Oleh: Zarkasi
(Laporan perjalanan jurnalistik dari Tanah Baduy, Desa Kanekes, Kabupaten Lebak, Banten. Kunjungan lapangan dilakukan pada 11 Januari 2026).
Di tengah arus globalisasi yang mengalir deras—menyeret budaya, nilai, dan identitas ke dalam pusaran keseragaman—Tanah Baduy tetap berdiri sebagai penanda perlawanan sunyi. Ia tidak berteriak, tidak menolak dengan kemarahan, tidak memproklamasikan diri sebagai oposisi peradaban modern, tetapi bertahan dengan keteguhan adat yang hidup dan bekerja dalam diam.

Dalam perjalanan jurnalistik menelusuri Kampung Baduy pada 11 Januari 2026, tersaji sebuah pelajaran besar tentang bagaimana peradaban dapat hidup tanpa merusak, berkembang tanpa menaklukkan, serta menerima kehadiran dunia luar tanpa kehilangan jati diri. Baduy bukan ruang nostalgia masa lalu, melainkan laboratorium hidup tentang masa depan yang berakar.
Kini, ribuan wisatawan—baik lokal, nasional, hingga mancanegara—datang setiap tahun menyusuri jalan tanah, menapaki jembatan bambu, serta menuruni lembah-lembah hijau wilayah Kanekes. Mereka datang bukan sekadar untuk melihat, melainkan untuk merasakan secara langsung: bagaimana hidup yang selaras dengan alam dijalani sebagai praktik keseharian, bukan sekadar wacana akademik atau jargon pembangunan berkelanjutan.
Masyarakat Baduy—yang menyebut diri mereka Urang Kanekes—bukanlah komunitas terbelakang sebagaimana stigma lama yang kerap disematkan oleh cara pandang modern yang reduktif. Mereka adalah masyarakat yang secara sadar memilih batas, menempatkan adat sebagai hukum tertinggi, serta menjadikan alam bukan objek eksploitasi, melainkan mitra kosmologis dalam kehidupan.
Air mengalir ke rumah-rumah tanpa mesin. Cahaya siang dimanfaatkan tanpa listrik. Malam diterangi pelita sederhana. Semua bergerak dalam ritme pelan namun pasti, ritme yang dibentuk oleh musim, hutan, dan siklus hidup manusia. Inilah teknologi ekologis berbasis kearifan lokal—pengetahuan praktis dan filosofis yang diwariskan lintas generasi, jauh sebelum konsep sustainable development dirumuskan dalam forum-forum global.
Dalam kepercayaan Sunda Wiwitan, Baduy diyakini memegang peran kosmologis sebagai penjaga mandala—pusat keseimbangan dunia. Karena itu, adat Baduy mengikat ketat relasi manusia dan alam melalui prinsip-prinsip fundamental yang tidak dapat ditawar: gunung tidak boleh dirusak,
hutan tidak boleh ditebang sembarangan,
sungai tidak boleh dikotori.
Larangan-larangan tersebut bukan sekadar aturan sosial atau norma ekologis, melainkan tanggung jawab spiritual. Merusak alam berarti melanggar amanat leluhur, mengkhianati janji kosmos, dan mengganggu keseimbangan semesta.
Struktur sosial Baduy terbagi dalam dua lapisan adat yang saling menguatkan dan melengkapi.
Baduy Dalam merupakan inti kesakralan adat. Mereka hidup sepenuhnya dalam pakem leluhur: berpakaian putih polos dan hitam sederhana, berjalan tanpa alas kaki, menolak teknologi modern, serta menjaga kemurnian adat dalam seluruh aspek kehidupan, termasuk dalam hal perkawinan. Perkawinan Baduy Dalam hanya diperkenankan sesama komunitasnya; pelanggaran adat berarti keluar dari wilayah kesucian dan kehilangan status spiritual dalam struktur adat.
Baduy Luar berperan sebagai lapisan penyangga. Mereka mulai berinteraksi dengan dunia luar, menerima pendidikan informal, serta menjadi jembatan kultural dan ekonomi antara Baduy dan masyarakat eksternal. Dalam konteks inilah, perkawinan antara Baduy Luar dan masyarakat luar dimungkinkan, namun tetap melalui proses adat yang ketat dan berlapis, dengan konsekuensi sosial yang jelas. Perkawinan bukan sekadar ikatan biologis, melainkan peristiwa kultural yang menentukan posisi seseorang dalam struktur adat dan relasi kosmologisnya.
Masuknya ribuan wisatawan—akademisi, peneliti, pegiat lingkungan, jurnalis, hingga pelancong mancanegara—menjadi ujian sekaligus cermin. Baduy tidak menutup diri, tetapi juga tidak menyerahkan adat pada komodifikasi.
