liputan08.com Jakarta – Ruang publik tetiba gaduh oleh polah salah satu pengacara paling tersohor di Indonesia, Hotman Paris Hutapea. Sosok yang kerap memamerkan kemewahan dan dikelilingi asisten pribadi gemulai-menawan ini kedapatan melontarkan makian kasar kepada awak media dalam acara konferensi pers beberapa waktu lalu.
Kalimat interogatif yang merendahkan, “Kau punya otak enggak?”, meluncur begitu saja dari mulutnya saat dikonfirmasi oleh para jurnalis mengenai keterlibatannya dalam pusaran pembelaan kasus hukum penguasa. Sikap ini bukan sekadar luapan emosi sesaat, melainkan sebuah anomali perilaku yang mengundang keprihatinan mendalam dari berbagai kalangan.
Menanggapi fenomena tersebut, Ketua Umum Dewan Pengurus Nasional Persatuan Pewarta Warga Indonesia (DPN PPWI), Wilson Lalengke, memberikan komentar kasual namun menohok jantung pertahanan sang pengacara. Dengan nada santai namun tajam, alumni PPRA-48 Lemhannas RI tahun 2012 itu menilai bahwa umpatan tersebut justru menunjukkan kelas sosial dan mentalitas asli seorang Hotman Paris.
“Gaya bicara seperti itu sebetulnya indikasi kuat kalau dia sedang mengalami degradasi mental, menunjukkan jati diri sebagai manusia rendahan yang sedang kelabakan karena urusan isi dompet,” ujar Wilson Lalengke merespon permintaan komentarnya oleh beberapa wartawan, Senin, 20 Juli 2026.
Menurut aktivis HAM internasional ini, masyarakat sering kali terjebak pada fatamorgana harta benda. Jumlah kekayaan, deretan mobil mewah, dan kilau berlian di sepuluh jemari sama sekali bukan indikator bahwa seseorang itu kaya secara hakiki.
Sebaliknya, tumpukan materi tersebut sering kali menjadi kedok bagi jiwa yang sangat miskin. Jiwa yang haus, kering, dan selalu merasa kekurangan sehingga harus berjuang mati-matian, menabrak segala etika, demi mendapatkan lebih banyak uang.
“Lihat saja para koruptor miliaran rupiah di negeri ini. Kurang apa mereka? Negara sudah fasilitasi rumah mewah, mobil dinas mengkilap, tunjangan melimpah, hingga gaji yang lebih dari cukup. Tapi dasarnya bermental miskin, mereka tetap saja merasa kurang. Akhirnya nekat menghalalkan segala cara untuk mengeruk uang rakyat. Nah, kondisi psikologis yang sama persis tampaknya sedang menjangkiti Hotman Paris,” tegas Wilson Lalengke.
Lebih lanjut, mantan dosen di Fakultas Psikologi Universitas Bina Nusantara Jakarta ini menganalisis bahwa perubahan drastis pada stabilitas emosi Hotman tidak bisa dilepaskan dari tekanan eksternal yang sedang dihadapinya. Saat ini, Hotman Paris tengah menghadapi gelombang resistensi dan kecaman masif dari publik lantaran keputusannya berdiri pasang badan membela Jaksa Agung Muda Bidang Tindak Pidana Khusus (Jampidsus), Febrie Adriansyah, yang terseret dalam pusaran sorotan kasus korupsi maha besar.
Pilihan pragmatis untuk membela oligarki atau penguasa yang bermasalah ini rupanya berbuntut panjang. Tekanan sosial dari masyarakat yang menuntut transparansi dan keadilan membuat Hotman terpojok dan kehilangan akal sehat.
“Dampaknya sangat terlihat jelas pada kondisi psikologisnya. Jiwanya terganggu, pola pikirnya menjadi kacau-balau, dan bicaranya tidak terkontrol lagi. Umpatan kepada wartawan itu adalah bentuk pertahanan diri yang rapuh dari seseorang yang argumen hukumnya sudah rontok,” tambah Wilson Lalengke.
Fenomena ini mengingatkan kita pada pandangan filsuf eksistensialis asal Prancis, Jean-Paul Sartre (1905-1980). Sartre pernah mengemukakan konsep tentang Bad Faith (Mauvaise Foi), sebuah kondisi di mana seseorang membohongi dirinya sendiri demi memenuhi peran sosial atau tuntutan materi, sehingga ia kehilangan kebebasan sejati dan integritas moralnya.
