Liputan08.com – Di sudut selatan Kabupaten Tanggamus, tepatnya di Kampung PLN, Desa Pekondoh, Kecamatan Cukuh Balak, sebuah jalan berdiri bukan sebagai simbol kemajuan negara, melainkan sebagai monumen sunyi dari ketabahan rakyat. Jalan yang seharusnya menjadi tanggung jawab negara itu justru lahir dari patungan warga—dari recehan yang dikumpulkan dengan sabar, dari tenaga yang disumbangkan tanpa upah, dan dari keyakinan bahwa hidup harus terus berjalan meski negara tak kunjung hadir.
Jalan tersebut selama bertahun-tahun rusak. Lubang menganga, dan genangan air menjadi keseharian warga. Anak-anak menuju sekolah harus meniti bahaya, petani kesulitan membawa hasil panen, dan roda ekonomi desa tersendat. Namun alih-alih menunggu, masyarakat memilih bergerak.

Tanpa seremoni, tanpa spanduk proyek, warga bahu-membahu memperbaiki jalan. Ada yang menyumbang semen, pasir, batu, ada pula yang menyumbang tenaga sejak pagi hingga petang. Gotong royong kembali menemukan maknanya—bukan sebagai slogan kebudayaan, melainkan sebagai jalan keluar terakhir.
Warga Kampung PLN, mengisahkan mereka yang telah lama menuggu.
“Jalan ini kami bangun dari uang patungan warga. Tidak ada bantuan pemerintah. Kami iuran semampunya. Kalau menunggu, entah sampai kapan. Ini jalan hidup kami, bukan sekadar jalan desa,” ujar Warga dengan suara datar, menyimpan letih yang tak lagi ingin dipertontonkan, Minggu (11/1/2026)
Menurut warga, keputusan warga untuk patungan bukan karena tidak percaya pada negara, melainkan karena keadaan memaksa mereka bertindak.
“Kami ini rakyat kecil. Kalau tidak bergerak sendiri, anak-anak kami terus terjebak lobang. Negara seharusnya hadir di sini, tapi yang datang hanya kesabaran kami sendiri,” tambahnya.
Fenomena ini memantik kritik keras dari kalangan mahasiswa. Ketua Umum Mahasiswa Peduli Hukum, Ali Wardana, yang juga putra daerah setempat, menilai kondisi tersebut sebagai potret nyata kegagalan negara dalam menjalankan mandat konstitusionalnya.
“Ini bukan sekadar soal jalan rusak, ini soal abainya negara. Di mana dana desa? Ke mana arah reses DPRD? Mengapa rakyat harus berjuang sendirian membangun infrastruktur dasar?” tegas Ali Wardana.
Menurut Ali, pembangunan jalan oleh swadaya masyarakat tidak boleh dinormalisasi apalagi dirayakan secara berlebihan, karena justru menutupi persoalan struktural yang lebih dalam.
“Gotong royong itu mulia, tapi ketika gotong royong dipakai untuk menutup kelalaian negara, itu menjadi ironi. Negara tidak boleh bersembunyi di balik ketabahan rakyatnya,” ujarnya.
Ia menekankan bahwa dana desa sejatinya dirancang untuk menjawab persoalan-persoalan mendasar seperti infrastruktur, bukan sekadar kegiatan seremonial atau proyek yang tak menyentuh kebutuhan riil warga.
“Dana desa ada, APBD ada, pejabat ada. Tapi mengapa jalan ini dibangun dari uang rakyat lagi? Ini pertanyaan moral dan politik yang harus dijawab,” kata Ali.
Jalan Kampung PLN kini memang mulai mengeras oleh semen, namun pertanyaan tentang kehadiran negara justru semakin mencair. Pembangunan swadaya itu menjadi bukti bahwa masyarakat memiliki daya hidup luar biasa, sekaligus menjadi dakwaan diam-diam terhadap sistem yang gagal menjangkau pinggiran.
Di Pekondoh, gotong royong bukanlah pesta kebersamaan, melainkan bentuk perlawanan sunyi. Jalan itu tidak hanya menghubungkan kampung dengan dunia luar, tetapi juga menghubungkan nurani publik dengan realitas yang kerap diabaikan: bahwa di republik ini, masih ada rakyat yang membangun negaranya seorang diri.
Dan di atas jalan yang dibangun dengan luka itu, harapan tetap tumbuh—meski negara belum sepenuhnya pulang.
Tags: Gotong Royong di Kampung PLN Cukuh Balak Menjadi Cermin Sunyi tentang Dana Desa, Reses DPRD
Baca Juga
-
07 Jul 2025
Perspektif PPWI tentang Peran Wartawan sebagai Entrepreneur dan Fungsi Jurnalisme Berbasis Masyarakat
-
25 Des 2024
Wamenpar Bersama Pemkab Bogor Pantau Langsung Kesiapan Fasilitas dan Keamanan Wisata Taman Safari Selama Liburan Nataru
-
06 Jan 2025
Wakil Ketua Komisi I Kabupaten Bogor Geram Industri Harus Taat Perda Jangan Abaikan Dampak Lingkungan
-
07 Agu 2025
Wamenko Polkam Resmikan Groundbreaking Dapur Gizi di Babakan Madang
-
23 Mei 2025
Kabupaten Bogor Raih Juara Nasional SPM Awards 2025, Rudy Susmanto Pelayanan Terbaik untuk Rakyat
-
27 Okt 2024
Tawuran di Perbatasan Tanah Sareal-Sukaraja KH Achmad Yaudin Sogir Soroti Kinerja Keamanan dan Tuntut Penegakan Perda
Rekomendasi lainnya
-
13 Feb 2025
Pj Bupati Bogor dan Lurah Nanggewer Mekar Resmi Buka Gerakan Pangan Murah untuk Stabilitas Harga Jelang Ramadhan
-
03 Feb 2025
JAM-Pidum Setujui Restorative Justice untuk Dua Kasus Narkotika di Padang
-
09 Mar 2025
Satresnarkoba Polres Boyolali Tangkap Pengedar Sabu Amankan 1,35 Gram Barang Bukti
-
17 Apr 2025
Putusan Sela PN Jakarta Pusat Tegaskan Hendry Ch Bangun Sah Ketum PWI
-
24 Jun 2025
Invitasi Ortrad Jenjang SD Ramaikan Event Kabogorfest 2025
-
11 Nov 2024
Kejaksaan Agung Periksa Dua Saksi dalam Kasus Korupsi Proyek Jalur Kereta Api Besitang-Langsa




