Breaking News

Jangan Lewatkan! Matahari Tepat di Atas Ka’bah 15–16 Juli, Inilah Waktu Paling Akurat Menentukan Arah Kiblat

liputan08.com – Fenomena tahunan saat Matahari berada tepat di atas Ka’bah kembali terjadi pada 15 dan 16 Juli 2026. Peristiwa astronomi yang dikenal sebagai Istiwa A’zam ini menjadi momen penting bagi umat Islam di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia, untuk memeriksa dan meluruskan arah kiblat dengan tingkat akurasi yang sangat tinggi.

Secara ilmiah, fenomena ini terjadi ketika posisi Matahari tepat berada di zenit Ka’bah di Kota Makkah. Pada saat itu, bayangan benda yang berdiri tegak akan mengarah tepat berlawanan dengan Ka’bah. Karena itu, arah menuju Matahari merupakan arah kiblat yang benar.

Bagi wilayah Indonesia, fenomena ini dapat diamati sekitar pukul 16.27 WIB atau disesuaikan dengan zona waktu masing-masing daerah. Agar hasilnya akurat, masyarakat dianjurkan menggunakan jam yang telah disesuaikan dengan waktu resmi Indonesia.

Cara menentukan arah kiblat sangat mudah:

Siapkan tongkat atau benda yang benar-benar tegak lurus.

Tempatkan di lokasi yang terkena sinar Matahari langsung.

Tepat pada waktu fenomena terjadi, amati bayangannya.

Arah yang berlawanan dengan ujung bayangan adalah arah Ka’bah (arah kiblat).

Beri tanda sebagai acuan arah kiblat untuk salat.

Metode ini telah lama digunakan para ahli falak dan diakui sebagai salah satu cara paling akurat untuk menguji arah kiblat tanpa memerlukan kompas maupun perangkat elektronik.

KH Achmad Yaudin Sogir, ulama sekaligus Anggota DPRD Kabupaten Bogor, mengatakan bahwa fenomena ini bukan sekadar peristiwa astronomi, melainkan juga momentum memperkuat keimanan.

“Allah memperlihatkan tanda-tanda kebesaran-Nya melalui keteraturan alam semesta. Fenomena Matahari tepat di atas Ka’bah mengajarkan bahwa Islam sejalan dengan ilmu pengetahuan. Momentum ini hendaknya dimanfaatkan umat Islam untuk meluruskan arah kiblat sekaligus meluruskan niat, ibadah, dan akhlak dalam kehidupan sehari-hari,” ujar KH Achmad Yaudin Sogir.

Ia menambahkan, Al-Qur’an berkali-kali mengajak manusia memperhatikan peredaran Matahari, Bulan, dan benda-benda langit sebagai bukti kebesaran Allah SWT. Karena itu, memanfaatkan fenomena ini merupakan bagian dari ikhtiar menjalankan ibadah dengan benar berdasarkan ilmu pengetahuan.

Fenomena Istiwa A’zam terjadi dua kali setiap tahun dan menjadi kesempatan yang sangat berharga bagi umat Islam untuk memastikan arah kiblat masjid, musala, maupun rumah secara tepat. Dengan memanfaatkan momen ini, ibadah dapat dilaksanakan dengan keyakinan bahwa arah kiblat telah sesuai dengan posisi Ka’bah di Masjidil Haram.

Tags: , ,

Baca Juga

Rekomendasi lainnya