Liputan08.com, JAKARTA — Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Republik Indonesia (LPM RI) 2026 menegaskan pentingnya memperkuat posisi desa dan kelurahan sebagai basis utama pembangunan nasional.
Mengusung tema “Pemberdayaan Masyarakat Desa/Kelurahan Menuju Indonesia Maju”, Rakernas LPM RI tidak hanya menjadi forum konsolidasi organisasi, tetapi juga menjadi ruang untuk merumuskan strategi pemberdayaan masyarakat agar pembangunan nasional semakin kuat dari tingkat akar rumput.
Salah satu pengurus LPM RI, Dr. Dian Assafri Nasai, SH, menilai pembangunan nasional akan lebih efektif apabila masyarakat desa ditempatkan sebagai pelaku utama, bukan sekadar penerima manfaat program pemerintah.
Menurutnya, desa memiliki potensi besar dalam sektor pangan, ekonomi kerakyatan, UMKM, koperasi, pariwisata, hingga sumber daya manusia. Potensi tersebut perlu dikelola secara terintegrasi melalui kebijakan pemerintah dan partisipasi aktif masyarakat.
“Desa jangan hanya dilihat sebagai objek pembangunan. Desa harus menjadi subjek sekaligus pusat kekuatan ekonomi masyarakat. Ketika masyarakat diberi ruang untuk mengelola potensi wilayahnya, pembangunan akan tumbuh lebih kuat dan berkelanjutan,” ujar Dr. Dian Assafri Nasai, SH ,Jakarta Minggu (9/8/2026).
Ia menjelaskan, tantangan pembangunan desa saat ini bukan hanya persoalan infrastruktur, tetapi juga menyangkut kualitas sumber daya manusia, produktivitas ekonomi, akses pasar, teknologi, kelembagaan, serta kemampuan masyarakat mengelola potensi lokal.
Karena itu, pemberdayaan masyarakat harus diarahkan pada peningkatan kapasitas warga agar mampu menciptakan kegiatan ekonomi yang produktif dan mandiri.
Menurut Dr. Dian, berbagai agenda pemerintah seperti Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih, Program Makan Bergizi Gratis (MBG), penguatan ketahanan pangan, pengembangan UMKM, serta peningkatan produksi pertanian memiliki peluang besar untuk menjadi penggerak ekonomi desa apabila melibatkan masyarakat secara langsung.
Program MBG, misalnya, tidak semestinya hanya dipandang sebagai program pemenuhan kebutuhan gizi. Program tersebut juga dapat membangun rantai ekonomi lokal dengan melibatkan petani, peternak, nelayan, UMKM dan koperasi desa sebagai bagian dari penyedia bahan pangan.
“Program nasional akan memiliki dampak yang jauh lebih besar apabila rantai pasoknya melibatkan masyarakat lokal. Petani mendapatkan pasar, peternak mendapatkan kepastian permintaan, UMKM tumbuh, koperasi bergerak dan masyarakat memperoleh manfaat ekonomi secara langsung,” jelasnya.»
Ia juga menilai agenda ketahanan pangan harus ditempatkan sebagai bagian dari pembangunan desa secara menyeluruh. Peningkatan produksi pertanian membutuhkan dukungan terhadap petani, mulai dari ketersediaan lahan, irigasi, pupuk, teknologi, akses pembiayaan hingga kepastian pasar.
Dalam perspektif tersebut, desa tidak cukup hanya dibangun secara fisik. Pembangunan harus diarahkan untuk membangun kapasitas manusia, kelembagaan ekonomi dan kemandirian masyarakat.
Dr. Dian berpandangan, LPM RI dapat mengambil posisi strategis sebagai penghubung antara masyarakat dan berbagai program pembangunan pemerintah. Jaringan LPM yang berada di tingkat desa dan kelurahan menjadi modal sosial untuk mendorong partisipasi masyarakat sekaligus memastikan program pembangunan sesuai dengan kebutuhan warga.
“LPM harus hadir sebagai mitra masyarakat dan pemerintah. Perannya bukan mengambil alih kewenangan pemerintah, tetapi membantu membangun partisipasi, mengidentifikasi kebutuhan warga, mengembangkan potensi lokal dan memperkuat gotong royong dalam pembangunan,” katanya.
Ia menambahkan, pembangunan desa juga harus berbasis data dan kebutuhan nyata masyarakat. Pendataan potensi ekonomi, kelompok usaha, sumber daya manusia, sektor pertanian, UMKM hingga kebutuhan sosial masyarakat penting dilakukan agar kebijakan yang dibuat tidak bersifat seragam.
Pendekatan tersebut, kata dia, akan membuat pembangunan lebih tepat sasaran karena setiap desa memiliki karakter, potensi dan persoalan yang berbeda.
Rakernas LPM RI 2026 diharapkan tidak berhenti pada rumusan rekomendasi, tetapi menghasilkan gerakan nyata di lapangan. Penguatan kapasitas kader, pemberdayaan ekonomi masyarakat, ketahanan pangan, pengembangan UMKM dan penguatan kelembagaan desa menjadi bagian penting dari agenda tersebut.
“Ukuran keberhasilan pembangunan bukan hanya berapa banyak program yang dibuat, tetapi seberapa jauh program tersebut mampu meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Desa yang produktif, masyarakat yang berdaya dan ekonomi lokal yang tumbuh merupakan fondasi penting bagi kemajuan Indonesia,” tegas Dr. Dian Assafri Nasai, SH.
Tags: Dr. Dian Assafri Nasa'i, LPM RI
Baca Juga
-
30 Okt 2024
Warga Pertanyakan Alih Fungsi Lapangan Bola di Cilebut Barat Menjadi Fasilitas Sosial dan Umum
-
06 Jan 2025
Amalan-Amalan Penting di Bulan Rajab Dibahas dalam Pengajian Al-Ikhbar PWI Kabupaten Bogor
-
08 Jan 2025
Ciptakan Rutan Bebas Narkoba, Rutan Rengat dan Polsek Geledah Blok Hunian dan Tes Urine Warga Binaan
-
11 Jul 2026
Rudi Margono Ditunjuk Jadi Plt. JAM Pidsus, Kejagung Pastikan Penanganan Perkara Tetap Berjalan
-
23 Apr 2025
Bupati Rudy Susmanto Tinjau SDN Terbakar dan Makam Garisul Fokus Bangun Kembali Sekolah dan Lestarikan Budaya Lokal
-
19 Jun 2025
Mantan Pj Bupati Cilacap Ditahan, Diduga Rugikan Negara Rp237 Miliar dalam Kasus Korupsi Aset BUMD
Rekomendasi lainnya
-
11 Des 2025
Bupati Bogor Tegaskan Pramuka Harus Menjadi Garda Terdepan dan Kekuatan Besar Pembentuk Karakter Generasi Bangsa
-
12 Agu 2025
Bupati Bogor Lanjutkan Rangkaian HUT ke-80 RI di Cibungbulang, Tegaskan Komitmen Pelayanan Publik dan Keselamatan Kerja
-
17 Apr 2025
Putusan Sela PN Jakarta Pusat Tegaskan Hendry Ch Bangun Sah Ketum PWI
-
24 Jul 2026
Kelar Main! Empat Bos Tambang PT AKT Digiring ke Meja Hijau
-
13 Jul 2026
Rudy Susmanto Perkuat Sinergi dengan Kemensos, Pembangunan Sekolah Rakyat Jasinga Dipastikan Optimal
-
10 Nov 2025
Danramil 03 Serengan Bersama Kapolsek & Camat Launching SPPG-MBG Penyaluran Makanan Bergizi Gratis



