Sabtu 25 Juli 2026
Pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang menyinggung adanya oknum LSM, pengamat, dan wartawan yang bekerja untuk kepentingan asing dengan menyebut istilah “londo ireng” memantik perdebatan luas di ruang publik. Di satu sisi, Presiden menegaskan bahwa yang dimaksud adalah oknum, bukan seluruh profesi wartawan, aktivis, maupun pengamat. Namun di sisi lain, penggunaan istilah yang memiliki beban sejarah tersebut menimbulkan kegelisahan di kalangan insan pers dan masyarakat sipil.
Dalam sejarah Indonesia, istilah “londo ireng” bukanlah istilah baru. Pada masa kolonial Belanda, sebutan itu digunakan kepada pribumi yang dianggap berpihak kepada kepentingan penjajah. Mereka bukan orang Belanda, tetapi bekerja menjadi perpanjangan tangan kekuasaan kolonial, baik sebagai informan, penekan rakyat, maupun pelaksana kebijakan yang merugikan bangsanya sendiri. Karena itu, istilah tersebut memiliki makna historis yang sangat sensitif dan sarat konotasi pengkhianatan.
Sejarah juga mencatat bahwa campur tangan kepentingan asing terhadap dinamika politik, ekonomi, hingga media di berbagai negara, termasuk Indonesia, bukanlah sesuatu yang mustahil. Pada era Perang Dingin, berbagai negara besar menggunakan lembaga swadaya masyarakat, media, lembaga riset, hingga organisasi sipil sebagai instrumen soft power untuk memengaruhi arah kebijakan negara lain. Fakta sejarah itu telah banyak dibahas dalam berbagai kajian akademik hubungan internasional.
Namun, pengakuan atas adanya kemungkinan infiltrasi kepentingan asing tidak boleh menjadi alasan untuk menggeneralisasi seluruh profesi. Pers Indonesia lahir dari perjuangan bangsa. Wartawan Indonesia memiliki sejarah panjang sebagai pejuang kemerdekaan, pengawal demokrasi, sekaligus pengawas jalannya pemerintahan. Tanpa pers yang bebas, praktik korupsi, penyalahgunaan kekuasaan, dan pelanggaran hukum akan semakin sulit diungkap.
Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers menegaskan bahwa kemerdekaan pers merupakan salah satu wujud kedaulatan rakyat. Karena itu, kritik kepada pemerintah adalah bagian dari fungsi kontrol sosial, bukan bentuk permusuhan terhadap negara. Sebaliknya, wartawan yang menerima bayaran untuk menyebarkan informasi palsu, propaganda, atau kepentingan tertentu memang telah mengkhianati etika jurnalistik. Mereka bukan mewakili pers Indonesia, melainkan oknum yang harus diproses sesuai hukum dan kode etik.
Di sinilah letak keseimbangan yang harus dijaga. Negara berhak melindungi kedaulatan nasional dari intervensi asing. Akan tetapi, tuduhan mengenai adanya pihak yang bekerja untuk kepentingan asing harus dibuktikan melalui fakta, data, dan proses hukum, bukan sekadar asumsi. Demokrasi yang sehat menuntut transparansi sekaligus penghormatan terhadap kebebasan berekspresi.
Redaksi berpandangan bahwa pernyataan Presiden sepatutnya dibaca sebagai peringatan terhadap oknum, bukan sebagai cap bagi seluruh wartawan, LSM, maupun pengamat. Sebaliknya, insan pers juga harus menjadikan momentum ini sebagai refleksi untuk terus menjaga independensi, menolak konflik kepentingan, serta memperkuat profesionalisme.
Pada akhirnya, pers yang merdeka dan pemerintah yang terbuka bukanlah dua kekuatan yang saling berhadapan. Keduanya merupakan pilar penting dalam menjaga demokrasi. Musuh sesungguhnya bukan kritik, melainkan kebohongan, manipulasi informasi, dan pengkhianatan terhadap kepentingan bangsa. Sejarah telah mengajarkan bahwa bangsa yang kuat adalah bangsa yang mampu menerima kritik dengan kepala dingin, sekaligus berani menindak siapa pun yang benar-benar terbukti mengabdi kepada kepentingan selain kepentingan Republik Indonesia.
Tags: "Londo Ireng", dan Martabat Pers Indonesia, Kritik Presiden
Baca Juga
-
06 Sep 2025
Pemkab Bogor Gelar Festival dan Kejuaraan Silat Cimande: Perebutkan Piala Bupati dan Kukuhkan Warisan Budaya Dunia
-
08 Feb 2025
PMPP TNI Rayakan HUT Ke-18 dengan Syukuran dan Berbagai Kegiatan Bermakna
-
29 Apr 2026
Eks Gubernur Lampung Arinal Djunaidi Jadi Tersangka! Skandal Dana Rp271 Miliar Terkuak dari Sidang
-
03 Mei 2025
Sinergi TNI AU dan Pemkab Bogor Hadirkan Dapur Bergizi dan Sentra Edukasi, Ciptakan Generasi Sehat dari Lanud ATS
-
24 Sep 2026
BREAKING NEWS: Tim SIRI Kejagung Amankan DPO Korupsi Kolaka, Kerugian Negara Rp233 Miliar
-
12 Mar 2025
Pangdam Iskandar Muda Pimpin Sertijab Pejabat Kodam IM: Regenerasi dan Penyegaran Organisasi
Rekomendasi lainnya
-
15 Des 2024
Pernikahan Putri Zulkifli Hasan dan Zumi Zola Perpaduan Tradisi Adat Jambi dan Kehadiran Tokoh Nasional
-
17 Okt 2024
Reda Manthovani Terima Penghargaan Tokoh Pejuang Hak-Hak Disabilitas di Detikcom Awards 2024
-
13 Mei 2026
PMC Tegaskan Penguasaan Lahan Berdasarkan SHGB, Bantah Tuduhan Penyerobotan di Tamansari-Sukajaya
-
09 Jul 2025
Bupati Bogor Komitmen Jaga Hulu Jawa Barat, Dorong Gunung Sanggabuana Jadi Kawasan Konservasi Permanen
-
20 Sep 2025
Apresiasi Keterbukaan Informasi: Dari Bupati Bogor hingga Kepala Bidang, Contoh Pejabat Publik yang Layak Diteladani
-
22 Okt 2024
Satgas Yonif 509 Kostrad Dukung Ekonomi Warga Yoparu melalui Program ROSITA


