Breaking News

HKTI Luncurkan Program ADA HKTI, Perkuat Akses Pasar Global demi Kedaulatan Pertanian Nasional

liputan08.com JAKARTA — Ketua Umum Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI), Sudaryono, menegaskan bahwa penguatan akses pasar global merupakan kunci strategis dalam membangun kedaulatan pangan, kemandirian ekonomi, serta daya saing pertanian nasional, di tengah dinamika ekonomi global yang semakin kompetitif dan penuh tantangan.

Menurut Sudaryono, sektor pertanian Indonesia tidak cukup hanya unggul pada aspek produksi, tetapi harus dibarengi dengan penguasaan rantai perdagangan dan akses pasar internasional agar petani tidak terus berada pada posisi yang lemah dalam struktur ekonomi.

“Pertanian Indonesia tidak boleh hanya kuat di sisi produksi, tetapi juga harus unggul dalam penguasaan akses pasar. Tanpa pengendalian rantai dagang, petani akan terus berada pada posisi rentan. Oleh karena itu, HKTI mendorong terobosan sistemik agar petani menjadi pelaku utama dalam ekosistem perdagangan global,” ujar Sudaryono.

Pernyataan tersebut disampaikan seiring dengan peluncuran Program ADA HKTI (Akses Dagang Agrikultur HKTI), sebuah inisiatif strategis yang secara khusus dirancang untuk membuka peluang ekspor produk pertanian Indonesia ke 33 negara. Program ini merupakan hasil kolaborasi antara HKTI dan Direktorat Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional (Ditjen PEN) Kementerian Perdagangan Republik Indonesia.

Ketua Bidang Advokasi Kebijakan Daerah HKTI, Dr. Dian Assafri Nasai, SH, menjelaskan bahwa Program ADA HKTI merupakan langkah konkret dan terstruktur untuk menjawab persoalan klasik yang selama ini dihadapi sektor pertanian nasional, terutama terkait keterbatasan akses pasar internasional, tata niaga yang tidak adil, serta minimnya jaringan ekspor langsung bagi petani.

“Program ADA HKTI merupakan ikhtiar serius HKTI dalam membangun ekosistem ekspor yang berkeadilan bagi petani. Selama ini, banyak produk pertanian Indonesia yang berkualitas tinggi dan berdaya saing, namun terhambat oleh persoalan tata niaga, keterbatasan jaringan ekspor, serta minimnya akses informasi pasar global,” ujar Dr. Dian, Selasa (13/1/2026).

Ia menambahkan bahwa melalui kolaborasi strategis dengan Ditjen Pengembangan Ekspor Nasional Kementerian Perdagangan, berbagai hambatan struktural tersebut diupayakan dapat diurai secara sistematis, terukur, dan berkelanjutan, mulai dari penguatan kapasitas petani hingga penguatan akses perdagangan lintas negara.

“HKTI memandang ekspor bukan sekadar aktivitas ekonomi, tetapi merupakan bagian dari diplomasi pangan dan penguatan kedaulatan ekonomi bangsa. Ketika produk pertanian Indonesia mampu menembus pasar di 33 negara, yang dibangun bukan hanya nilai jual, tetapi juga martabat, posisi tawar, dan daya saing pertanian nasional di tingkat global,” tegasnya.

Sementara itu, Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kementerian Perdagangan RI, Fajarini Puntodewi, menyambut positif peluncuran Program ADA HKTI dan menegaskan komitmen penuh pemerintah dalam mendorong ekspor berbasis sektor riil, khususnya sektor pertanian yang memiliki peran strategis dalam perekonomian nasional.

“Kementerian Perdagangan sangat mendukung inisiatif HKTI melalui Program ADA HKTI. Indonesia memiliki kekayaan produk pertanian yang sangat kompetitif, baik dari sisi kualitas, keberagaman komoditas, maupun aspek keberlanjutan. Tantangan kita bersama adalah memastikan produk-produk tersebut siap dari hulu hingga hilir untuk memenuhi standar pasar global,” jelas Fajarini.

Ia menambahkan bahwa Kemendag akan berperan aktif dalam memfasilitasi akses pasar internasional, peningkatan kapasitas petani dan pelaku usaha, pendampingan sertifikasi produk, serta promosi dagang di negara-negara tujuan ekspor.

“Melalui sinergi ini, kami mendorong agar petani tidak hanya menjadi produsen, tetapi juga aktor utama dalam rantai nilai global. Dengan target ekspor ke 33 negara, kami optimistis kontribusi sektor pertanian terhadap perekonomian nasional akan meningkat secara signifikan,” pungkasnya.

Program ADA HKTI diharapkan dapat menjadi model kolaborasi strategis antara organisasi tani dan pemerintah, dalam memperkuat daya saing pertanian Indonesia di pasar internasional, sekaligus mendorong peningkatan kesejahteraan petani secara berkelanjutan, berkeadilan, dan bermartabat.

Reporter: Zakar

Tags: ,

Baca Juga

Rekomendasi lainnya