Liputan08.com — Di tengah gempuran era digital dan masifnya arus informasi dari media sosial, ekosistem pers nasional menghadapi tantangan yang tidak ringan. Banyak media terpaksa melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK), pendapatan iklan yang menurun drastis, hingga tekanan eksistensial akibat dominasi platform digital global.
Dalam wawancara eksklusif bersama Siber24jam.com dan Liputan08.com di Kota Depok pada Minggu, 13 Juli 2025, Dr. Jufri Alkatiri, pakar komunikasi sekaligus jurnalis senior, dosen, dan penguji Uji Kompetensi Wartawan (UKW), memberikan pandangan tajam dan solusi menyeluruh atas berbagai persoalan yang melanda dunia pers Indonesia saat ini.
Dr. Jufri yang telah lebih dari dua dekade malang melintang di dunia jurnalisme dan pendidikan mengatakan bahwa krisis yang terjadi bukan hanya persoalan ekonomi, melainkan juga berkaitan erat dengan hilangnya kedaulatan informasi bangsa.

“Hari ini, sebagian besar pendapatan iklan digital kita justru diserap oleh raksasa platform media sosial global. Media lokal kita justru megap-megap. Pemerintah seharusnya tidak hanya hadir dalam bentuk wacana, tapi memberikan kebijakan konkret,” ujarnya usai mengajar .
Negara Harus Hadir dengan Kebijakan yang Memihak Media Lokal
Menurutnya, negara memiliki tanggung jawab historis dan konstitusional dalam menjaga eksistensi media nasional sebagai pilar keempat demokrasi. Ia menekankan pentingnya kebijakan fiskal dan digital yang melindungi serta memberdayakan media lokal.
“Bukan cukup hanya dengan iklan pemerintah atau pelatihan sesekali. Harus ada regulasi pembagian pendapatan yang adil dari platform global. Negara seperti Australia dan Kanada sudah mulai memaksa platform besar berbagi keuntungan dengan media lokal. Kita pun bisa,” tegasnya.
Media Tidak Bisa Lagi Berpikir Konvensional
Lebih lanjut, Dr. Jufri mengingatkan bahwa media juga harus melakukan introspeksi dan berbenah secara menyeluruh. Perubahan pola konsumsi informasi telah bergeser ke digital yang dikendalikan algoritma.
“Transformasi tidak cukup hanya dengan berpindah ke platform digital. Paradigmanya juga harus berubah. Media harus menjadi multiplatform yang kreatif, strategis, dan mampu menjangkau generasi muda dengan konten yang cerdas dan bermakna,” jelasnya.
Generasi Z dan Milenial: Harapan Masa Depan Jurnalisme Indonesia
Dr. Jufri melihat generasi muda Indonesia, khususnya generasi Z dan milenial, memiliki potensi luar biasa dalam dunia jurnalisme. Menurutnya, mereka bahkan jauh lebih adaptif terhadap teknologi dibandingkan generasi sebelumnya di Asia Tenggara.
“Saya melihat sendiri dari mahasiswa saya di kampus maupun peserta UKW muda, mereka sangat cepat tanggap terhadap teknologi, cerdas, dan kritis. Indonesia berpotensi besar menjadi pemimpin di bidang media dan komunikasi di kawasan ini,” tutur dosen Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, IISIP, dan sejumlah perguruan tinggi swasta tersebut.
Namun, ia menegaskan bahwa potensi besar tersebut harus diiringi dengan pembinaan yang tepat agar tidak melenceng dari prinsip etika jurnalistik.
“Mereka butuh mentor. Kita harus menciptakan ekosistem jurnalistik yang sehat agar mereka tumbuh menjadi jurnalis yang tangguh, beretika, dan profesional,” tambahnya.
UKW: Lebih dari Sekadar Ujian
Sebagai penguji UKW, Dr. Jufri memandang UKW bukan hanya sebagai alat ukur kompetensi teknis, melainkan momen edukatif dan reflektif bagi para jurnalis.
