-nilai keteladanan Rasulullah SAW semestinya diterapkan dalam menjalankan roda legislatif, terutama dalam melayani dan memperjuangkan kepentingan masyarakat.

“Kalau kita ingin masyarakat menghormati wakil rakyat, maka kita juga harus memberikan contoh. Jabatan bukan alasan untuk membuat jarak dengan masyarakat,” tegasnya.

Salah seorang jamaah, Rahman, memberikan apresiasi terhadap sosok KH Ahmad Yaudin Sogir yang dinilainya tetap dekat dengan masyarakat meski memiliki posisi sebagai anggota DPRD Kabupaten Bogor.

Rahman menilai, latar belakang pendidikan pesantren menjadi salah satu bekal penting dalam menjalankan peran sosial dan politiknya.

“Kami mengapresiasi punya wakil rakyat yang selalu merakyat tanpa sekat. Beliau mumpuni dalam agama, legislasi dan pengalaman keilmuan,” kata Rahman.

Menurutnya, latar belakang sebagai santri jebolan pondok pesantren juga menjadi nilai tersendiri karena seorang wakil rakyat dituntut mampu memahami persoalan masyarakat dari berbagai sisi.

“Beliau merupakan santri jebolan pondok pesantren yang diharapkan dapat menjawab berbagai persoalan di tengah masyarakat,” ujarnya.

Peringatan Maulid Nabi tersebut akhirnya tidak hanya menjadi ruang untuk mengenang kelahiran Rasulullah Muhammad SAW, tetapi juga menjadi momentum refleksi bagi jamaah agar nilai-nilai kenabian benar-benar hadir dalam kehidupan sosial.

Keteladanan, kerendahan hati, kepedulian, persaudaraan, dan penghormatan kepada sesama menjadi pesan utama yang disampaikan KH Ahmad Yaudin Sogir.

Pesan itu sejalan dengan firman Allah SWT dalam QS Al-Ahzab ayat 21 bahwa pada diri Rasulullah SAW terdapat suri teladan yang baik bagi orang-orang yang mengharap rahmat dan hari akhir.

Dengan demikian, esensi Maulid Nabi bukan hanya memperbanyak peringatan, tetapi bagaimana kecintaan kepada Rasulullah SAW diwujudkan melalui akhlak, pelayanan kepada masyarakat, dan perilaku nyata dalam kehidupan sehari-hari.

 

Reporter: Zakar

Tags: ,

Baca Juga

Rekomendasi lainnya