Liputan08.com – Tim Penyidik Bidang Tindak Pidana Khusus Kejaksaan Tinggi Sumatera Selatan resmi menetapkan dua orang tersangka dalam kasus dugaan Obstruction of Justice terkait perkara tindak pidana korupsi pada kegiatan Pembuatan dan Pengelolaan Jaringan/Instalasi Komunikasi dan Informasi Lokal Desa di Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa (DPMD) Kabupaten Musi Banyuasin (Muba) tahun anggaran 2019–2023.
Penetapan tersangka dilakukan pada Senin, 2 Juni 2025, berdasarkan Surat Perintah Penyidikan Kepala Kejaksaan Tinggi Sumsel Nomor: PRINT-10/L.6/Fd.1/04/2025 tanggal 23 April 2025.

Kepala Seksi Penerangan Hukum Kejati Sumsel, Vanny Yulia Eka Sari, S.H., M.H., menjelaskan bahwa penyidik telah mengumpulkan alat bukti yang cukup sesuai Pasal 184 ayat (1) KUHAP, dan menetapkan dua orang sebagai tersangka, yakni:
1. MO, selaku Penasehat Hukum, berdasarkan Surat Penetapan Tersangka Nomor: TAP-12/L.6.5/Fd.1/06/2025 tanggal 2 Juni 2025.
2. MH, selaku Kasi Program Pembangunan Ekonomi Desa pada Dinas PMD Kabupaten Musi Banyuasin, berdasarkan Surat Penetapan Tersangka Nomor: TAP-13/L.6.5/Fd.1/06/2025 tanggal 2 Juni 2025.
“Setelah sebelumnya diperiksa sebagai saksi, hasil pemeriksaan menyimpulkan adanya keterlibatan MO dan MH dalam perkara ini. Oleh karena itu, status mereka ditingkatkan menjadi tersangka,” ujar Vanny dalam keterangannya di Palembang, Senin (2/6/2025).

Untuk tersangka MO, lanjut Vanny, dilakukan penahanan selama 20 hari ke depan di Rumah Tahanan Negara Kelas 1 Palembang terhitung sejak 2 Juni hingga 21 Juni 2025. Sementara MH ditahan dalam perkara lain yang masih terkait.
Perbuatan para tersangka diduga melanggar:
Pasal 21 Undang-Undang No. 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, sebagaimana telah diubah dengan UU No. 20 Tahun 2001 jo. Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP,
atau
Pasal 22 Undang-Undang No. 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan UU No. 20 Tahun 2001 jo. Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.
Modus Operandi
Menurut Vanny, kedua tersangka, MO dan MH, diduga bersekongkol membuat skenario palsu dalam proses penyidikan guna mengarahkan dua saksi lainnya, yakni RD dan MA, untuk memberikan keterangan tidak benar. Tujuan dari skenario ini adalah untuk menutup-nutupi fakta yang sebenarnya terjadi dalam proyek jaringan desa tersebut.
“Ini adalah bentuk perintangan penyidikan yang sangat serius. Upaya mengaburkan fakta demi menyelamatkan pihak-pihak tertentu jelas merupakan pelanggaran hukum berat,” tegas Vanny.
Ia juga menyampaikan, hingga saat ini sudah ada 12 saksi yang diperiksa dalam pengembangan perkara ini.
“Kami tegaskan bahwa Kejati Sumsel akan menindak tegas siapa pun yang mencoba menghalangi proses penegakan hukum,” pungkasnya.
(Zakar)
Baca Juga
-
01 Des 2025
Kapal Keruk Pemkab Bogor: Siapa Pejabat Rakus yang Dibicarakan?
-
22 Mei 2025
Ketum PMPH Hadiri Penyuluhan Hukum Kolaborasi Polri dan Akademisi Ubhara Jaya
-
02 Sep 2026
Macan Tutul, Gajah dan Para Penjilat: Filsafat Kekuasaan di Sebuah Hutan
-
30 Mar 2026
Ketua DPRD Sastra Winara Dukung CFD Tegar Beriman, Dorong Ruang Publik Sehat dan Produktif
-
30 Agu 2026
Firefighter Challenge 2026, Upaya Damkar Kabupaten Bogor Perkuat Kesiapsiagaan dan Ketangkasan Petugas
-
31 Jan 2026
Wakil Bupati Bogor Salurkan Bantuan Rp100 Juta untuk Renovasi Masjid Besar Cileungsi
Rekomendasi lainnya
-
29 Mar 2026
Pastikan Fasilitas Layak, Rudy Susmanto Dorong Peningkatan Kesejahteraan Anak Istimewa di Bogor
-
04 Jun 2025
Roda Pemerintahan Baru, Bupati Bogor Lantik 13 Pejabat Tinggi Pratama
-
06 Jul 2025
RAPI Diminta Jadi Garda Terdepan Komunikasi Publik di Kabupaten Bogor
-
12 Feb 2025
Sekda Kabupaten Bogor Hadiri Pertemuan Strategis di Subang, Soroti Pembangunan Berbasis Kebutuhan Masyarakat
-
25 Des 2025
KH Achmad Yaudin Sogir: Masjid Megah Nurul Wathon Harus Jadi Pusat Kitab Kuning dan Kebangkitan Ekonomi Umat
-
11 Mar 2025
Bupati Bogor Rudy Susmanto Tinjau Posko Banjir Bojongkulur, Wamendagri Pastikan Mitigasi Berjalan Optimal






