liputan08.com JAKARTA – Penunjukan Muhammad Sarmuji sebagai Menteri Perindustrian dalam Kabinet Merah Putih dinilai memiliki dasar yang cukup kuat jika dilihat dari perjalanan pendidikan, pengalaman organisasi, parlemen, hingga kepemimpinannya di Partai Golkar.
Pandangan tersebut disampaikan Dr. Dian Assafri Nasai S.H Dosen universitas Pancasila yang menilai Sarmuji bukan sosok yang lahir secara tiba-tiba dari panggung politik. Sebelum dipercaya Presiden Prabowo Subianto memimpin Kementerian Perindustrian, Sarmuji telah melewati perjalanan panjang dalam dunia akademik, organisasi kepemudaan, politik dan lembaga legislatif.
“Kalau kita melihat rekam jejaknya secara utuh, Sarmuji memiliki modal kepemimpinan yang cukup lengkap. Ada basis akademik, pengalaman organisasi, pengalaman politik dan pengalaman di parlemen. Kombinasi seperti ini penting ketika seseorang harus memimpin kementerian yang berhubungan langsung dengan pembangunan ekonomi nasional,” ujar Dr. Dian Nasai dalam pandangannya,Jakarta Minggu (4/10/2026)
Sarmuji lahir di Surabaya pada 10 Juni 1974. Pendidikan dasar hingga menengah ditempuh di Surabaya. Setelah menyelesaikan pendidikan menengah, ia melanjutkan studi di Universitas Jember pada bidang Manajemen dan kemudian meneruskan pendidikan pascasarjana di Universitas Indonesia dalam bidang ilmu administrasi.
Menurut Dian, latar belakang pendidikan tersebut memberikan fondasi yang relevan dengan kebutuhan seorang pengambil kebijakan.
“Manajemen memberikan perspektif tentang bagaimana organisasi dan sumber daya dikelola, sementara ilmu administrasi memperkuat pemahaman mengenai tata kelola. Ketika dua hal tersebut bertemu dengan pengalaman politik dan pemerintahan, seseorang mempunyai bekal untuk memahami persoalan secara lebih komprehensif,” katanya.
Perjalanan Sarmuji tidak berhenti di bangku kuliah. Ia mulai membangun pengalaman kepemimpinan melalui organisasi.
Sarmuji tercatat pernah menjadi Ketua Koperasi Mahasiswa Universitas Jember periode 1996–1998. Setelah itu, ia dipercaya sebagai Ketua Umum HMI Cabang Jember periode 1998–2000 dan kemudian berkiprah di tingkat Pengurus Besar HMI.
Karier organisasinya kemudian berkembang melalui sejumlah organisasi kepemudaan, antara lain DPP AMPI, KNPI, AMPG, serta HKTI. Rekam jejak tersebut memperlihatkan bahwa pengalaman kepemimpinan Sarmuji dibangun secara bertahap sejak usia muda.
“Organisasi adalah sekolah kepemimpinan yang tidak hanya mengajarkan teori. Di sana seseorang belajar mengelola perbedaan, mengambil keputusan, membangun komunikasi dan mempertanggungjawabkan keputusan. Pengalaman panjang Sarmuji di organisasi tentu menjadi modal ketika ia harus mengelola birokrasi dan berbagai kepentingan di sektor industri,” ujar Dian.
Sarmuji kemudian masuk ke dunia politik dan terpilih sebagai anggota DPR RI sejak 2014. Dalam perjalanan di parlemen, ia pernah berada di Komisi VI, Komisi IX dan Komisi XI, serta pernah memegang posisi pimpinan Fraksi Partai Golkar.
Pengalaman di Komisi VI menjadi salah satu bagian penting dalam melihat relevansinya dengan jabatan Menteri Perindustrian karena komisi tersebut bersinggungan dengan sektor perdagangan, perindustrian, investasi dan BUMN.
Bagi Dian, pengalaman tersebut memberikan keuntungan tersendiri karena Sarmuji telah bersentuhan langsung dengan pembahasan kebijakan ekonomi dan sektor usaha dari perspektif legislatif.
“Seorang menteri tidak cukup hanya memahami teori industri. Dia harus memahami bagaimana kebijakan dibuat, bagaimana dunia usaha merespons kebijakan, bagaimana kepentingan tenaga kerja diperhatikan, dan bagaimana negara membangun ekosistem industri. Pengalaman di parlemen memberikan ruang pembelajaran terhadap persoalan-persoalan tersebut,” katanya.
Sebelum ditunjuk menjadi Menteri Perindustrian, Sarmuji merupakan Sekretaris Jenderal DPP Partai Golkar periode 2024–2029. Posisi tersebut memperlihatkan bahwa ia telah dipercaya mengelola organisasi politik tingkat nasional.
