liputan08.com Dalam praktik jurnalistik modern, tajuk rencana atau opini seharusnya menjadi ruang refleksi yang tidak hanya tajam secara argumentatif, tetapi juga kuat secara keilmuan. Namun, fenomena yang kerap terjadi saat ini menunjukkan adanya kekeliruan mendasar, yakni ketika penulisan tajuk atau opini dilakukan tanpa melibatkan perspektif dari pihak yang memiliki kompetensi di bidangnya.
Sebagai contoh, dalam momentum Hari Pendidikan Nasional, seharusnya media menghadirkan pandangan dari kalangan akademisi seperti dosen, guru, peneliti pendidikan, atau praktisi yang memiliki pemahaman mendalam tentang sistem pendidikan. Ketika opini justru disusun oleh pihak yang bukan ahlinya, maka risiko kekeliruan analisis, penyederhanaan masalah, hingga bias perspektif menjadi sangat besar. Hal ini tidak hanya menurunkan kualitas tulisan, tetapi juga berpotensi menyesatkan pembaca.
Dalam kerangka akademis, setiap opini publik idealnya berbasis pada otoritas keilmuan (epistemic authority). Artinya, argumen yang disampaikan memiliki landasan pengetahuan, pengalaman, serta validitas yang dapat dipertanggungjawabkan. Tanpa itu, opini akan cenderung menjadi sekadar pendapat subjektif yang miskin data dan lemah secara analisis.
Lebih jauh, kesalahan dalam menghadirkan opini dari sumber yang tidak kompeten juga mencerminkan lemahnya standar etik dalam redaksi media. Jurnalisme yang sehat mensyaratkan verifikasi, akurasi, dan relevansi sumber. Ketika prinsip ini diabaikan, maka kredibilitas media dipertaruhkan. Bahkan dalam jangka panjang, kepercayaan publik terhadap media dapat mengalami erosi yang serius.
Selain itu, penggunaan narasumber yang tidak sesuai dengan bidangnya juga dapat menimbulkan rasa malu, baik bagi media itu sendiri maupun bagi individu yang dijadikan sumber. Apalagi jika pernyataan yang disampaikan kemudian terbukti keliru atau tidak berdasar. Dalam konteks ini, profesionalisme menjadi kunci utama. Media harus mampu memilah siapa yang layak berbicara dalam isu tertentu.
Oleh karena itu, penting bagi setiap redaksi untuk memperkuat budaya literasi dan disiplin keilmuan dalam produksi konten opini. Melibatkan ahli bukan sekadar formalitas, melainkan kebutuhan untuk menjaga kualitas wacana publik. Tajuk rencana bukan hanya soal menyampaikan pandangan, tetapi juga tentang tanggung jawab intelektual kepada masyarakat.
Dengan demikian, ke depan media diharapkan lebih selektif dan bertanggung jawab dalam menyusun opini. Menghadirkan suara ahli bukan hanya memperkaya perspektif, tetapi juga menjaga marwah jurnalistik sebagai pilar utama dalam mencerdaskan kehidupan bangsa.
Tags: Malu Intelektual
Baca Juga
-
12 Sep 2026
Diplomasi Pewarta Warga: PPWI dan Kedubes Maroko Sepakati 9 Langkah Strategis Kemitraan Media dan Budaya
-
19 Des 2025
Pemkab Bogor Pastikan Keamanan Menu SPPG Cijayanti 03, Masukan Orang Tua Siap Ditindaklanjuti Bersama
-
24 Mar 2025
JAM PIDMIL Kejagung Canangkan Zona Integritas WBK dan WBBM untuk Wujudkan Birokrasi Bersih
-
08 Sep 2025
Robohnya Majelis Taklim di Ciomas, KH. Achmad Yaudin Sogir: Pemerintah Wajib Hadir, Ibu-Ibu Majelis adalah Penjaga Doa Bangsa
-
14 Mar 2025
Bupati Bogor Rudy Susmanto Sambut Kaskogartap II/Bandung, Perkuat Sinergi dengan TNI untuk Pembangunan Daerah
-
12 Feb 2025
Kodam I/Bukit Barisan Bantah Keras Keterlibatan dalam Kasus Penipuan Calon Siswa TNI
Rekomendasi lainnya
-
24 Mei 2026
Pemkab Bogor Gelar Tabligh Akbar Sambut HJB ke-544
-
08 Mei 2025
Dorong Modernisasi Pertanian, Bupati Bogor Serahkan Bantuan Alat dan Sarana ke Petani Leuwisadeng
-
12 Jun 2026
Rudy Susmanto Raih Disway Top Regional Leader Awards 2026, Kabupaten Bogor Terbaik dalam Pengembangan Infrastruktur dan Konektivitas Daerah
-
11 Mar 2025
Eks Kepala Desa Mulyoharjo Ditangkap Kejati Sumsel Terkait Dugaan Korupsi Perkebunan Sawit
-
14 Sep 2026
Kejagung Periksa 4 Saksi Terkait Perkebunan PT PSMI di Kawasan Hutan Lampung
-
11 Okt 2024
Keteguhan Wanita Saat Suami Dipenjara Mengatasi Kesepian dan Menjaga Kesucian





