Breaking News

Dr. Dian Assafri Nasa’i, SH., MH.: Memuliakan Petani Berarti Menjaga Masa Depan Bangsa

Liputan08.com, JAKARTA – Peringatan Hari Tani Nasional yang jatuh setiap 24 September menjadi momentum untuk kembali menempatkan petani sebagai bagian strategis dalam pembangunan bangsa. Kementerian Pertanian juga memperingati Hari Tani Nasional 2026 pada 24 September.

Momentum tersebut tidak semata dimaknai sebagai perayaan seremonial, tetapi juga sebagai refleksi terhadap masa depan pertanian Indonesia, mulai dari ketahanan pangan, kesejahteraan petani, regenerasi sumber daya manusia, hingga pemanfaatan teknologi dan inovasi.

Dr. Dian Assafri Nasa’i, SH., MH., dalam pesan yang dapat digunakan untuk memperingati Hari Tani Nasional, menekankan bahwa pembangunan pertanian harus dipandang sebagai investasi jangka panjang bagi keberlanjutan bangsa.

“Petani bukan sekadar pelaku produksi pangan, tetapi merupakan fondasi utama ketahanan dan kedaulatan pangan nasional. Karena itu, keberpihakan kepada petani harus diwujudkan melalui kebijakan yang mampu meningkatkan kesejahteraan, memperluas akses teknologi, memperkuat kapasitas sumber daya manusia, serta membuka ruang yang lebih besar bagi generasi muda untuk masuk ke sektor pertanian.”

Menurutnya, pertanian Indonesia menghadapi tantangan yang semakin kompleks. Perubahan iklim, perkembangan teknologi, kebutuhan pangan yang terus meningkat, persoalan regenerasi petani, serta tuntutan efisiensi produksi membutuhkan pendekatan yang tidak hanya bersifat administratif, tetapi berbasis ilmu pengetahuan dan inovasi.

“Pertanian masa depan tidak cukup hanya mengandalkan tradisi. Pengetahuan, teknologi, riset, digitalisasi dan penguatan kelembagaan petani harus menjadi satu kesatuan. Petani harus ditempatkan sebagai subjek pembangunan, bukan sekadar objek kebijakan.”

Pandangan tersebut sejalan dengan perhatian pemerintah terhadap modernisasi pertanian dan penguatan ketahanan pangan. Kementerian Pertanian pada momentum Hari Tani Nasional 2026 juga menyoroti pentingnya persoalan lapangan seperti irigasi, pupuk dan alat mesin pertanian dalam mendukung produktivitas petani.

Dian juga menilai bahwa regenerasi petani menjadi agenda penting. Anak muda perlu melihat pertanian bukan sebagai pekerjaan tradisional semata, melainkan sebagai sektor ekonomi yang memiliki ruang besar bagi inovasi, kewirausahaan, teknologi dan pengembangan industri pangan.

“Jika kita ingin berbicara tentang Indonesia yang kuat dan mandiri, maka kita harus memastikan petani hidup sejahtera, lahannya produktif, hasil pertaniannya memiliki nilai ekonomi yang baik, dan generasi muda melihat pertanian sebagai masa depan. Ketahanan pangan pada akhirnya bukan hanya persoalan produksi, tetapi menyangkut martabat dan kedaulatan bangsa.”

Hari Tani Nasional sendiri memiliki akar sejarah yang berkaitan dengan Undang-Undang Pokok Agraria Tahun 1960 dan diperingati setiap 24 September. Pemerintah melalui Kementerian Pertanian juga menempatkan petani sebagai unsur penting dalam menjaga ketersediaan pangan nasional.

Karena itu, peringatan Hari Tani Nasional 2026 dapat menjadi ruang refleksi bersama bagi pemerintah, akademisi, dunia usaha, masyarakat dan insan pertanian untuk membangun ekosistem pertanian yang produktif, berkelanjutan dan berorientasi pada kesejahteraan petani.

“Memuliakan petani berarti menjaga kehidupan. Menjaga pangan berarti menjaga masa depan Indonesia. Dan membangun pertanian berarti membangun fondasi peradaban bangsa,” tutup Dian

Tags:

Baca Juga

Rekomendasi lainnya