liputan08.com — Jakarta, 21 November 2025, Asosiasi Pemasok dan Produsen Pasar Modern Indonesia (AP3MI) menggelar talk show strategis bertajuk
“Optimalisasi Rantai Pasok dari Prinsipal, Distributor sampai Ritel”, menghadirkan pimpinan industri dari hulu hingga hilir rantai pasok FMCG Indonesia.
Acara ini bertujuan memperkuat sinergi antara prinsipal, distributor, dan ritel dalam menghadapi tantangan supply chain yang semakin kompleks.
Dalam sambutan pembuka, Ketua Umum AP3MI, Djohan Rachmat, menegaskan pentingnya kolaborasi yang lebih terstruktur di seluruh mata rantai industri FMCG.
“Rantai pasok yang efektif tidak bisa berjalan sendiri-sendiri. Kita memerlukan integrasi data, keselarasan perencanaan, dan komitmen untuk mengurangi biaya logistik yang saat ini masih berada di angka 18–20% dari PDB nasional,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa AP3MI akan terus menghadirkan platform dialog dan penguatan kompetensi agar industri FMCG Indonesia mampu bersaing di tingkat global.
Acara yang digelar secara hybrid dari kantor pusat PT Dua Kelinci ini dihadiri ratusan peserta dari berbagai perusahaan pemasok, distributor, dan ritel. AP3MI juga memperkenalkan Lembaga Pelatihan Kerja (LPK) VisionED untuk melengkapi keberadaan Lembaga Sertifikasi Profesi PPI (LSP PPI) yang telah lebih dulu dibangun.
Isu Kritis dalam Rantai Pasok
Dalam pemaparan awal, AP3MI menyoroti sejumlah tantangan utama, seperti:
1. Ketidakkonsistenan data antara pelaku rantai pasok
2. Kenaikan biaya logistik nasional
3. Mismatch antara promosi, distribusi, dan ketersediaan barang
4. Perlunya standarisasi KPI lintas entitas
5. Penguatan integrasi perencanaan suplai–permintaan
Paparan Para Narasumber
Talk show menghadirkan tiga pembicara utama dari berbagai sektor industri:
1. Theo T. Gazali — Sales & Marketing Director PT Dua Kelinci
Theo menekankan bahwa kolaborasi data menjadi faktor paling mendesak dalam efisiensi distribusi.
“Seringkali ketidaksinkronan data di lapangan menyebabkan produk menumpuk di satu titik dan kosong di titik lain. Kita perlu satu ekosistem data yang terstandardisasi agar keputusan bisnis lebih cepat dan akurat,” jelasnya.
Ia juga menambahkan bahwa prinsipal perlu mendorong pola kerja yang lebih lincah terhadap perubahan permintaan pasar.
2. M. Khirzuddin Basyar — Praktisi Distribusi, Mantan Managing Director PT Fokus Ritel Indoprima
Khirzuddin menyoroti pentingnya standarisasi proses operasional.
“Distributor dan prinsipal sering punya KPI berbeda, padahal tujuan akhirnya sama: barang harus tersedia tepat waktu di rak. Tanpa penyelarasan KPI, manfaat efisiensi tidak akan terasa secara menyeluruh,” tegasnya.
Ia juga menekankan perlunya perbaikan koordinasi antara promosi, distribusi, dan inventori.
3. Anggara Hans Prawira — President Director PT Sumber Alfaria Trijaya, Tbk (Alfamart)
Anggara menekankan pentingnya kecepatan dan konsistensi suplai untuk memenuhi ekspektasi konsumen.
“Ritel kini bergerak cepat. Jika suplai tidak presisi dan data tidak sinkron, dampaknya langsung terlihat pada tingkat layanan toko. Kami membutuhkan kolaborasi kuat dari hulu agar konsumen mendapatkan pengalaman belanja terbaik,” ujarnya.
Ia juga menyebut bahwa ritel siap berbagi data yang relevan bagi prinsipal dan distributor untuk menciptakan rantai pasok yang lebih responsif.
Sambutan PT. Pemasok Pasar Indonesia (PT. PPI)
Dalam kesempatan tersebut, Uswati sebagai Direktur PT. Pemasok Pasar Indonesia (PT. PPI) menyampaikan apresiasinya kepada AP3MI yang terus mendorong peningkatan kompetensi industri.
“AP3MI bukan hanya menjadi payung organisasi, tetapi penggerak transformasi. Dengan hadirnya LPK VisionED sebagai pelengkap LSP PPI, kami percaya ekosistem pelatihan dan sertifikasi akan semakin kuat untuk menghadapi tantangan supply chain modern,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa PPI berkomitmen mendukung program kualitas sumber daya manusia dan standarisasi operasional di seluruh anggotanya.
Kolaborasi: Kunci Rantai Pasok Nasional yang Lebih Tangguh
Diskusi berlangsung interaktif dengan berbagai masukan strategis dari peserta. Para narasumber sepakat bahwa optimalisasi rantai pasok hanya dapat dicapai melalui:
• Kolaborasi data real-time
• Sinkronisasi perencanaan lintas entitas
• Penerapan KPI yang seragam
• Digitalisasi proses distribusi
• Penguatan kompetensi SDM melalui pelatihan dan sertifikasi
AP3MI menegaskan bahwa optimalisasi supply chain harus dilakukan secara terintegrasi dan komprehensif, tidak lagi parsial.
Melalui talk show ini, AP3MI berharap tercipta momentum kolaboratif bagi para pelaku industri untuk membangun rantai pasok yang tangguh, efisien, adaptif, dan mampu memenuhi dinamika pasar yang terus berubah.
Editor:
Aliwardana
Tags: Talk Show AP3MI
Baca Juga
-
29 Des 2024
Kodam I/BB Bantu 250 Anak Panti dan Kaum Dhuafa di Tanjung Morawa dengan Makanan Bergizi
-
22 Feb 2025
Polsek Kalideres Tangkap Pengedar Sabu 643 Gram, Driver Online Shop Jadi Tersangka
-
20 Des 2024
Rembug KTNA Sarana Bangun Ekosistem Pertanian di Kabupaten Bogor yang Kuat
-
19 Apr 2025
PWI Gugat Dewan Pers, Desak Penegakan Keadilan atas Tindakan Sepihak Regulator
-
26 Okt 2025
Ketua DPRD Kabupaten Bogor: MTQ Jadi Momentum Membumikan Al-Qur’an dan Membangun Generasi Qur’ani
-
02 Jun 2025
Ketua DPRD Sastra Winara Harlah Pancasila Momentum Perkuat Semangat Persatuan
Rekomendasi lainnya
-
08 Des 2025
Angka 8 Jadi Simbol Kepemimpinan: Presiden Prabowo dan Bupati Rudy Susmanto Samakan Langkah Membangun Bogor
-
21 Nov 2025
Talk Show AP3MI: Optimalisasi Rantai Pasok dari Prinsipal, Distributor hingga Ritel
-
30 Jun 2025
Sidang Perdana Mantan Kapolres Ngada dan Mahasiswi Kasus Kekerasan Seksual dan Perdagangan Anak Digelar di PN Kupang
-
13 Des 2024
Pj. Bupati Bogor Dorong Penguatan Korpri Tangguh dan Berintegritas untuk Indonesia Emas 2045
-
26 Apr 2025
KH Sogir Tegaskan Bahaya KKN di Lingkungan Pemda Bogor Perkuat Iman Persempit Kesempatan
-
19 Jan 2025
Polresta Bogor Kota Gagalkan Peredaran 21 Kg Sabu dan 19.950 Butir Ekstasi, Selamatkan 124 Ribu Jiwa