Rumah bilik bambu, kain tenun, tas anyaman, serta hasil bumi dijajakan secara sederhana di hampir setiap rumah Baduy Luar. Transaksi berlangsung tanpa tawar-menawar agresif, tanpa eksploitasi narasi kemiskinan atau eksotisme budaya. Wisata di Baduy adalah wisata pembelajaran, bukan tontonan. Setiap langkah adalah etika, setiap foto adalah tanggung jawab.
Perempuan Baduy hadir sebagai penjaga ritme kehidupan. Mereka menenun dengan kesabaran waktu, mengolah pangan dengan kesadaran musim, mendidik anak dengan nilai adat, serta menjaga api kehidupan agar tetap menyala dalam kesederhanaan. Kecantikan mereka bukan hasil konstruksi industri, melainkan pantulan hidup yang seimbang antara tubuh, alam, dan batin. Dalam kesunyian, mereka memikul peradaban.
Lelaki Baduy melangkah menembus hutan dan tanjakan dengan tubuh yang menyatu dengan lanskap. Kekuatan mereka bukan hasil ambisi modern, melainkan disiplin hidup yang konsisten. Alam melatih tubuh, adat melatih jiwa.
Lumbung-lumbung padi berdiri kokoh—tidak untuk ditimbun rakus, tidak untuk dijual serakah. Padi adalah titipan kehidupan. Di sinilah Baduy mengajarkan makna ketahanan pangan yang sejati: cukup, berkelanjutan, dan bermartabat. Pangan bukan komoditas semata, melainkan simbol keberlangsungan hidup dan amanah leluhur.
Di tengah krisis iklim global, kerusakan ekologis sistemik, dan kelelahan peradaban modern, Baduy hadir sebagai pengingat yang jujur: bahwa kemajuan tanpa kebijaksanaan hanyalah kehancuran yang ditunda. Baduy tidak hidup di masa lalu. Mereka hidup di masa kini dengan nilai masa depan.
Semoga jalan tanah Baduy tetap setia pada langkah-langkah sunyi leluhur.
Semoga hutan Kanekes tetap berbisik jujur kepada angin dan hujan.
Semoga wisata datang sebagai tamu yang belajar, bukan tuan yang merusak.
Dan semoga adat Baduy tetap tegak—
menjadi lentera bagi dunia
yang terlalu lama berjalan tanpa arah.
Tags: Alam, dan Peradaban yang Menolak Lupa, Menelusuri Amanat Leluhur
Baca Juga
-
12 Nov 2024
Prof. Dr. Asep N. Mulyana Tekankan Pentingnya Pemahaman TPPU bagi Artis dan Pengusaha untuk Menghindari Jerat Hukum
-
19 Sep 2025
Ketua DPRD Bogor Sastra Winara: Jalur Tambang Harus Berpihak pada Keselamatan Warga
-
20 Des 2024
Rapat Kerja Kwarcab Bogor Tahun 2024, Siap Lahirkan Program Unggulan Pramuka Tahun 2025
-
29 Nov 2025
Ketua DPRD Bogor Sastra Winara Tegaskan Tiga Raperda Penting Disahkan dalam Paripurna
-
11 Feb 2025
Pemkab Bogor Dukung IPB University Luncurkan Center of Excellence Program Makan Bergizi Gratis
-
26 Okt 2025
Sekda Bogor Lantik Dewan Hakim MTQ ke-47, Tekankan Integritas dan Profesionalisme
Rekomendasi lainnya
-
09 Sep 2025
Pemkab Bogor Dukung Perbaikan Jalan Janala–Lebakwangi dengan Rekayasa Lalu Lintas dan Koordinasi Angkutan Tambang
-
06 Mar 2025
Dedi Mulyadi Menangis Lihat Kerusakan TNGGP, Pertanyakan Peran Ade Yasin dalam Pemberian Izin
-
19 Sep 2025
Wakil Wali Kota Bogor Jenal Mutaqin Ajak Warga Jaga Kerukunan Lewat Forum Pembauran Kebangsaan
-
15 Jan 2026
Tinjau Lokasi Asap di Tambang Antam, Bupati Bogor Tegaskan Isu Korban Massal Tidak Benar
-
24 Des 2025
Kepala BKPSDM Kabupaten Bogor Sampaikan Ucapan Selamat Natal 25 Desember 2025, Perkuat Semangat Toleransi dan Kebhinekaan
-
22 Jun 2025
Bupati dan Walikota Bogor Touring Bareng Rider, Meriahkan Rolling Thunder Autovibes Kabogorfest 2025




