liputan08.com Jakarta 12 Oktober 2026 – Pendidikan tidak semestinya hanya diukur dari lamanya seseorangom duduk di bangku sekolah, banyaknya materi yang dihafal, atau tingginya nilai akademik. Ukuran terpenting ialah kemampuan memahami ilmu, berpikir kritis, bekerja, berinovasi, dan menyelesaikan persoalan nyata.
Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka memiliki perjalanan pendidikan yang melintasi Indonesia, Singapura, dan Australia sebelum menempuh pendidikan tinggi melalui Management Development Institute of Singapore (MDIS), dengan gelar sarjana yang diberikan oleh University of Bradford, Inggris. Jejak tersebut menjadi bahan refleksi tentang pentingnya memahami perbedaan sistem pendidikan dan menghubungkan pembelajaran dengan kebutuhan kehidupan.
Berdasarkan sejumlah pemberitaan mengenai riwayat pendidikannya, Gibran tercatat menempuh pendidikan di SD Negeri Mangkubumen Kidul 16 dan SMP Negeri 1 Surakarta. Setelah itu, ia melanjutkan pendidikan ke Orchid Park Secondary School di Singapura, kemudian mengikuti program UTS Insearch di Sydney, Australia. Selanjutnya, ia menempuh pendidikan di MDIS Singapura pada periode 2007–2010 dan memperoleh gelar Bachelor of Science (Honours) in Marketing dari University of Bradford melalui kemitraan dengan MDIS.
Riwayat tersebut perlu dibaca secara proporsional. Perjalanan pendidikan lintas negara tidak otomatis membuktikan bahwa seseorang menempuh pendidikan secara kilat. Demikian pula, keberhasilan akademik tidak cukup dinilai hanya dari nama sekolah atau kampus, tetapi juga dari kompetensi, proses pembelajaran, dan pengakuan kualifikasi yang berlaku.
Persoalan kesetaraan pendidikan menengah Gibran juga menjadi perhatian publik. Dalam putusan 6 Oktober 2026, Mahkamah Konstitusi menyatakan tidak menemukan bukti meyakinkan mengenai ijazah atau dokumen pendidikan luar negeri yang dapat dijadikan dasar penyetaraan dengan pendidikan menengah sebagaimana disyaratkan undang-undang. Namun, MK tidak menerima permohonan karena persoalan kedudukan hukum para pemohon dan menyatakan tidak dapat membatalkan jabatan Gibran melalui permohonan tersebut. Putusan itu perlu diberitakan sesuai ruang lingkupnya, tanpa menarik kesimpulan yang melampaui amar dan pertimbangan pengadilan.
Di luar perdebatan mengenai riwayat pendidikan pribadi, tantangan yang jauh lebih besar adalah bagaimana Indonesia membangun sistem pembelajaran yang efektif, terukur, dan relevan dengan perkembangan zaman.
Gagasan pendidikan kilat atau pembelajaran intensif patut dikaji apabila diarahkan untuk mempercepat penguasaan kompetensi tertentu. Namun, perlu dibedakan antara pendidikan formal yang berjenjang dan program percepatan keterampilan. Belum ada dasar yang cukup untuk menyatakan bahwa pendidikan formal dua bulan merupakan program nasional yang telah diterapkan dan terbukti berhasil oleh Mas Wapres.
Indonesia tidak perlu memangkas pendidikan menjadi serba instan. Yang perlu dipangkas ialah proses yang tidak efektif, beban administrasi berlebihan, materi yang tidak proporsional, serta metode pembelajaran yang hanya mengejar hafalan tanpa memastikan pemahaman.
Siswa harus mampu menerapkan matematika dalam perhitungan usaha, memahami sains melalui eksperimen, menggunakan teknologi untuk menghasilkan karya, dan mengembangkan kemampuan membaca kritis serta berargumentasi. Hafalan tetap penting sebagai fondasi, tetapi harus diikuti pemahaman dan penerapan.
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah perlu menguji metode pembelajaran intensif melalui program percontohan yang terukur. Hasilnya harus dinilai berdasarkan peningkatan kompetensi siswa, bukan sekadar angka kelulusan. Guru juga harus mendapat dukungan pelatihan, fasilitas praktik, dan ruang berinovasi.
Sudah saatnya pendidikan Indonesia bergeser dari sekadar mengejar nilai menuju penguasaan kompetensi, dari menumpuk materi menuju memperdalam pemahaman, dan dari belajar hanya untuk ujian menuju belajar untuk kehidupan.
Pendidikan yang baik bukan pendidikan yang menjanjikan hasil instan, melainkan pendidikan yang menggunakan waktu secara efektif untuk membangun kecerdasan, karakter, keterampilan, dan kemandirian.
Inilah pekerjaan besar pemerintah: memastikan setiap anak Indonesia memperoleh pendidikan yang bermutu, tanpa terbebani metode yang tidak efektif dan tanpa kehilangan fondasi ilmu pengetahuan.
Zarkasi
Tajuk Redaksi Siber24jam.com & Liputan08.com*
Tags: Gibran Rakabuming Raka
Baca Juga
-
22 Apr 2026
Skandal Chromebook Meledak! Dipakai Setahun Sekali, Negara Jebol Rp2,1 Triliun
-
28 Agu 2026
Skandal Paspor Ganda: Ancaman Serius bagi Perlindungan Anak dan Integritas Hukum Indonesia
-
14 Agu 2025
Geger Intervensi DPP di Musda Golkar Lampung: SOKSI Protes, Demokrasi Internal Dipertanyakan!
-
23 Des 2025
Tikus Koruptor di Tubuh Kejaksaan, Eks Kajari Enrekang Diciduk JAM Pidsus dalam Kasus Suap BAZNAS
-
13 Jul 2026
Gugatan Sosial dari Rakyat: Menakar Ulang Kontrak Sosial Indonesia di Tengah Badai Korupsi
-
30 Sep 2026
KPK Bongkar Aliran Uang Silmy Karim ke Dosen Universitas Brawijaya
Rekomendasi lainnya
-
19 Agu 2026
Garuda Pancasila: Antara Simbol yang Terinjak dan Nilai yang Dilumat Kekuasaan
-
27 Agu 2026
Pandangan Rusia tentang Hukum Syariah dan Tinjauan Perspektif Filsafat
-
18 Agu 2026
Merajut Silaturahmi, Memperkokoh Ukhuwah: Presiden Komunitas Yaman Kunjungi Ketum PPWI
-
13 Okt 2025
Konsolidasi MBG di Sentul: Kepala Dapur Lulusan SPPI Batch 3 Desak Kepastian Status Kepegawaian
-
06 Okt 2025
Letjen TNI Bambang Trisnohadi, Peraih Adhi Makayasa yang Pimpin Upacara HUT Ke-80 TNI di Monas
-
01 Jan 2026
API DKI Jakarta Desak Presiden Prabowo Intervensi Kasus Dugaan Kejahatan Seksual Anak di Jakarta






