Breaking News

KH Achmad Yaudin Sogir: Membaca Al-Qur’an dari Mushaf adalah Ibadah, Generasi Muda Harus Dijauhkan dari Ketergantungan Digital

liputan08.com Bogor – Suasana semarak peringatan Nuzulul Qur’an terasa di Masjid Nurul Falah, Kelurahan Karadenan, Kecamatan Cibinong, Kabupaten Bogor Jumat (6/3/2026). Ratusan jamaah menghadiri rangkaian kegiatan religius yang diisi dengan berbagai perlombaan bagi generasi muda, khususnya kalangan Gen Z.

Kegiatan yang digelar oleh jamaah Masjid Nurul Falah tersebut bertujuan untuk menumbuhkan kecintaan generasi muda terhadap Al-Qur’an sekaligus menciptakan generasi Qur’ani di tengah tantangan era digital yang semakin kompleks.

Beragam perlombaan digelar dalam kegiatan tersebut, antara lain lomba adzan, lomba ceramah, serta lomba tahfidz Al-Qur’an yang diikuti para remaja dan pemuda dari lingkungan sekitar.

Hadir dalam kegiatan tersebut Anggota DPRD Kabupaten Bogor dari Fraksi PKB yang juga Wakil Ketua Komisi I DPRD Kabupaten Bogor, KH Achmad Yaudin Sogir, yang memberikan tausiyah tentang pentingnya menjaga tradisi membaca Al-Qur’an secara langsung dari mushaf.

Dalam ceramahnya, KH Achmad Yaudin Sogir menjelaskan bahwa membaca Al-Qur’an dari mushaf memiliki nilai ibadah yang sangat besar sebagaimana dijelaskan dalam berbagai hadis Nabi Muhammad SAW.

Ia mengutip riwayat dari Abdullah bin Mas’ud RA bahwa Rasulullah SAW bersabda:

“Barang siapa membaca satu huruf dari Kitabullah (Al-Qur’an), maka baginya satu kebaikan. Dan satu kebaikan dilipatgandakan menjadi sepuluh.”
(HR. Tirmidzi)
Menurutnya, membaca Al-Qur’an secara langsung dari mushaf bukan sekadar aktivitas membaca, tetapi juga bagian dari memuliakan kalamullah.

“Dalam beberapa penjelasan ulama disebutkan bahwa melihat mushaf sambil membaca Al-Qur’an itu termasuk ibadah. Tradisi ini harus terus dijaga agar umat Islam tetap memiliki hubungan yang kuat dengan kitab sucinya,” ujar KH Achmad Yaudin Sogir.

Ia menambahkan bahwa kemajuan teknologi memang memberikan kemudahan, termasuk membaca Al-Qur’an melalui perangkat digital. Namun, hal tersebut tidak boleh menghilangkan tradisi memegang dan membaca mushaf secara langsung.

KH Sogir menilai bahwa generasi muda saat ini menghadapi tantangan besar di era digital. Kemudahan teknologi dapat membawa manfaat, tetapi juga berpotensi membuat umat Islam menjauh dari kebiasaan membaca Al-Qur’an secara langsung.

“Jangan sampai kemudahan teknologi justru membuat generasi muda enggan memegang mushaf. Budaya membaca Al-Qur’an dari kitabnya harus terus digaungkan agar tidak hilang dari tradisi umat Islam,” katanya.

Ia menekankan bahwa Al-Qur’an merupakan sumber utama hukum dan pedoman kehidupan umat Islam yang kesuciannya akan terus terjaga hingga hari kiamat.

Hal ini sebagaimana firman Allah SWT dalam Al-Qur’an:

“Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al-Qur’an, dan sesungguhnya Kami benar-benar menjaganya.”
(QS. Al-Hijr: 9)

KH Sogir juga mengingatkan agar umat Islam tidak sembarangan menafsirkan atau menerjemahkan Al-Qur’an tanpa dasar keilmuan yang kuat.

Menurutnya, memahami Al-Qur’an membutuhkan berbagai disiplin ilmu seperti ilmu tafsir, fiqh, tauhid, tasawuf, serta ilmu alat seperti nahwu dan sharaf.

Ia mengutip peringatan Rasulullah SAW:
“Barang siapa menafsirkan Al-Qur’an dengan pendapatnya sendiri tanpa ilmu, maka hendaklah ia menyiapkan tempat duduknya di neraka.”
(HR. Tirmidzi)

Pandangan tersebut juga banyak dijelaskan dalam kitab-kitab ulama klasik atau kitab kuning, seperti dalam Tafsir Jalalain karya Imam Jalaluddin al-Mahalli dan Jalaluddin as-Suyuthi, yang menekankan pentingnya metode keilmuan dalam memahami ayat-ayat Al-Qur’an.

Sementara itu, dalam kitab Ihya Ulumuddin karya Imam Al-Ghazali dijelaskan bahwa Al-Qur’an bukan hanya dibaca, tetapi juga harus dihayati, dipahami, dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.

KH Sogir menegaskan bahwa seluruh nilai kebaikan yang diajarkan dalam kehidupan sejatinya merupakan bagian dari ajaran Al-Qur’an.

“Setiap perintah kebaikan seperti menolong sesama, menjaga silaturahmi, berlaku adil, dan berbuat baik kepada orang lain, semuanya adalah ajaran Al-Qur’an. Sebaliknya, perbuatan tercela seperti zina, mabuk-mabukan, membuka aurat, ghibah, dan menyakiti orang lain juga jelas dilarang dalam Al-Qur’an,” jelasnya.

Ia menjelaskan bahwa Al-Qur’an merupakan kalamullah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW melalui Malaikat Jibril sebagai pedoman hidup bagi umat manusia.

Karena itu, seorang mukmin dianjurkan untuk senantiasa membaca Al-Qur’an setiap hari.

Dalam sejumlah riwayat ulama disebutkan bahwa membaca sekitar 200 ayat dalam sehari semalam merupakan amalan yang sangat dianjurkan bagi seorang mukmin, terutama melalui rangkaian bacaan dalam shalat lima waktu, dimulai dari Surah Al-Fatihah hingga surah-surah pendek.

“Jika kita menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya, berarti kita telah mengamalkan Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari. Insya Allah, itulah jalan menuju kebahagiaan dan keselamatan dunia serta akhirat,” tutur KH Sogir.

Melalui kegiatan peringatan Nuzulul Qur’an yang diramaikan dengan perlombaan religi tersebut, para pengurus Masjid Nurul Falah berharap generasi muda semakin mencintai Al-Qur’an dan menjadikannya pedoman hidup.

Selain menjadi ajang syiar Islam, kegiatan ini juga menjadi ruang edukasi bagi generasi muda agar lebih dekat dengan Al-Qur’an serta mampu menghadapi tantangan zaman tanpa kehilangan nilai-nilai keislaman.

Dengan semangat tersebut, jamaah Masjid Nurul Falah berharap tradisi membaca, menghafal, dan mengamalkan Al-Qur’an dapat terus tumbuh di tengah masyarakat, khususnya di kalangan generasi muda.

Tags:

Baca Juga

Rekomendasi lainnya