liputan08.com BOGOR — Minggu, 4 Januari 2026, awal tahun seharusnya menjadi penanda optimisme, harapan, dan perbaikan hidup. Namun bagi sebagian kecil warga di Kampung Bojong Honje, Desa Pabuaran, Kecamatan Sukamakmur, Kabupaten Bogor, pergantian tahun tidak lebih dari sekadar pergantian angka di kalender. Kemiskinan ekstrem tetap menetap, sunyi, dan nyaris tak tersentuh kehadiran negara.
Pada Minggu (4/1/2026) tersebut, seorang jurnalis menempuh perjalanan yang bukan sekadar liputan biasa, melainkan potret ironi pembangunan. Dari pusat permukiman warga, jurnalis harus menyusuri jalan setapak sempit, licin, dan berlumpur, lalu melanjutkan perjalanan dengan menyeberangi Kali kecil Cinaringgul tanpa jembatan permanen. Risiko keselamatan menjadi bagian tak terpisahkan dari upaya menjangkau warga negara yang secara administratif tercatat, namun secara faktual terpinggirkan.
Tidak ada akses kedaraan yang memadai.Tidak ada infrastruktur dasar. Dalam perspektif pembangunan wilayah, kampung ini seolah berada di luar peta perencanaan pemerintah daerah.
Di balik keterisolasian tersebut, empat kepala keluarga bertahan hidup dalam kondisi kerentanan sosial dan ekonomi akut. Hunian mereka berupa gubuk bambu sederhana, rapuh, nyaris roboh, tanpa sanitasi layak, dan tanpa perlindungan dari cuaca ekstrem. Kondisi ini secara objektif memenuhi indikator kemiskinan absolut, bahkan mendekati kategori kemiskinan ekstrem sebagaimana didefinisikan dalam kajian kebijakan sosial.
Salah satu penghuni kampung adalah seorang janda lanjut usia yang hidup seorang diri. Ia tidak memiliki penghasilan tetap, tidak memiliki keluarga penyangga, dan hingga Minggu, 4 Januari 2026, belum tercatat sebagai penerima bantuan sosial rutin. Dalam kajian kesejahteraan sosial, kondisi ini disebut sebagai kerentanan ganda: perempuan, lansia, miskin, dan terisolasi secara geografis.
Ironisnya, berdasarkan penuturan warga yang ditemui pada hari itu, hanya satu orang yang pernah menerima bantuan dari pihak kelurahan. Selebihnya mengaku tidak pernah didata ulang, tidak memahami mekanisme bantuan, dan tidak pernah merasakan kehadiran aparat sosial secara berkelanjutan. Fakta ini menunjukkan kegagalan sistemik dalam pendataan kemiskinan, sekaligus lemahnya fungsi pengawasan dan intervensi pemerintah daerah.
Realitas tersebut menghadirkan paradoks pembangunan Kabupaten Bogor. Di satu sisi, wilayah ini kerap dipromosikan sebagai daerah penyangga ibu kota dengan pertumbuhan infrastruktur dan ekonomi yang pesat. Namun di sisi lain, masih terdapat warga yang hidup tanpa akses perlindungan sosial, layanan kesehatan, dan pendidikan dasar.
Pertanyaan kritis pun tak terelakkan:
Di mana peran pemerintah daerah?
Di mana fungsi DPRD sebagai pengawas anggaran dan kebijakan?
Di mana Dinas Sosial ketika kemiskinan sedemikian nyata terpampang di hadapan mata?
Lebih mengkhawatirkan, kondisi anak-anak di kampung tersebut membuka persoalan jangka panjang. Mereka tampak lesu, minim stimulasi pendidikan, dan berpotensi mengalami kemiskinan antargenerasi, yakni kemiskinan yang diwariskan secara struktural akibat ketidakadilan sistemik yang terus dibiarkan.
Bagi jurnalis yang hadir langsung pada Minggu, 4 Januari 2026, kunjungan ini bukan sekadar tugas peliputan, melainkan konfrontasi batin. Upaya memberi bantuan seadanya hanyalah respons kemanusiaan spontan, yang tidak akan pernah mampu menggantikan kebijakan publik yang absen dan pembiaran yang berlangsung terlalu lama.
Kampung Bojong Honje bukan catatan pinggiran. Ia adalah indikator kegagalan negara dalam memastikan keadilan sosial bagi seluruh rakyatnya sebagaimana diamanatkan konstitusi. Selama wilayah seperti ini terus luput dari perhatian, maka pembangunan hanya akan menjadi narasi elitis—indah di laporan, hampa di lapangan.
Kampung ini menjadi alarm moral, sosial, dan akademik bagi para pemangku kebijakan: bahwa kemiskinan bukan sekadar angka statistik, melainkan realitas hidup manusia yang menunggu keberpihakan nyata.
Semoga nurani para pengambil kebijakan kembali terbangun, dan semoga mereka yang bertahan dalam sunyi tetap dijaga oleh Allah SWT, hingga keadilan benar-benar hadir, bukan hanya dalam pidato, tetapi dalam tindakan nyata.
Reporter: Zakar
Tags: Negara yang Terhenti di Ujung Jalan Setapak Bojong Honje
Baca Juga
-
17 Des 2024
Rutan Kelas IIB Rengat Gelar Razia Blok Hunian, Tegaskan Komitmen Zero Halinar
-
08 Jan 2026
Tikus Koruptor Digulung Kejati Sumsel: Rp616,52 Miliar Uang Negara Berhasil Diselamatkan
-
22 Okt 2024
Pos Walesi Satgas Yonif 641/Bru Berperan Aktif dalam Upacara Peringatan Hari Santri Nasional 2024 di Jayawijaya
-
12 Jun 2025
Kejagung Sita Aset PT Orbit Terminal Merak Terkait Dugaan Korupsi Minyak Mentah Pertamina
-
17 Okt 2025
Ketua DPRD Bogor Dukung Penuh Pembangunan Koperasi Desa Merah Putih di Parung
-
04 Sep 2025
Prestasi Membanggakan Diaspora Indonesia: Angelica Judith Micheldi Dianugerahi Penghargaan Akademik dan Kepemimpinan di Thailand
Rekomendasi lainnya
-
06 Feb 2025
Polres Langsa Gagalkan Peredaran 1,4 Kg Sabu Selamatkan 11 Ribu Jiwa!
-
10 Mar 2025
Direktur PT SMB Ditahan Terkait Dugaan Korupsi Pengadaan Tanah Tol Betung-Tempino
-
07 Jan 2025
Ketua DPRD Kabupaten Bogor Apresiasi Pelebaran Jalan Cikopo dan Pengelolaan Sampah di Taman Safari
-
21 Okt 2024
Pj. Bupati Bogor Buka Kompetisi Futsal KNPI dalam Rangka Hari Sumpah Pemuda ke-96
-
30 Jul 2025
Pawai Ta’aruf Meriahkan MTQH Bojonggede, Wujudkan Semangat Cinta Al-Qur’an
-
20 Mei 2025
Bupati Rudy Susmanto Ajak Generasi Muda Tanamkan Semangat Patriotisme di Peringatan Harkitnas ke 117




