Breaking News

Di Tengah Bayang-Bayang Krisis Global, KH AY Sogir Serukan Hidup Hemat dan Kemandirian Pangan Berbasis Nilai Spiritual

Liputan08.com — Di tengah dinamika global yang kian tidak menentu akibat konflik di kawasan Timur Tengah yang berpotensi berdampak luas terhadap stabilitas energi dan ekonomi dunia, wacana penghematan bahan bakar minyak (BBM) yang disampaikan pemerintah dinilai sebagai langkah strategis dan visioner.

Hal tersebut mengemuka dalam pandangan Wakil Ketua Komisi I DPRD Kabupaten Bogor, KH Achmad Yaudin Sogir, yang menilai bahwa kesiapsiagaan nasional harus dibangun tidak hanya dari sisi kebijakan makro, tetapi juga melalui kesadaran kolektif masyarakat dalam menjalani pola hidup sederhana dan berkelanjutan.

Menurutnya, meskipun Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyebutkan bahwa ketersediaan energi nasional masih relatif aman untuk beberapa waktu ke depan, langkah antisipatif tetap perlu diperkuat guna menghadapi kemungkinan terburuk dari gejolak global.

“Kebijakan penghematan BBM bukan sekadar langkah teknis, tetapi bagian dari strategi kebangsaan dalam menjaga ketahanan energi. Kita tidak boleh lengah. Justru saat kondisi masih aman, kita harus mulai membangun pola hidup yang lebih bijak dan efisien,” ujar KH AY Sogir dalam keterangannya di Bogor Sabtu (23/3/2026).

Ia juga menyoroti pentingnya adaptasi masyarakat terhadap perubahan, termasuk mendorong penerapan Work From Home (WFH) atau kerja jarak jauh sebagai salah satu upaya mengurangi mobilitas yang tidak esensial, sekaligus efisiensi energi.

Lebih jauh, dalam nuansa bulan Syawal yang sarat makna spiritual, KH AY Sogir mengajak masyarakat untuk tidak hanya fokus pada aspek material, tetapi juga memperkuat dimensi keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT.

“Momentum Syawal adalah refleksi peningkatan kualitas diri setelah Ramadhan. Dalam situasi global yang penuh ketidakpastian, kita harus kembali kepada nilai-nilai ilahiyah, memperbanyak ibadah, dzikir, dan doa. Inilah fondasi utama ketahanan umat,” tegasnya.

Ia mengingatkan bahwa Indonesia sebagai bangsa yang dianugerahi kekayaan alam dan budaya harus terus bersyukur, dengan menjadikan konsep baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur sebagai cita-cita bersama dalam membangun peradaban yang adil, makmur, dan diridhai Allah SWT.

Tak hanya itu, KH AY Sogir juga menekankan pentingnya penguatan ketahanan pangan berbasis rumah tangga. Ia mengajak masyarakat untuk mulai memanfaatkan lahan yang ada dengan menanam berbagai komoditas pangan seperti pisang, sayur-mayur, dan umbi-umbian.

“Ketahanan pangan bukan hanya tanggung jawab negara, tetapi juga dimulai dari keluarga. Menanam adalah bentuk kemandirian. Ini langkah nyata agar kita tidak terlalu bergantung pada pasokan luar di tengah situasi global yang fluktuatif,” jelasnya.

Dalam konteks gaya hidup, ia turut mengingatkan agar masyarakat menjauhi perilaku konsumtif dan hedonistik, serta mulai membiasakan diri berbelanja sesuai kebutuhan.

“Hidup hemat bukan berarti kekurangan, tetapi bagaimana kita mengelola nikmat dengan bijak. Hindari pemborosan, kurangi perjalanan yang tidak penting, dan manfaatkan teknologi digital sebagai sarana komunikasi yang efektif,” tambahnya.

Di akhir pernyataannya, KH AY Sogir mengajak seluruh elemen masyarakat untuk meningkatkan kepedulian sosial, mempererat ukhuwah, serta saling membantu dalam menghadapi tantangan zaman.

“Solidaritas sosial adalah kekuatan bangsa. Di tengah krisis, kepedulian antar sesama harus semakin ditingkatkan. Dengan iman, ikhtiar, dan kebersamaan, insyaAllah kita mampu melewati setiap ujian,” pungkasnya.

Dengan pendekatan yang mengintegrasikan aspek kebijakan, spiritualitas, dan kemandirian ekonomi, seruan ini menjadi refleksi penting bagi masyarakat dalam menghadapi tantangan global secara lebih arif, tangguh, dan berkeadaban.

Tags: ,

Baca Juga

Rekomendasi lainnya