“UKW bukan sekadar administrasi. Ini adalah momentum untuk meluruskan kembali misi jurnalistik. Wartawan itu profesi mulia. Ia pelayan publik dan penjaga akal sehat bangsa. Maka proses uji kompetensi harus menjadi sarana penguatan integritas,” tegasnya.
Bangun Sistem Media Nasional yang Mandiri
Ia juga menyoroti ketergantungan Indonesia pada platform digital asing yang menurutnya sangat merugikan dari sisi ekonomi dan kedaulatan informasi.
“Sudah saatnya kita membangun ekosistem digital kita sendiri. Jangan terus menerus menjadi penonton dan penyumbang konten tanpa mendapatkan apa-apa. Konten kita, harusnya mendatangkan manfaat untuk bangsa kita sendiri,” tandasnya.
Kolaborasi Jadi Kunci Kebangkitan Media Nasional
Menutup wawancara, Dr. Jufri mengajak seluruh elemen bangsa untuk bergerak bersama menyelamatkan masa depan media nasional. Ia menegaskan bahwa kebangkitan media tidak bisa diserahkan hanya pada satu pihak.
“Ini harus menjadi gerakan bersama. Pemerintah sebagai fasilitator, media sebagai inovator, akademisi sebagai pembina, dan masyarakat sebagai penjaga. Hanya dengan kolaborasi, kita bisa menjaga marwah dan masa depan pers Indonesia,” pungkasnya.
Reporter: Redaksi Siber24jam.com & Liputan08.com
Editor: Zarkasi Tamlihan
Tags: dan Harapan untuk Jurnalis Generasi Z, Tanggung Jawab Negara, Wawancara Eksklusif Dr. Jufri Alkatiri: Krisis Media
Baca Juga
-
03 Mei 2026
Royal Enfield Gaspol Kepercayaan Konsumen: Service Campaign UCE Nusantara di Antasari Tawarkan Durabilitas Tangguh Tanpa Cemas
-
16 Des 2025
DWP Kabupaten Bogor Tingkatkan Etika dan Profesionalisme Anggota
-
15 Apr 2025
Sembilan Pejabat Pertamina dan ESDM Diperiksa Terkait Dugaan Korupsi Minyak Mentah
-
08 Agu 2025
Pemkab Bogor Gencar Lakukan Gerakan Pembagian Bendera Merah Putih, Ajak Masyarakat Maknai HUT RI
-
09 Mei 2025
Bogor Run 2025 Siap Digelar, Targetkan Jadi Magnet Wisata dan Lahirkan World Marathon
-
25 Mar 2025
Komisi IV DPRD Kota Bogor Kritik Permohonan THR dan Gaji ke 13 oleh Petinggi RSUD Etika dan Prioritas Anggaran Dipertanyakan
Rekomendasi lainnya
-
15 Jan 2026
Ketua DPRD Bogor: KKMP Pakansari Jadi Simbol Penguatan Ekonomi Kerakyatan
-
09 Agu 2025
Raih 10 Medali di FORNAS VII, Atlet Bogor Diganjar Penghargaan oleh Bupati Rudy Susmanto
-
23 Apr 2026
Gus Sholeh Gelar Pengajian Akbar di Kota Wisata Cibubur, Santuni 400 Jamaah sebagai Wujud Amanah Ilahi
-
10 Okt 2024
Pj. Bupati Bogor Tinjau Empat Kecamatan: Fokus Stunting, Inflasi, dan Kemiskinan
-
30 Jun 2025
Bupati Bogor Tinjau Progres Masjid Raya: Jadi Pusat Layanan Haji dan Ikon Baru Kabupaten
-
14 Feb 2025
Tim Tabur Kejati Sumsel Berhasil Tangkap Buronan Kasus Pencurian di Morowali