Ketika seorang penegak hukum mengorbankan nilai-nilai keadilan substantif demi membela kepentingan elit dan menumpuk harta, ia sedang terjebak dalam kepalsuan eksistensial. Kehilangan pegangan moral inilah yang memicu kecemasan hebat, yang kemudian termanifestasi dalam bentuk ledakan amarah verbal yang tidak terkontrol.
Tak hanya Sartre, filsuf klasik Stoikisme, Seneca (4-65), dalam risalahnya mengenai kekayaan dan kebahagiaan, juga pernah menulis kalimat monumental: “Non qui parum habet, sed qui plus cupit, pauper est”, bukan orang yang memiliki sedikit yang miskin, melainkan dia yang selalu menginginkan lebih banyak.
Kemiskinan mental yang disinggung Wilson Lalengke berkelindan erat dengan tesis Seneca ini. Hotman, dengan segala kemewahan fisiknya, terjebak dalam kemiskinan eksistensial karena jiwanya terus-menerus merasa terancam oleh kekurangan materi dan pudarnya atensi publik.
Di akhir pernyataannya, Wilson Lalengke memberikan pesan penyemangat bagi seluruh jurnalis dan pekerja media yang kerap menjadi sasaran empuk arogansi para pesohor dan pejabat. Ia meminta awak media tidak perlu berkecil hati atau merasa terhina dengan makian tersebut.
Bagi rekan-rekan wartawan, katanya, ubah cara pandang saat melihat fenomena Hotman Paris mengumpat. Anggap saja makian ‘tidak punya otak’ itu sebagai bentuk pengakuan jujur dari seorang manusia rendahan yang frustrasi karena berhadapan dengan wartawan yang jauh lebih cerdas, tajam, dan berintegritas.
“Dia mengumpat karena otaknya sendiri sudah buntu, tidak mampu lagi menjawab pertanyaan-pertanyaan kritis yang mewakili keresahan publik. Wartawan justru menang secara moral, sementara dia kalah telak dan menelanjangi kebodohannya sendiri di depan kamera yang membesarkannya,” pungkas petisioner PBB 2025 itu menutup pembicaraan. (TIM/Red)
Tags: Hotman Paris Hutapea
Baca Juga
-
25 Mei 2026
Meluruskan Logika Geopolitik dan Etika Kemanusiaan: Jawaban atas Paradoks Pembelaan Aktivisme Tanpa Prosedur
-
11 Jun 2026
Pelarian Berakhir, Buronan Korupsi Dana Sertifikat Tanah Rp1,2 Miliar Ditangkap di Kuantan Singingi
-
06 Okt 2025
Letjen TNI Bambang Trisnohadi, Peraih Adhi Makayasa yang Pimpin Upacara HUT Ke-80 TNI di Monas
-
16 Agu 2025
Prabowo Tegaskan Negara Hadir: 3,1 Juta Hektare Lahan Hutan Direbut Kembali dari Cengkeraman Penguasa Ilegal
-
11 Nov 2025
Bupati Bogor Raih Penghargaan Cita Negeri 2025 dari Kompas TV
-
07 Agu 2025
Kejaksaan Tinggi Sumsel Sikat Koruptor: Uang Rp506 Miliar Disita, Aset Rp400 Miliar Dibekukan
Rekomendasi lainnya
-
26 Nov 2024
Kemendikdasmen Jamin Perlindungan Guru, Pj. Bupati Bogor: Guru Adalah Pilar Kemajuan Bangsa
-
07 Agu 2026
Geger! 995 Senjata dan Narkoba Ditemukan di Sekolah Swasta Jaksel
-
16 Sep 2026
Empat Orang Kepercayaan Nusron Jadi Tersangka, KPK: Bongkar Dah, Siape Main di Balik Kasus HGB Bogor!
-
02 Feb 2026
Saksi Bongkar Dugaan Permintaan Rp6 Miliar oleh Oknum Kejagung di Sidang Noel Ebenezer
-
26 Nov 2024
Kepada Pemprov Sumsel Kejati Sumsel Serahkan Pengelola Barang Bukti Aset Yayasan Batanghari Sembilan
-
07 Agu 2025
Kejaksaan Tinggi Sumsel Sikat Koruptor: Uang Rp506 Miliar Disita, Aset Rp400 Miliar Dibekukan


