liputan08.com BOJONGGEDE – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bogor melalui Kecamatan Bojonggede bersama dinas terkait mengambil langkah penanganan banjir yang kerap terjadi di wilayah Kedung Waringin, khususnya di sepanjang Jalan Raya Bojonggede–Cilebut. Upaya penanganan difokuskan pada normalisasi saluran irigasi yang selama ini mengalami penyempitan dan sedimentasi.
Camat Bojonggede, Tenny Ramdhani menjelaskan, banjir yang terjadi bukan disebabkan oleh sampah, melainkan karena adanya penyempitan aliran di bawah rel kereta serta tingginya endapan lumpur yang menghambat aliran air menuju Sungai Cibeureum.
“Penyempitan ini terjadi karena saluran sempat ditutup oleh warga untuk mencegah air masuk ke permukiman. Namun kondisi tersebut justru membuat aliran air tidak lancar dan menimbulkan genangan di jalan,” ujar Tenny, Senin (20/4).
Menurutnya, kondisi tersebut menjadi dilema. Jika saluran dibuka tanpa penanganan terlebih dahulu, berpotensi menimbulkan banjir yang lebih besar ke kawasan permukiman. Karena itu, langkah awal yang harus dilakukan adalah normalisasi saluran irigasi.
“Normalisasi harus kita lakukan terlebih dahulu. Setelah itu, penyempitan di bawah rel bisa dibongkar agar aliran air kembali normal dan risiko banjir dapat diminimalisir,” tandas Tenny.
Pemkab Bogor bersama pemerintah desa dan instansi terkait telah menyusun langkah penanganan melalui pengerukan sedimentasi. Namun, keterbatasan akses di lokasi membuat pengerukan tidak dapat dilakukan dengan alat berat, sehingga harus dilakukan secara manual.
Untuk mempercepat penanganan, pemerintah mendorong keterlibatan masyarakat melalui kegiatan gotong royong. Pembagian tugas telah disiapkan antara pemerintah desa, masyarakat, dan pihak kecamatan.
Selain itu, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Bogor juga telah menyatakan kesiapan untuk membantu menyediakan armada pengangkut, seperti dump truck, guna mengangkut material hasil pengerukan.
Camat Bojonggede juga mengungkapkan bahwa terdapat dua titik penyempitan utama yang menjadi fokus penanganan, yakni di perlintasan Gaperi dan di bawah rel dekat pertigaan Kedung Waringin. Untuk titik di perlintasan Gaperi, normalisasi sebelumnya sudah pernah dilakukan. Sementara untuk titik di bawah rel, penanganan harus dilakukan secara swadaya melalui gotong royong masyarakat.
Di sisi lain, pemerintah juga menyoroti adanya bangunan warga yang berdiri di sempadan irigasi. Hal tersebut dinilai melanggar aturan dan turut mempersempit saluran air. Ke depan, Pemkab Bogor berharap adanya komitmen dan kesadaran masyarakat untuk bersama-sama menjaga fungsi saluran irigasi serta tidak melakukan penutupan aliran air.(TIM KOMUNIKASI PUBLIK / DISKOMINFO KABUPATEN BOGOR)
Tags: Pemkab Bogor
Baca Juga
-
28 Agu 2026
Kabupaten Bogor Turut Serta dalam Sekolah Vertical Rescue Indonesia Tingkat 1 Angkatan 296
-
19 Jun 2025
Polres Semarang Polda Jateng Gelar Anjangsana untuk Personel Sakit dan Warakawuri
-
17 Des 2024
JAM-Pidum Setujui 12 Kasus Restorative Justice, Termasuk Pencurian Paket di Samarinda
-
25 Des 2024
Satgas Yonzipur 5/ABW Gelar Sweeping Kendaraan di Perbatasan, Tingkatkan Keamanan dan Cegah Penyelundupan Jelang Natal
-
20 Jun 2026
Temu Apresiasi BPJS Ketenagakerjaan, Jaro Ade Dorong Perlindungan Pekerja Rentan
-
25 Jul 2025
Perkuat Sinergi Keamanan, Bupati Bogor Terima Kunjungan Resimen 1 Pasukan Pelopor Brimob
Rekomendasi lainnya
-
24 Jun 2025
Ribuan Peserta Antusias Ikuti Invitasi Ortrad Jenjang SD Tingkat Kabupaten Bogor
-
02 Des 2024
Satgas Pamtas RI-RDTL Pos Nelu Bantu Pembuatan WC di Desa Sunsea
-
14 Jul 2026
KH Achmad Yaudin Sogir Minta ATR/BPN Prioritaskan Sertifikat Wakaf Demi Pendidikan dan Kepastian Hukum Umat
-
06 Sep 2025
Romzi Edy Tinjau Langsung Lokasi Banjir dan Longsor di Tanggamus, Puluhan Rumah Terendam
-
18 Jun 2025
PWI DIY Dukung Pengajuan Hari Kebudayaan Nasional Upaya Memperkuat Jati Diri dan Diplomasi Budaya Bangsa
-
08 Apr 2025
Gawat! Ketua PWI Pusat Hendry Ch Bangun Ambil Langkah Tegas: Anggota Membelot Dibekukan dan Dicabut Keanggotaannya





