Breaking News

Macan Tutul Terpojok, Kawanan Anjing Penjilat Mulai Buka Aib

Macan Tutul Terpojok, Kawanan Anjing Penjilat Mulai Buka Aib

KONOHA — Ketika seekor macan tutul naik menjadi penguasa, kawanan anjing langsung berdatangan. Ada yang membawa pujian, ada yang membawa janji, ada yang menawarkan proyek, bahkan ada yang rela mengibaskan ekor setiap hari demi mendapatkan tulang dari meja kekuasaan. Semua mengaku setia, semua mengaku sahabat, semua berlomba menjadi yang paling dekat dengan macan tutul.

Tetapi hukum rimba selalu berubah ketika terdengar langkah gajah besar dari kejauhan. Kawanan anjing yang sebelumnya berkerumun mendadak berpencar. Yang dahulu paling rajin menjilat kini mulai menggonggong dari kejauhan. Yang dulu memuji mulai mencaci. Yang dulu ikut menikmati hangatnya kekuasaan tiba-tiba mengaku tidak pernah berada di lingkaran macan tutul. Bahkan sebagian mulai membuka aib kawanan sendiri, seolah-olah dirinya paling bersih dan paling suci.

Padahal masyarakat memiliki mata dan ingatan. Jejak kaki tidak mudah dihapus hanya karena arah angin berubah. Anjing yang terlalu lama menjilat tulang tentu tahu dari mana tulang itu berasal.

Inilah kelucuan politik kekuasaan di negeri Konoha. Ketika macan tutul kuat, semua berebut berlindung di bawah bayangannya. Ketika macan tutul mulai terpojok, semua berlomba mencari pohon lain untuk berteduh. Satu membuka cerita, yang lain membalas. Satu menggonggong, yang lain ikut menggigit. Mereka lupa bahwa halaman yang pernah digunakan bersama masih meninggalkan jejak.

Sementara itu gajah terus berjalan. Tidak banyak bicara, tidak perlu berteriak, tetapi setiap langkahnya membuat penghuni hutan mulai gelisah. Macan tutul pun mulai menoleh ke kanan dan kiri. Kawanan yang dahulu memenuhi halaman kekuasaan kini satu per satu menghilang. Ada yang masuk semak-semak, ada yang pura-pura tidak mengenal, dan ada yang justru menjadi penggonggong paling keras.

Di sinilah satire kehidupan kekuasaan menemukan panggungnya: dulu menjilat macan tutul, sekarang menggigit macan tutul. Dulu memuji, sekarang membuka aib. Dulu ikut berdiri di belakang penguasa, sekarang berlomba mengatakan dirinya korban.

Namun hukum tidak bekerja dengan gonggongan. Tuduhan bukan vonis dan cerita bukan bukti. Siapa yang salah harus dibuktikan melalui proses hukum. Tetapi satu hal yang tidak bisa dibantah, ketika gajah sudah masuk hutan, banyak penghuni mulai panik.

Macan tutul bingung harus bersandar kepada siapa, sementara kawanan anjing sibuk menyelamatkan diri masing-masing. Mereka yang dahulu merasa kebal karena dekat dengan kekuasaan kini mulai sadar bahwa kekuasaan bukanlah tameng abadi.

Maka pertanyaan paling menggelitik di Konoha sekarang bukan lagi siapa yang paling setia kepada macan tutul, melainkan siapa yang benar-benar setia, siapa yang sekadar menjilat, dan siapa yang akhirnya membuka aib kawanan sendiri demi menyelamatkan diri?

Gajah terus berjalan, macan tutul mulai gelisah, sementara kawanan anjing semakin gaduh. Dan ketika hutan mulai terang, semua jejak yang selama ini tersembunyi bisa saja terlihat.

Kini macan tutul hanya bisa bertanya dalam hati: “Kalau semua anjing mulai menggonggong kepadaku, aku harus lari ke mana?”

Tags:

Baca Juga

Rekomendasi lainnya