liputan08.com Jakarta – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang mulai berjalan di berbagai daerah di Indonesia dinilai membawa dampak luar biasa, bukan hanya terhadap peningkatan gizi masyarakat, tetapi juga terhadap penguatan ekonomi rakyat di sektor pangan.
Menurut Dr. Dian Assafri Nasa’i, S.H., M.H., dosen Universitas Pancasila Jakarta, program ini harus dipahami tidak semata-mata sebagai distribusi makanan, tetapi sebagai strategi nasional membangun ketahanan pangan dan ekonomi masyarakat dari hulu hingga hilir.
“Program MBG tidak hanya soal menyediakan makanan bergizi bagi anak-anak sekolah, tetapi juga memperkuat ekonomi rakyat. Dari petani sayur, peternak ayam, pedagang daging, hingga sopir dan relawan dapur, semua mendapatkan dampak ekonomi langsung. Ini adalah sistem ekonomi gotong royong yang menghidupkan banyak lapangan kerja,” ujar Dr. Dian Assafri Nasa’i, di Jakarta, Kamis (13/11/2025).
Ia menegaskan bahwa keberhasilan program ini sangat bergantung pada dukungan lintas sektor dan lintas jenjang pemerintahan. Karena itu, menurutnya, setiap pejabat di daerah — mulai dari gubernur, bupati, kepala dinas, camat, lurah, hingga kepala sekolah — wajib berperan aktif mendukung pelaksanaan dan distribusi program MBG di wilayahnya.
“Apabila ditemukan camat, lurah, atau kepala sekolah yang tidak mendukung atau justru menghambat pelaksanaan distribusi program MBG, maka sebaiknya mereka dievaluasi oleh bupati atau wali kota. Program nasional seperti ini tidak boleh tersendat karena kurangnya koordinasi di tingkat bawah,” tegas Dr. Dian.
Sementara itu, Badan Gizi Nasional Pusat saat dikonfirmasi terkait kebutuhan tenaga ahli dalam pelaksanaan program MBG menyampaikan bahwa saat ini kebutuhan terbesar memang diarahkan kepada sarjana ahli gizi, mengingat mereka memiliki kompetensi langsung dalam merancang dan menyeimbangkan menu bergizi.
Namun demikian, pihak Badan Gizi Nasional tidak menutup peluang bagi tenaga sarjana teknologi pangan untuk turut berkontribusi, terutama dalam aspek inovasi, pengemasan, dan pengolahan bahan makanan.
“Kami tetap membuka ruang kolaborasi bagi tenaga teknologi pangan, tetapi fokus utama tetap pada tenaga ahli gizi karena merekalah yang memahami kebutuhan nutrisi sesuai standar nasional,” kata perwakilan Badan Gizi Nasional Pusat.
Dian juga menambahkan bahwa saat ini tenaga ahli gizi menjadi profesi yang paling dibutuhkan di lapangan. Ia mengajak para sarjana gizi di seluruh Indonesia untuk bergabung dan terlibat langsung di dapur-dapur MBG di berbagai daerah.
“Silakan para sarjana ahli gizi datang dan bergabung ke dapur-dapur MBG di seluruh Indonesia. Ini bukan sekadar pekerjaan, tapi pengabdian akademik dan sosial bagi bangsa,” ujar Dian menutup pernyataannya.
Tags: MBG
Baca Juga
-
19 Jun 2026
Bupati Bogor Rudy Susmanto Lantik 32 Pejabat, Perkuat Kinerja Pemerintahan dan Pelayanan Publik
-
05 Mei 2025
Kolaborasi dengan Kavaleri, Bupati Bogor Rudy Susmanto Siap Bangun Venue Berkuda Pertama di Pakansari
-
27 Jan 2025
Evaluasi Pemilu Kabupaten Bogor: Pj. Bupati Dorong Perbaikan Pilkada 2029
-
13 Apr 2025
Dian Asafri Hadirnya Dua Menteri Tegaskan Kepengurusan PWI Hendry Ch Bangun yang Sah
-
26 Apr 2026
Rudy Susmanto Ajak Warga Jaga Tradisi di Pawai Budaya Lebaran Bojonggede
-
25 Mar 2025
Ketua Umum PWI Pusat Hendry Ch Bangun: PWI Siap Laporkan Media yang Sebarkan Berita Bohong
Rekomendasi lainnya
-
04 Sep 2026
Produk Olahan Perikanan Kabupaten Bogor Tembus Pasar Jepang
-
08 Nov 2024
Babinsa Desa Pilangsari Bantu Warga Bangun Talud untuk Cegah Longsor dan Lancarkan Aliran Air
-
30 Apr 2025
Polres Metro Jakarta Barat Ungkap 3 Kasus Curanmor, 30 Kendaraan Diamankan dalam Dua Bulan
-
23 Jun 2026
Rudy Susmanto Dorong Transportasi Rel Terintegrasi untuk Kurangi Kemacetan dan Perkuat Ekonomi Bogor
-
06 Feb 2025
Kejaksaan Agung Tahan ASB dalam Kasus Korupsi Impor Gula Negara Rugi Rp578 Miliar
-
12 Nov 2024
Prof. Dr. Asep N. Mulyana Tekankan Pentingnya Pemahaman TPPU bagi Artis dan Pengusaha untuk Menghindari Jerat Hukum


