Breaking News

Edwin Sumarga: Hari Guru Adalah Momentum Memuliakan Jalan Ilmu dan Menguatkan Kesadaran Pendidikan sebagai Tugas Peradaban

liputan08.com Cibinong — Ketua DPC PKB Kabupaten Bogor, Edwin Sumarga, menyampaikan refleksi mendalam dalam momentum Hari Guru Nasional (HGN) 2025 yang diperingati setiap 25 November. Bertempat di Kantor DPC PKB Kabupaten Bogor, Edwin menegaskan bahwa Hari Guru bukan sekadar penghormatan seremonial, tetapi ruang kontemplasi tentang hakikat ilmu, hubungan guru–murid, serta masa depan peradaban pendidikan Kabupaten Bogor.

Dalam pandangannya, pendidikan harus ditempatkan sebagai tugas kemanusiaan dan kebudayaan, bukan semata proses administratif atau teknokratis. Guru, kata Edwin, adalah figur yang menyatukan rasionalitas, nilai, dan spiritualitas dalam perjalanan panjang membentuk generasi.

“Hari Guru adalah momentum untuk mengingat bahwa pendidikan sejatinya adalah jalan panjang pencarian makna—jalan yang hanya dapat dituntun oleh mereka yang hatinya telah ditempa oleh keikhlasan dan keteguhan. Seorang guru tidak hanya menyampaikan materi, tetapi menuntun murid menemukan dirinya, menemukan dunianya, dan menemukan Tuhannya,” ujar Edwin Sumarga, Selasa (25/11/2025).

Edwin memandang bahwa di tengah arus digitalisasi yang melaju cepat, pendidikan tidak boleh tercerabut dari akar filosofisnya: yaitu memanusiakan manusia. Dalam perspektif tasawuf, kata dia, guru adalah sosok yang memainkan peran murrabbi—pengasuh ruhani—yang menghidupkan nilai-nilai kebijaksanaan di balik ilmu pengetahuan.

“Teknologi dapat mempercepat proses belajar, tetapi hanya guru yang memiliki kehadiran batin mampu menghidupkan hikmah. Guru adalah cahaya yang tidak hanya menerangi ruang kelas, tetapi juga membuka ruang kesadaran,” ucap Edwin.

Ia menambahkan bahwa Kabupaten Bogor membutuhkan model pendidikan yang tidak hanya mengejar kecakapan teknis, tetapi juga membentuk pondasi moral dan spiritual generasi. Karena itu, peran guru perlu diperkuat melalui kebijakan yang tidak hanya memperhatikan kesejahteraan material, tetapi juga ruang pengembangan intelektual, emosional, dan spiritual.

“Pendidikan harus kembali kepada orientasi dasarnya: membentuk manusia yang utuh. Kebijakan kita harus memastikan bahwa guru memiliki waktu yang cukup untuk belajar, merenung, mengembangkan diri, dan menajamkan intuisi pendidikannya. Sebab guru tidak bisa digantikan oleh mesin—yang dapat memproses data, tetapi tidak dapat mengasuh jiwa,” tegasnya.

Edwin juga menyoroti bahwa perkembangan zaman menuntut guru untuk hadir sebagai jembatan antara ilmu modern dan kebijaksanaan tradisional. Guru menurutnya harus mampu memadukan pengetahuan empiris dengan kearifan nilai, sehingga pendidikan Kabupaten Bogor tidak hanya adaptif terhadap globalisasi, tetapi juga kokoh dalam identitas lokal.

“Dalam filsafat pendidikan, guru adalah penafsir dunia. Dalam tasawuf, guru adalah penuntun jiwa. Kedua peran ini harus menjadi fondasi transformasi pendidikan kita. Kita ingin membangun peradaban Kabupaten Bogor yang tidak sekadar cerdas, tetapi juga arif,” ungkap Edwin.

Menutup refleksinya, Edwin Sumarga mengajak seluruh guru untuk menjadikan Hari Guru sebagai momentum memperbarui niat dan komitmen, serta menghidupkan kembali kesadaran bahwa pengajaran adalah amanah yang luhur.

“Mari kita jadikan Hari Guru 2025 sebagai ruang untuk menyatukan ilmu dan keluhuran budi. Semoga seluruh guru di Kabupaten Bogor senantiasa diberi kekuatan dan kejernihan hati dalam menjalankan tugas mulianya. Karena setiap langkah guru adalah investasi peradaban, dan setiap kata mereka adalah doa bagi masa depan bangsa,” pungkasnya.

Tags:

Baca Juga

Rekomendasi lainnya