Presiden Prabowo Subianto kemudian melantik Sarmuji sebagai Menteri Perindustrian di Istana Negara, Jakarta, pada 1 Oktober 2026, menggantikan Agus Gumiwang Kartasasmita.
Menurut Dian, pengalaman tersebut membuat Sarmuji memiliki pekerjaan rumah yang besar sekaligus peluang untuk membuktikan kapasitasnya.
Kementerian Perindustrian menghadapi tantangan strategis, mulai dari peningkatan daya saing manufaktur, hilirisasi, investasi, penguatan industri nasional, pengembangan teknologi, hingga penciptaan lapangan kerja.
“Ukuran keberhasilan Sarmuji bukan semata-mata seberapa banyak kebijakan yang dibuat, tetapi seberapa jauh kebijakan itu menghasilkan perubahan nyata. Industri harus tumbuh, investasi harus berkualitas, tenaga kerja harus memperoleh manfaat dan nilai tambah sumber daya alam harus semakin besar berada di dalam negeri,” tutur Dian.
Ia menilai kepemimpinan di Kementerian Perindustrian membutuhkan kemampuan menjembatani pemerintah, pelaku usaha, pekerja, investor, akademisi dan masyarakat.
“Karena itu saya melihat Sarmuji memiliki modal awal yang cukup. Tinggal bagaimana seluruh pengalaman akademik, organisasi, politik dan legislatif tersebut diterjemahkan menjadi kebijakan industri yang konkret, terukur dan berpihak pada kepentingan ekonomi nasional,” ujarnya.
Dengan perjalanan dari aktivis mahasiswa, organisasi kepemudaan, parlemen hingga Sekretaris Jenderal Partai Golkar, Sarmuji kini memasuki fase baru dalam kariernya sebagai pejabat negara.
Jabatan Menteri Perindustrian menjadi ujian sekaligus kesempatan untuk membuktikan apakah pengalaman panjang tersebut mampu diterjemahkan menjadi kebijakan yang memperkuat fondasi industrialisasi Indonesia.
Bagi Dian, penunjukan tersebut pada akhirnya harus dilihat dari hasil kerja.
“Publik tentu tidak cukup hanya melihat siapa yang ditunjuk. Publik akan menunggu apa yang dihasilkan. Di situlah kapasitas Sarmuji sebagai Menteri Perindustrian akan benar-benar diuji,” pungkasnya.
Reporter: Zarkasi
Tags: Dr. Dian Assafri Nasai S.H
Baca Juga
-
25 Jul 2025
Ketua Umum PWI Pusat Murka: Surat Pemberitahuan Kongres PWI Disebut Ilegal dan Memicu Kegaduhan
-
20 Agu 2025
Kejati Sumut Tangkap dan Serahkan Tersangka Korupsi Penyaluran Kredit PT Bank Sumut ke Jaksa Penuntut Umum
-
21 Apr 2026
Terungkap di Sidang! Jejak Bisnis Google dan Kebijakan Kemendikbudristek Disorot JPU
-
31 Jul 2025
Gerebek Lokasi Prostitusi Online, Satpol PP Bogor Amankan 6 PSK dan 1 Pria Hidung Belang
-
01 Nov 2025
PENGUMUMAN: Waktu Lomba Menulis bertema “Pengalaman Buruk dengan Polisi Indonesia” Diperpanjang Hingga 15 Desember 2025
-
07 Apr 2026
Eks Dirut Pertamina Nicke Widyawati Jadi Saksi Kunci, JPU Perkuat Dakwaan Korupsi Minyak
Rekomendasi lainnya
-
21 Jan 2026
Negara Lelang Kapal Tanker Iran Bermuatan 1,2 Juta Barel Minyak, Nilai Limit Tembus Rp1,17 Triliun
-
27 Nov 2025
Jaksa Agung Lantik Sejumlah Pejabat Strategis, Tegaskan Integritas dan Penguatan Penegakan Hukum
-
26 Jan 2026
Seruan Kemanusiaan Global: Membela Rakyat Iran dari Tirani dan Keheningan Dunia
-
22 Okt 2025
Kejaksaan Negeri Bulungan Sita Aset Dua Bidang Tanah Milik Terpidana Korupsi di Palangka Raya
-
20 Des 2025
PPWI Umumkan Hasil Lomba Menulis Pengalaman Buruk dengan Polisi Indonesia 2025
-
04 Jul 2026
Terbongkarnya Dugaan Pencurian Kabel PT Telkom, Berawal dari Temuan Tim PPWI di Lampung Timur






